Editor
KOMPAS.com - Puasa merupakan salah satu ibadah yang memiliki banyak keutamaan dalam ajaran Islam.
Namun, tidak semua bentuk puasa disyariatkan untuk dikerjakan oleh umat Islam. Ada beberapa jenis puasa yang justru dilarang karena bertentangan dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Dikutip dari laman Muhammadiyah, Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Syamsul Hidayat menjelaskan jenis-jenis puasa yang diharamkan sekaligus mengingatkan umat Islam untuk mengamalkan puasa yang benar-benar disyariatkan.
Baca juga: Tak Bisa Puasa Asyura karena Haid? Muslimah Tetap Bisa Raih Keutamaannya dengan 4 Amalan Ini
Syamsul Hidayat menyebutkan terdapat sejumlah puasa yang tidak disyariatkan (ghair masyru'), yaitu:
Selain menjelaskan puasa yang dilarang, Syamsul Hidayat juga menyebutkan sejumlah contoh puasa sunnah yang disyariatkan (masyru'), yakni:
Menurutnya, puasa sunnah memiliki banyak keutamaan, di antaranya menjadi perisai dari api neraka, mendapatkan doa dari para malaikat, serta menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa.
Syamsul Hidayat mengimbau umat Islam untuk menjalankan puasa yang memang telah disyariatkan sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi SAW.
Terkait pelaksanaannya, ia menjelaskan bahwa tata cara puasa sunnah pada dasarnya sama dengan puasa wajib. Perbedaannya terletak pada waktu berniat.
Pada puasa sunnah, niat dapat dilakukan sebelum fajar hingga sebelum tengah hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
“Perbedaannya dengan puasa wajib ialah kalau puasa wajib harus sudah berniat puasa sebelum fajar, kalau puasa sunah niatnya bisa sebelum fajar sampai tengah hari atau dzuhur dengan catatan belum melakukan perbuatan yang membatalkan puasa,” Syamsul Hidayat dalam kajian Tarjih yang diselenggarakan Masjid Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Sabtu (16/2022).
Syamsul Hidayat menegaskan bahwa esensi puasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus, tetapi juga membentuk ketakwaan dengan menjauhi segala bentuk maksiat dan memperbanyak amal saleh.
“Perlu dicamkan bahwa puasa yang sungguh-sungguh bukan sekadar perbuatan fisik menahan lapar dan haus, melainkan didasarkan pada komitmen otentik yang kuat untuk meninggalkan segala perbuatan dosa dan maksiat, sekaligus menjadi pendorong untuk berbuat baik,” ujar dosen studi Islam UMS ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang