KOMPAS.com – Menunaikan ibadah haji merupakan puncak perjalanan spiritual seorang Muslim.
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah di Makkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina, jamaah haji kembali ke Tanah Air dengan harapan memperoleh predikat haji mabrur.
Namun, para ulama mengingatkan bahwa kemabruran haji tidak hanya diukur dari kesempurnaan ritual selama berada di Tanah Suci.
Ukuran yang paling nyata justru terlihat setelah seseorang pulang ke rumah dan kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Seamless Corridor bagi Jamaah Haji 2026, Deteksi AI Pakai Wajah Tanpa Tunjukkan Paspor dan Cap
Apakah ibadahnya semakin baik? Apakah akhlaknya menjadi lebih mulia? Apakah hubungannya dengan Allah dan sesama manusia semakin berkualitas?
Karena itulah, Islam mengajarkan sejumlah amalan sunnah yang dianjurkan dilakukan setelah menunaikan ibadah haji.
Amalan-amalan tersebut bukan sekadar pelengkap perjalanan, melainkan sarana untuk menjaga semangat ibadah dan mempertahankan nilai-nilai yang diperoleh selama berada di Tanah Suci.
Lalu, apa saja amalan sunnah yang dianjurkan setelah pulang haji?
Banyak orang menganggap ibadah haji selesai ketika jamaah meninggalkan Makkah dan kembali ke kampung halaman. Padahal, dalam pandangan para ulama, fase setelah haji justru menjadi ujian sesungguhnya.
Dalam kitab Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu tanda diterimanya amal ibadah adalah munculnya perubahan positif setelah ibadah tersebut dilakukan.
Artinya, seorang haji yang mendapatkan keberkahan hajinya akan terdorong menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT, lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli terhadap sesama.
Senada dengan itu, Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menerangkan bahwa Rasulullah SAW memberikan sejumlah tuntunan kepada para musafir, termasuk jamaah haji, ketika kembali dari perjalanan mereka.
Tuntunan tersebut mengandung hikmah spiritual, sosial, dan psikologis yang masih relevan hingga saat ini.
Baca juga: Doa Orang Pulang Haji Diyakini Makbul, Sampai Kapan Keutamaannya?
Salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW adalah memperbanyak takbir dan membaca doa ketika kembali dari perjalanan.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Nabi SAW membaca doa yang berisi pengakuan atas keesaan Allah, rasa syukur, serta pernyataan taubat setelah menyelesaikan perjalanan.
Doa tersebut menunjukkan bahwa perjalanan haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan menuju penyucian jiwa.
Para ulama menjelaskan bahwa membaca doa saat pulang menjadi simbol pengakuan bahwa keberhasilan menjalankan ibadah haji semata-mata karena pertolongan Allah SWT.
Islam menganjurkan jamaah yang telah menyelesaikan urusan hajinya agar tidak berlama-lama tinggal tanpa keperluan.
Dalam kitab Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq disebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan seseorang untuk segera kembali kepada keluarganya setelah urusannya selesai.
Hadis riwayat Abu Hurairah RA menyebutkan bahwa perjalanan merupakan bagian dari kesulitan yang dapat mengurangi kenyamanan seseorang dalam makan, minum, maupun beristirahat.
Karena itulah, ketika tujuan perjalanan telah tercapai, seseorang dianjurkan segera kembali ke rumah.
Bagi jamaah haji, anjuran ini mengandung pesan penting tentang keseimbangan antara ibadah dan tanggung jawab terhadap keluarga.
Amalan berikutnya yang sering luput dari perhatian adalah memberi kabar kepada keluarga sebelum sampai di rumah.
Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak menyukai kedatangan mendadak yang dapat membuat keluarga terkejut atau tidak siap menyambut anggota keluarganya yang baru pulang.
Dalam konteks modern, sunnah ini dapat dilakukan dengan cara sederhana, seperti menghubungi keluarga melalui telepon atau pesan singkat.
Selain menunjukkan adab yang baik, kebiasaan ini juga mencerminkan perhatian dan kasih sayang terhadap keluarga.
Baca juga: Sebanyak 5.329 Jemaah Haji Khusus Indonesia Sudah Pulang ke Tanah Air
Saat mulai melihat daerah tempat tinggalnya, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk memanjatkan doa.
Doa tersebut berisi permohonan agar Allah SWT memberikan keberkahan kepada tempat tinggal, penduduk, dan seluruh kebaikan yang ada di dalamnya.
Dalam buku Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa doa-doa perjalanan memiliki tujuan untuk memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah dalam setiap fase kehidupannya, termasuk ketika kembali dari perjalanan panjang.
Doa ini juga mengajarkan pentingnya mendoakan lingkungan tempat tinggal agar senantiasa dipenuhi keberkahan dan dijauhkan dari berbagai keburukan.
Rasulullah SAW juga memberikan adab khusus ketika kembali dari perjalanan jauh.
Dalam hadis riwayat Muslim dari Anas bin Malik RA disebutkan bahwa Nabi SAW tidak mendatangi keluarganya pada larut malam setelah safar. Beliau memilih tiba pada waktu pagi atau sore hari.
Para ulama menjelaskan bahwa anjuran ini bertujuan menjaga kenyamanan keluarga dan menghindari situasi yang dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Meski kondisi transportasi modern berbeda dengan masa lalu, nilai yang terkandung dalam sunnah ini tetap relevan, yaitu menjaga etika dan kenyamanan keluarga saat kembali dari perjalanan.
Di antara sunnah yang sangat dianjurkan setelah tiba di kampung halaman adalah melaksanakan shalat dua rakaat.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW terlebih dahulu menuju masjid dan menunaikan shalat dua rakaat sebelum pulang ke rumah.
Menurut Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, shalat ini merupakan bentuk rasa syukur atas keselamatan selama perjalanan sekaligus sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Amalan sederhana ini mengajarkan bahwa setiap nikmat, termasuk keselamatan dalam perjalanan haji, patut disyukuri melalui ibadah.
Inilah amalan yang paling penting sekaligus menjadi inti dari seluruh perjalanan haji.
Tidak sedikit ulama yang menyatakan bahwa tanda utama haji mabrur bukan terletak pada gelar yang disandang, melainkan pada perubahan perilaku setelah kembali dari Tanah Suci.
Dalam kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ibadah yang diterima akan melahirkan ketaatan berikutnya. Sebaliknya, jika seseorang kembali kepada kebiasaan buruk setelah beribadah, maka ia perlu melakukan introspeksi terhadap kualitas amalnya.
Karena itu, seorang haji dianjurkan untuk:
Perubahan-perubahan inilah yang menjadi cerminan nyata kemabruran haji.
Baca juga: Seamless Corridor bagi Jamaah Haji 2026, Deteksi AI Pakai Wajah Tanpa Tunjukkan Paspor dan Cap
Banyak jamaah bertanya bagaimana cara mengetahui apakah hajinya diterima Allah SWT. Dalam kitab Lathaif Al-Ma'arif, Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa tanda diterimanya amal adalah ketika seseorang diberi taufik untuk melakukan amal saleh berikutnya.
Sementara itu, Abdullah bin Mubarak pernah menyebut bahwa haji mabrur ditandai dengan bertambahnya sikap zuhud terhadap dunia dan meningkatnya kecintaan kepada akhirat.
Dengan kata lain, haji yang mabrur akan meninggalkan jejak yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang menganggap kepulangan dari Tanah Suci sebagai akhir dari perjalanan haji. Padahal, para ulama justru menyebutnya sebagai awal dari perjalanan spiritual yang baru.
Selama di Makkah dan Madinah, seorang Muslim ditempa dengan kesabaran, keikhlasan, pengorbanan, serta kedisiplinan dalam beribadah. Nilai-nilai tersebut seharusnya tetap hidup ketika ia kembali ke tengah masyarakat.
Oleh karena itu, menjaga amalan sunnah setelah pulang haji bukan sekadar mengikuti tradisi, melainkan bagian dari upaya mempertahankan cahaya spiritual yang telah diperoleh selama menjalankan rukun Islam kelima.
Pada akhirnya, haji yang diterima Allah SWT bukan hanya terlihat dari perjalanan ke Tanah Suci, tetapi juga dari bagaimana seseorang menjalani hidup setelah kembali darinya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang