Editor
BANTUL, KOMPAS.com – Di tengah ramainya perbincangan soal kesehatan mental belakangan ini, ajaran Islam sejatinya telah lama menegaskan bahwa manusia tidak dapat dipandang dari sisi fisik semata, melainkan juga terdiri dari unsur ruh yang menyertainya.
Pemahaman ini disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dr. Agus Taufiqurrahman dikutip dari laman muhammadiyah.or.id, Rabu (12/8/2026).
Menurut Agus, konsep kesehatan mental sejatinya bukan hal baru dalam ajaran Islam. Sejak lama, Islam telah menuntun umatnya untuk memelihara dua unsur sekaligus, yakni jasad dan ruh, yang meliputi sisi mental maupun spiritual manusia.
"Maka kalau ingin hidupnya itu utuh, itu unsur fisiknya dibenahi, unsur mentalnya dibenahi, unsur spiritual juga diurus," ungkapnya.
Baca juga: Belajar dari Ilmu Nahwu, Begini Cara Islam Ajarkan Suami Istri Kelola Konflik Rumah Tangga
Ia menambahkan, upaya menjaga kesehatan mental dalam tradisi Islam tidak cukup hanya dengan memperkuat kesalihan pribadi.
Membangun dan merawat relasi sosial demi kebaikan bersama, kata Agus, juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, sekitar 28 juta penduduk Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Kendati angkanya besar, Agus mengingatkan bahwa kondisi mental seseorang tidak bisa dinilai secara sembarangan hanya dari ciri-ciri fisik yang tampak dari luar.
Dari pengalamannya menangani pasien, Agus bercerita tentang seseorang yang secara medis tidak memiliki penyakit yang mengharuskannya dirawat inap di rumah sakit.
Namun, pasien tersebut terus-menerus merasa tubuhnya sakit dan bersikeras ingin diopname.
Setelah ditelusuri lebih jauh, diketahui bahwa pasien itu sebelumnya mengalami kehilangan kendaraan bermotor, sekaligus usaha ekonomi keluarganya merugi hingga akhirnya bangkrut.
"Maka obatnya itu harus mendekat ke Allah SWT, karena Islam mengajarkan barang siapa yang ingat kepada Allah Swt hatinya akan tenteram," ungkapnya dikutip dari laman muhammadiyah.or.id, Rabu (12/8/2026).
Baca juga: Semoga Cepat Sembuh dalam Islam: Ucapan, Doa, dan Adab Menjenguk Orang Sakit
Merujuk pada tafsir progresif, Agus menegaskan bahwa makna "mengingat Allah" tidak boleh berhenti sebatas di dalam pikiran semata.
Menurutnya, zikir tersebut mesti disertai dengan langkah-langkah nyata untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi, sebab setiap ujian dan cobaan yang diberikan telah disesuaikan dengan kadar kemampuan seseorang untuk melewatinya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang