Editor
KOMPAS.com — Pola hidup hemat atau frugal living dapat membantu keluarga mengatur pengeluaran ketika harga kebutuhan meningkat dan penghasilan terasa semakin terbatas.
Dalam ajaran Konghucu, sikap hemat berjalan beriringan dengan ketekunan bekerja dan kebijaksanaan mengelola harta.
Donnie Tandian, SAk, MM, dari Pemuda Khonghucu menjelaskan, keluarga dapat memusatkan perhatian pada hal yang berada dalam kendalinya, yakni cara mengelola penghasilan dan pengeluaran.
“Hidup hemat bukan berarti hidup serba kekurangan. Ia adalah sikap sadar dalam menentukan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang sekadar mengikuti keinginan atau gengsi,” ujar Donnie dikutip dari laman Kemenag, Rabu (21/10/2026).
Baca juga: Hukum Sedekah dari Uang Korupsi dalam Islam, Benarkah Bisa Menghapus Dosa?
Ia merujuk pada Kitab Da Xue, Bab X:19, yang menyebutkan:
“Mengurus hartapun ada jalannya yang besar; bila penghasilan lebih besar dari pada pemakaian dan bekerja setangkas mungkin sambil berhemat, niscaya harta benda itu akan terpelihara.”
Menurut Donnie, ayat tersebut mengajarkan bahwa kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi juga kebijaksanaan dalam mengelolanya.
Penghasilan perlu diperoleh melalui kerja yang sungguh-sungguh, sedangkan pengeluaran harus diatur dengan penuh pertimbangan.
Prinsip tersebut sejalan dengan frugal living yang mengutamakan kebutuhan, manfaat, dan kualitas dibandingkan kemewahan atau gengsi.
Donnie memaparkan empat langkah yang dapat diterapkan keluarga untuk menjalankan prinsip tersebut.
Langkah pertama adalah hidup sesuai kebutuhan dengan mempertimbangkan nilai guna suatu barang.
Donnie mencontohkan, promo belanja daring dapat dimanfaatkan untuk membeli barang yang memang dibutuhkan.
Sementara itu, mengganti ponsel setiap tahun karena takut ketinggalan tren merupakan pengeluaran yang perlu dipertimbangkan kembali.
Dengan membedakan kebutuhan dan keinginan, keluarga dapat mengambil keputusan belanja secara lebih bijaksana.
Baca juga: Situasi Global Menekan, Muhammadiyah Serukan Efisiensi dan Hidup Hemat
Donnie menyarankan pemilihan barang yang awet dan multifungsi, meskipun harganya sedikit lebih mahal.
Misalnya, memilih sepatu berkualitas yang dapat digunakan untuk bekerja sekaligus berjalan santai. Garansi juga dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika membeli barang.
Dengan cara ini, keputusan membeli tidak hanya bertumpu pada harga, tetapi juga manfaat dan daya tahan barang.
Langkah berikutnya adalah menggunakan kembali, memperbaiki, atau mendaur ulang barang sebelum membeli yang baru.
Botol kaca bekas, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai wadah bumbu dapur. Pakaian yang sudah tidak layak dikenakan juga dapat dialihfungsikan menjadi lap.
Pemanfaatan kembali barang menjadi salah satu cara mengurangi pembelian sekaligus mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di rumah.
Menurut Donnie, pengelolaan keuangan dapat dimulai dengan mencatat setiap pengeluaran harian dan menyusun sistem kontrol yang realistis.
Ia menyebut metode 50/30/20 sebagai salah satu acuan pembagian penghasilan, yakni 50 persen untuk kebutuhan, 30 persen untuk keinginan, serta 20 persen untuk tabungan atau investasi.
Pencatatan dan perencanaan tersebut membantu keluarga meninjau penggunaan penghasilan serta menentukan prioritas pengeluaran.
Donnie menekankan, tantangan ekonomi perlu disikapi dengan ketekunan bekerja, kebijaksanaan menggunakan rezeki, dan upaya menjaga keharmonisan keluarga.
Menurutnya, membangun kebiasaan hemat dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membedakan kebutuhan dengan keinginan dan mencatat pengeluaran.
“Sebab kebajikan tidak hanya diwujudkan dalam sikap terhadap sesama, tetapi juga dalam cara kita mengelola rezeki yang kita terima,” tulis Donnie.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.