Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Abdul Mu’ti: Peran Muhammadiyah Wujudkan Cita-Cita Kemerdekaan Berlandaskan Pancasila

Kompas.com, 10 Agustus 2026, 21:59 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Muhammadiyah memandang kemerdekaan Indonesia bukan sebagai tujuan akhir, melainkan amanah untuk terus mewujudkan cita-cita bangsa.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menegaskan, perjuangan mewujudkan cita-cita kemerdekaan dilakukan dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa.

Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Indonesia Negara Pancasila Darul Ahdi Wasy Syahadah yang dirumuskan dalam Muktamar ke-47 Muhammadiyah pada 2015 di Makassar.

Baca juga: Hukum Mencium Bendera Merah Putih dalam Islam, Apakah Boleh? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah

Bagi Muhammadiyah, Indonesia yang memiliki keberagaman telah disepakati melalui konsensus sebagai negara persatuan.

Namun, persatuan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai upaya menjaga keutuhan bangsa, tetapi juga sebagai landasan untuk mendorong Indonesia menjadi negara yang maju berdasarkan Pancasila.

Baca juga: Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan

Muhammadiyah dan Tanggung Jawab Terhadap Bangsa

Abdul Mu’ti menjelaskan, konsep Indonesia Negara Pancasila Darul Ahdi Wasy Syahadah menjadi salah satu pijakan Muhammadiyah dalam menjalankan tanggung jawabnya terhadap bangsa.

“Karena itu Muhammadiyah memandang penting Pancasila sebagai dasar negara itu sebagai satu bentuk tanggung jawab sejarah. Muhammadiyah ikut melahirkan Indonesia dan karena itu maka Muhammadiyah harus bertanggung jawab untuk Indonesia bisa lebih maju lagi,” kata Mu’ti pada Ahad (9/8/2026) dalam Pengajian PDM Kabupaten Malang.

Konsep Darul Ahdi Wasy Syahadah dirumuskan dalam Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar pada 2015.

Konsep tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara hasil kesepakatan bersama sekaligus ruang untuk membuktikan kontribusi nyata dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Peran Muhammadiyah dalam Perjuangan Kemerdekaan

Peran Muhammadiyah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia telah dilakukan sejak sebelum negara ini merdeka. Pada masa tersebut, Muhammadiyah banyak memberikan kader terbaiknya untuk berjuang melalui jalur fisik maupun pemikiran.

Sejumlah kader Muhammadiyah juga mengambil peran melalui jalur politik, di antaranya Presiden Sukarno, Ki Bagus Hadikusumo, dan tokoh lainnya.

Muhammadiyah sejak awal, bahkan sebelum Indonesia merdeka, telah terlibat dalam berbagai upaya untuk memajukan kehidupan bangsa. Setelah kemerdekaan diraih, peran tersebut dilanjutkan dengan ikut mewujudkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia.

“Kita menyebutnya dengan negara pembuktian atau darus syahadah. Sehingga tugas kita berikutnya adalah bagaimana kita mewujudkan cita-cita kemerdekaan,” imbuh Mendikdasmen RI ini.

Mu’ti menjelaskan, cita-cita kemerdekaan Indonesia tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Tujuan tersebut mencakup upaya melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta memajukan kesejahteraan umum.

Selain itu, negara juga memiliki tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Menurut Mu’ti, berbagai usaha untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut menjadi bagian dari kontribusi Muhammadiyah. Salah satu bidang yang dinilai paling menonjol adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Muhammadiyah dan Upaya Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Mu’ti mengaitkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa dengan konsep ulul albab yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Menurutnya, konsep tersebut berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

“Ulul albab itu kalau kita baca di dalam Ali Imran (ayat) 190-191 adalah mereka yang memiliki kemampuan berpikir yang kritis, kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dengannya dia bisa belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan,” ungkap Mu’ti.

Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa karena itu tidak hanya berkaitan dengan pendidikan formal.

Pengembangan kemampuan berpikir kritis dan ilmu pengetahuan juga menjadi bagian dari usaha Muhammadiyah untuk mengisi kemerdekaan dan mewujudkan cita-cita bangsa.

Kontribusi Muhammadiyah dalam Mengisi Kemerdekaan

Konsep Darul Ahdi Wasy Syahadah menegaskan bahwa setelah kemerdekaan Indonesia diraih, terdapat tanggung jawab untuk terus mengisi dan membuktikan makna kemerdekaan melalui kontribusi nyata.

Bagi Muhammadiyah, kontribusi tersebut diwujudkan melalui berbagai bidang, terutama pendidikan dan pencerdasan kehidupan bangsa.

Dengan demikian, kemerdekaan tidak hanya diperingati sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga menjadi amanah untuk membangun Indonesia yang lebih maju, sejahtera, dan berkeadilan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Abdul Mu’ti: Peran Muhammadiyah Wujudkan Cita-Cita Kemerdekaan Berlandaskan Pancasila
Abdul Mu’ti: Peran Muhammadiyah Wujudkan Cita-Cita Kemerdekaan Berlandaskan Pancasila
Aktual
Contoh Pidato Islami Upacara 17 Agustus 2026: Kemerdekaan Adalah Amanah
Contoh Pidato Islami Upacara 17 Agustus 2026: Kemerdekaan Adalah Amanah
Aktual
Hukum Mencium Bendera Merah Putih dalam Islam, Apakah Boleh? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Hukum Mencium Bendera Merah Putih dalam Islam, Apakah Boleh? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Tata Cara Sholat Hajat Lidaf’il Bala’ untuk Tolak Bala dan Doa Rebo Wekasan Lengkap
Tata Cara Sholat Hajat Lidaf’il Bala’ untuk Tolak Bala dan Doa Rebo Wekasan Lengkap
Doa dan Niat
Istana Menghormati Marwah Ulama
Istana Menghormati Marwah Ulama
Aktual
Doa Rebo Wekasan untuk Tolak Bala Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya
Doa Rebo Wekasan untuk Tolak Bala Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Contoh Teks Doa Upacara HUT RI ke-81 pada 17 Agustus 2026
Contoh Teks Doa Upacara HUT RI ke-81 pada 17 Agustus 2026
Doa dan Niat
Doa Malam Tirakatan 17 Agustus 2026 Singkat: Arab, Latin, dan Artinya
Doa Malam Tirakatan 17 Agustus 2026 Singkat: Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Mad Wajib Muttasil: Pengertian, Ciri, Contoh, dan Cara Membacanya
Mad Wajib Muttasil: Pengertian, Ciri, Contoh, dan Cara Membacanya
Doa dan Niat
Semoga Cepat Sembuh dalam Islam: Ucapan, Doa, dan Adab Menjenguk Orang Sakit
Semoga Cepat Sembuh dalam Islam: Ucapan, Doa, dan Adab Menjenguk Orang Sakit
Doa dan Niat
50.000 Masjid dan Musala Serentak Dibersihkan, dari Toilet hingga Selokan
50.000 Masjid dan Musala Serentak Dibersihkan, dari Toilet hingga Selokan
Aktual
Dari Kepiting hingga Mangrove, Kemenag Bidik Golo Sepang Jadi Kampung Zakat
Dari Kepiting hingga Mangrove, Kemenag Bidik Golo Sepang Jadi Kampung Zakat
Aktual
Muktamar Ke-35 di Jombang dan Blueprint Abad Kedua: Pesantren Transformatif dan Penyiapan SDM Unggul
Muktamar Ke-35 di Jombang dan Blueprint Abad Kedua: Pesantren Transformatif dan Penyiapan SDM Unggul
Aktual
Ada Mushaf Berusia 3 Abad di Kaki Gunung Hira, Begini Keistimewaannya
Ada Mushaf Berusia 3 Abad di Kaki Gunung Hira, Begini Keistimewaannya
Aktual
Tak Bisa Langsung Tentukan Halal-Haram, Ini 6 Tahapan Penetapan Fatwa
Tak Bisa Langsung Tentukan Halal-Haram, Ini 6 Tahapan Penetapan Fatwa
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar