Penulis
KOMPAS.com – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur'an dan Sains Nurani, KH Ilyas Marwal, menegaskan bahwa para penghafal Al-Qur'an tidak boleh membatasi cita-cita hanya menjadi guru agama atau imam masjid.
Menurutnya, hafiz Al-Qur'an justru harus tampil menjadi sumber daya manusia unggul yang mampu berkiprah di berbagai bidang, mulai dari dunia kesehatan, sains, teknologi hingga kepemimpinan nasional.
Hal itu disampaikan KH Ilyas Marwal dalam sambutannya pada Wisuda Akbar Program I'dadi, Tahsin, dan Tahfidz Pondok Pesantren Al-Qur'an dan Sains Nurani Tahun Ajaran 2025–2026 di Ronatama Convention Hall, Depok, Jawa Barat, Sabtu (11/7/2026), yang turut dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar.
"Kalian jangan hanya menganggap tugas penghafal Al-Qur'an hanya mengisi masjid. Kalian bisa menjadi dokter, ilmuwan, teknokrat, bahkan menjadi pemimpin bangsa ini," kata KH Ilyas di hadapan ratusan santri dan wali santri.
Baca juga: Kemenag Ungkap Potensi 10 Juta Santri sebagai Kekuatan SDM Indonesia
Menurutnya, pendidikan berbasis Al-Qur'an justru menjadi fondasi terbaik untuk melahirkan generasi yang memiliki kompetensi akademik sekaligus karakter yang kuat.
KH Ilyas yang juga Ketua DPP Persaudaraan dan Kemitraan Pesantren (PK-Tren) mengatakan keputusan orang tua yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pendidikan utama anak merupakan langkah yang sangat tepat.
"Orang tua yang memilih memulai pendidikan anak dengan Al-Qur'an sebenarnya telah mengambil pilihan yang cerdas," ujarnya.
Ia menjelaskan, seorang penghafal Al-Qur'an idealnya memiliki tiga kecerdasan sekaligus, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.
Menurutnya, ketiga aspek tersebut menjadi modal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Dalam kesempatan itu, KH Ilyas juga memperkenalkan Menteri Agama Nasaruddin Umar sebagai sosok inspiratif bagi para santri.
Ia menilai Menag merupakan contoh nyata seorang penghafal dan pecinta Al-Qur'an yang mampu menempuh pendidikan tinggi hingga tingkat doktoral, sekaligus dipercaya memimpin lembaga keagamaan dan pemerintahan.
"Anak-anak harus bangga hari ini karena dihadiri tokoh inspirasi Al-Qur'an dan pesantren. Beliau menunjukkan bahwa penghafal Al-Qur'an dapat memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual sekaligus," katanya.
KH Ilyas juga mengingatkan para santri agar terus melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, termasuk hingga jenjang sarjana, magister, doktor, bahkan belajar ke luar negeri.
"Saya ingin kalian melanjutkan pendidikan S1, S2, S3, belajar ke Amerika, Eropa, Asia, maupun Timur Tengah. Teruslah belajar agar mampu memberi manfaat yang lebih luas bagi umat dan bangsa," ujarnya.
KH Ilyas mengungkapkan Pondok Pesantren Al-Qur'an dan Sains Nurani terus memperluas kerja sama internasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan santri.
Ia menyebut salah satunya melalui kemitraan dengan lembaga pendidikan Al-Qur'an di Maroko yang dikenal sebagai salah satu pusat lahirnya para penghafal Al-Qur'an dunia.
Baca juga: Menag: Jangan Belajar Al-Quran Hanya untuk Ilmu, Tapi untuk Mendekat kepada Allah
Menurutnya, sejumlah santri Nurani telah melanjutkan pendidikan ke lembaga tersebut sebagai bagian dari upaya mencetak generasi Qurani yang mampu bersaing di tingkat internasional.
"Alhamdulillah, santri-santri kita sudah ada yang belajar di sana. Harapannya mereka kembali membawa ilmu dan menjadi generasi yang bermanfaat bagi bangsa dan umat," katanya.
KH Ilyas berharap para wisudawan tidak berhenti setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur'an, tetapi terus mengembangkan kapasitas diri sehingga mampu menjadi profesional di berbagai bidang tanpa meninggalkan nilai-nilai Al-Qur'an sebagai pedoman hidup.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang