Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Rasulullah SAW Memuji Negeri Yaman? Ini Sejarahnya

Kompas.com, 9 April 2026, 16:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Ada satu negeri yang letaknya jauh dari Madinah, tetapi justru begitu dekat di hati Rasulullah SAW. Negeri itu adalah Yaman.

Dalam berbagai kesempatan, Nabi Muhammad SAW tidak hanya menyebutnya, tetapi juga memujinya dengan ungkapan yang jarang diberikan kepada wilayah lain.

Dari sanalah lahir ungkapan yang terus dikenang hingga hari ini, iman dan hikmah berasal dari Yaman.

Namun, di balik pujian itu, tersimpan sejarah panjang, kisah spiritual, dan jejak peradaban yang menjadikan Yaman bukan sekadar wilayah geografis, melainkan ruang makna dalam perjalanan Islam.

Baca juga: Sejarah Jembatan King Fahd: Nadi Persaudaraan Saudi-Bahrain Sejak 1986

Negeri yang Dipuji Langsung oleh Rasulullah

Dalam sejumlah hadis sahih, Rasulullah SAW menggambarkan karakter penduduk Yaman dengan bahasa yang sangat lembut.

Beliau bersabda bahwa penduduk Yaman adalah orang-orang yang paling halus hatinya, paling lembut perasaannya, serta memiliki kedalaman iman dan pemahaman agama.

Dalam riwayat yang dinukil dari sahabat seperti Abu Hurairah dan Jubair bin Muth’im, Nabi bahkan menyebut mereka sebagai “sebaik-baik penduduk bumi”.

Pujian ini bukan tanpa alasan. Dalam konteks masyarakat Arab yang keras dan penuh konflik pada masa itu, kehadiran orang-orang Yaman membawa nuansa berbeda, tenang, bijak, dan penuh ketulusan.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi, hadis tentang keutamaan Yaman ditempatkan dalam bab tentang akhlak dan kelembutan hati.

Ini menunjukkan bahwa kelebihan utama negeri tersebut bukan kekuatan fisik atau politik, melainkan kualitas spiritual.

“Iman dan Hikmah di Yaman”: Makna yang Lebih Dalam

Ungkapan Nabi, “Iman itu di Yaman, dan hikmah itu di Yaman,” sering kali dipahami secara sederhana sebagai pujian geografis.

Padahal, menurut banyak ulama, maknanya jauh lebih luas.

Dalam buku Fiqh al-Sirah karya Muhammad al-Ghazali, dijelaskan bahwa yang dimaksud bukan sekadar lokasi, melainkan karakter masyarakatnya.

Yaman menjadi simbol dari kelembutan iman, kesungguhan dalam menuntut ilmu, serta kedalaman dalam memahami agama.

Karakter ini terlihat ketika sekelompok orang Yaman datang ke Madinah. Mereka tidak hanya masuk Islam, tetapi juga meminta agar diutus seorang sahabat untuk mengajarkan agama kepada mereka.

Permintaan ini mencerminkan sesuatu yang mendasar: semangat belajar yang tinggi. Rasulullah SAW pun mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Baca juga: Sejarah Iran: Dari Kejayaan Persia hingga Ditaklukkan Islam di Nahavand

Uwais al-Qarni: Wali yang Dirindukan Nabi

Salah satu kisah paling menyentuh dari Yaman adalah tentang Uwais al-Qarni.

Ia bukan sahabat Nabi dalam pengertian formal, karena tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW. Namun, justru namanya disebut secara khusus oleh Nabi di hadapan para sahabat.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyebut Uwais sebagai seorang yang memiliki doa mustajab. Bahkan, beliau menganjurkan para sahabat untuk meminta doa darinya jika bertemu.

Keistimewaan Uwais bukan karena kekuasaan atau ilmu yang luas, melainkan karena baktinya kepada ibunya. Ia memilih tidak pergi ke Madinah demi merawat sang ibu, meski sangat rindu bertemu Nabi.

Dalam buku Hilyat al-Auliya karya Abu Nu'aim al-Asfahani, kisah Uwais digambarkan sebagai contoh puncak keikhlasan. Ia dikenal di langit, meski tidak dikenal di bumi.

Jejak Peradaban Kuno: Kaum Saba dalam Al-Qur’an

Yaman juga menyimpan sejarah jauh sebelum Islam datang. Salah satu yang paling terkenal adalah kaum Saba, yang diabadikan dalam Surah Saba.

Kaum ini dikenal sebagai masyarakat yang makmur, dengan sistem irigasi canggih dan kehidupan yang sejahtera.

Namun, kemakmuran itu berubah menjadi kehancuran ketika mereka berpaling dari ketaatan kepada Allah.

Dalam buku Stories of the Prophets karya Ibn Kathir, kisah Saba menjadi pelajaran penting bahwa kemajuan materi tanpa iman akan berujung pada kehancuran.

Banjir besar yang menghancurkan bendungan Ma’rib menjadi simbol bagaimana sebuah peradaban bisa runtuh ketika kehilangan nilai spiritual.

Akar Kaum Ansar: Hubungan Yaman dan Madinah

Tidak banyak yang menyadari bahwa hubungan Yaman dengan Islam awal juga terhubung melalui kaum Ansar.

Dua suku besar di Madinah, Aus dan Khazraj, memiliki akar dari Yaman. Mereka adalah keturunan bangsa yang bermigrasi setelah runtuhnya peradaban Saba.

Dalam buku The Sealed Nectar karya Safiur Rahman Mubarakpuri, dijelaskan bahwa peran Ansar sangat krusial dalam sejarah Islam. Mereka menjadi penolong Rasulullah SAW dan kaum Muhajirin saat hijrah ke Madinah.

Dengan demikian, kontribusi Yaman terhadap Islam tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga historis dan sosial.

Baca juga: 6 Pahlawan Muslimah Indonesia dan Perannya dalam Sejarah Kemerdekaan

Tradisi dan Akhlak: Dari Jabat Tangan hingga Kelembutan Hati

Rasulullah SAW juga menyebut bahwa penduduk Yaman adalah pelopor tradisi berjabat tangan.

Hal ini tampak sederhana, tetapi dalam perspektif Islam, berjabat tangan memiliki makna mendalam: menghapus dosa dan mempererat ukhuwah.

Dalam buku Al-Adab al-Mufrad karya Imam Bukhari, dijelaskan bahwa akhlak dalam interaksi sosial merupakan bagian penting dari iman.

Dan di sinilah Yaman kembali menonjol, bukan hanya dalam aspek teologis, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Negeri yang Didoakan Nabi

Kedekatan Rasulullah SAW dengan Yaman tidak hanya terlihat dari pujian, tetapi juga dari doa.

Beliau berdoa: “Ya Allah, berkahilah negeri Syam kami dan negeri Yaman kami.”

Doa ini menunjukkan bahwa Yaman memiliki posisi khusus dalam pandangan Nabi. Bahkan dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa penduduk Yaman akan menjadi yang pertama mendapatkan minum dari telaga Nabi di akhirat.

Hadis ini memberikan gambaran betapa besar kemuliaan yang diberikan kepada mereka yang menjaga iman dan akhlak.

Yaman dalam Perspektif Akhir Zaman

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga menyebut Yaman dalam konteks akhir zaman.

Ketika umat Islam menghadapi masa sulit, beliau menyebut Syam sebagai pilihan utama dan Yaman sebagai alternatif yang diberkahi.

Hal ini menunjukkan bahwa Yaman bukan hanya penting dalam sejarah masa lalu, tetapi juga memiliki relevansi dalam narasi masa depan umat Islam.

Antara Sejarah, Spiritualitas, dan Pelajaran

Yaman bukan sekadar negeri. Ia adalah simbol. Simbol tentang kelembutan hati di tengah kerasnya dunia.

Simbol tentang iman yang tumbuh dalam kesederhanaan. Dan simbol tentang bagaimana akhlak bisa menjadi jalan menuju kemuliaan.

Dari kisah Uwais al-Qarni hingga kaum Saba, dari akar Ansar hingga doa Nabi, semua menunjukkan satu benang merah, bahwa keistimewaan tidak selalu terletak pada kekuatan, tetapi pada ketulusan.

Dalam dunia modern yang sering kali menilai segalanya dari materi, kisah Yaman mengingatkan bahwa ada nilai lain yang jauh lebih penting.

Nilai yang pernah dipuji langsung oleh Rasulullah SAW. Dan mungkin, di situlah letak makna terdalamnya, bahwa iman, hikmah, dan kelembutan hati adalah warisan terbesar yang bisa dimiliki manusia.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar