Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 menjadi momentum untuk memaknai kembali kecintaan terhadap Indonesia.
Dalam kehidupan umat Islam, semangat tersebut kerap diungkapkan melalui kalimat hubbul wathan minal iman, atau cinta tanah air bagian dari iman.
Namun, apakah ungkapan tersebut merupakan hadis Nabi Muhammad SAW? Bagaimana kedudukan cinta tanah air dalam ajaran Islam?
Direktur Aswaja Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Ma’ruf Khozin menjelaskan, ungkapan hubbul wathan minal iman bukanlah hadis Nabi.
Baca juga: Sumpah Pemuda 1928: Sosok Johan Machmoed Tjaja dan Peran Jong Islamieten Bond
Menurut Ma’ruf, status ungkapan sebagai bukan hadis perlu dibedakan dari kandungan pesannya.
Kalimat tersebut tidak tepat disandarkan sebagai sabda Rasulullah SAW, tetapi kecintaan terhadap tanah air memiliki landasan dalam kehidupan Nabi.
Dalam penjelasannya, ia merujuk pada doa Rasulullah agar diberikan kecintaan kepada Madinah sebagaimana kecintaan beliau kepada Makkah, bahkan lebih besar.
Ma’ruf juga mengutip penjelasan Syekh Al-Ajluni dalam Kasyf Al-Khafa’ bahwa kecintaan terhadap negeri dapat diarahkan untuk mempererat silaturahim dan berbuat baik kepada penduduknya, termasuk fakir miskin dan anak yatim.
Dengan pemahaman tersebut, mencintai tanah air dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap orang-orang yang hidup di dalamnya.
Baca juga: Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Jejak Santri dalam Sejarah Persatuan Indonesia
Dikutip dari MUI Digital, kecintaan terhadap tempat kelahiran merupakan perasaan alamiah manusia.
Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi nomor 3926, Nabi menyampaikan bahwa beliau tidak akan meninggalkan Makkah apabila tidak diusir oleh kaumnya.
Kecintaan Rasulullah juga tergambar dalam hadis riwayat Al-Bukhari dari Anas bin Malik.
Ketika kembali dari perjalanan dan melihat Madinah, Nabi mempercepat laju tunggangannya karena mencintai kota tersebut.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebut riwayat itu sebagai petunjuk tentang keutamaan Madinah sekaligus dasar disyariatkannya mencintai dan merindukan tanah air.
Penjelasan mengenai status ungkapan hubbul wathan minal iman juga disampaikan Syafiq Mughni, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Syafiq menegaskan, slogan tersebut bukan berasal dari teks Al Quran maupun hadis Nabi.
Meski demikian, ia memandang kecintaan terhadap tanah air sebagai sesuatu yang alamiah.
Manusia membutuhkan tempat tinggal, hubungan bertetangga, serta kebersamaan dengan sesama warga bangsa untuk menghadapi penjajahan dan kezaliman.
Semangat mencintai negeri menemukan relevansinya dalam peringatan Sumpah Pemuda.
Merujuk laman Museum Sumpah Pemuda, ikrar kebangsaan tersebut dirumuskan melalui putusan Kongres Pemuda II di Jakarta pada 27–28 Oktober 1928.
Para pemuda dari beragam daerah, suku, dan agama menyatakan kebersamaan sebagai satu bangsa dengan tanah air Indonesia serta bahasa persatuan bahasa Indonesia.
Dalam konteks kehidupan sekarang, semangat itu dapat diterapkan dengan menghormati perbedaan, membantu sesama warga, dan menjaga hubungan baik di lingkungan tempat tinggal.
Bagi generasi muda, peringatan Hari Sumpah Pemuda juga dapat menjadi kesempatan untuk menghubungkan rasa bangga terhadap Indonesia dengan kontribusi sehari-hari, mulai dari belajar dengan sungguh-sungguh hingga terlibat dalam kegiatan sosial.
Ungkapan hubbul wathan minal iman perlu dipahami secara tepat: tidak dinisbatkan sebagai hadis Nabi, sementara pesan kecintaan terhadap negeri diwujudkan melalui tindakan yang membawa kebaikan bagi masyarakat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.