Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gus Kikin Siapkan PBNU Perkuat Akar Rumput, Munas-Konbes Jadi Langkah Awal

Kompas.com, 25 Oktober 2026, 08:20 WIB
Farid Assifa

Penulis

Sumber NU Online

KOMPAS.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan, kepengurusan PBNU masa khidmah 2026–2031 akan mengedepankan kebersamaan, tata kelola organisasi, dan kemaslahatan jam’iyah. Penguatan organisasi hingga tingkat akar rumput menjadi salah satu prioritas kepengurusan baru.

Sementara itu, Katib Aam PBNU Prof Muhammad Nuh mengatakan, kepengurusan baru akan segera menyiapkan sejumlah agenda strategis, termasuk Musyawarah Nasional (Munas), Konferensi Besar (Konbes), dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas).

Agenda tersebut menjadi langkah awal atau quick win agar kehadiran NU dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Sekarang harus ada hasil yang segera bisa dirasakan manfaatnya,” kata Nuh seusai pelantikan pengurus PBNU masa khidmah 2026–2031 di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026).

Baca juga: Link Twibbon Hari Santri 2026 dari PBNU, Lengkap dengan Cara Pakainya

Nuh mengatakan, PBNU ingin menunjukkan soliditas organisasi pada puncak peringatan hari lahir NU, 31 Januari 2027. Momentum tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkuat kontribusi NU dalam memasuki abad kedua.

Empat Prinsip Penguatan Organisasi NU

Menurut Nuh, penguatan PBNU akan bertumpu pada empat prinsip utama.

Pertama, menjaga qonun asasi dan Khittah NU sebagai ruh organisasi. Kedua, menerapkan tata kelola organisasi yang baik. Ketiga, mengarahkan gerakan organisasi untuk menjangkau kelompok akar rumput. Keempat, menjadikan kemaslahatan sebagai orientasi utama.

Ia menilai, penguatan akar rumput merupakan hal mendasar karena kekuatan organisasi sangat bergantung pada kondisi struktur paling bawah.

Nuh mengibaratkan NU sebagai pohon yang hanya dapat tumbuh besar apabila memiliki akar yang kuat.

“Akar itu mulai dari ranting, masyarakat bawah, kelompok mustasyar, a’wan, dan berbagai unsur organisasi yang perlu kita perkuat,” ujarnya.

Penguatan tersebut, lanjut Nuh, tidak hanya menyasar struktur kepengurusan, tetapi juga lembaga dan badan otonom NU.

Selain itu, PBNU ingin memperluas jangkauan organisasi kepada kelompok digital native, yakni generasi yang tumbuh bersama teknologi digital.

Menurut dia, kelompok tersebut perlu dirangkul karena memiliki peran penting dalam menentukan arah masa depan.

Gus Kikin Tekankan Kebersamaan dan Kemaslahatan

Dalam pelantikan yang sama, Gus Kikin menegaskan bahwa penyusunan komposisi kepengurusan PBNU masa khidmah 2026–2031 telah mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk keterwakilan wilayah dan antargenerasi.

“Komposisi kepengurusan yang telah disusun dengan berusaha mempertimbangkan semua aspek keterampilan, baik dari sisi kewilayahan maupun antargenerasi,” kata Gus Kikin.

Ia mengakui bahwa kepengurusan yang baru mungkin masih memiliki kekurangan. Namun, hal tersebut merupakan bagian dari keterbatasan manusia dalam menyusun sebuah organisasi.

Gus Kikin berharap seluruh jajaran pengurus dapat mengedepankan semangat kebersamaan dan bekerja untuk kepentingan jam’iyah.

Ia juga menjelaskan bahwa pemilihan Pondok Pesantren Al-Hamid sebagai lokasi pelantikan memiliki makna tersendiri, yakni menegaskan komitmen PBNU untuk menjaga akar tradisi pesantren.

“Prosesi pelantikan PBNU di Pesantren Al-Hamid ini, kami berharap semua ulama bersatu dan berada dalam satu SOP untuk bersama-sama membangun, agar tradisi pesantren terjaga dan keutuhan negeri yang kita cintai tetap terpelihara,” ujarnya.

Gus Kikin turut mengutip pesan Rais Akbar PBNU Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang mengajak seluruh elemen masyarakat bergabung dalam Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Menurut dia, pesan tersebut menunjukkan bahwa NU merupakan organisasi yang terbuka dan merangkul berbagai kalangan.

“Kiai Hasyim Asy’ari mengajak semua komponen bangsa untuk bergabung ke dalam Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Ini menggambarkan inklusivitas daripada organisasi itu,” katanya.

Pengurus PBNU Jalani Baiat dan Ikrar

Dalam rangkaian pelantikan tersebut, Gus Kikin membacakan Surat Keputusan Nomor 2/PB.01/A.II.01.01/99/09/2026 tentang pengesahan komposisi dan personalia PBNU masa khidmah 2026–2031.

Surat keputusan itu merujuk pada hasil Sidang Pleno ke-4 dan Sidang Pleno ke-5 Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama pada 30–31 Agustus 2026.

Setelah pembacaan surat keputusan, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar memimpin prosesi baiat bagi kepengurusan baru.

Kiai Miftach menjelaskan bahwa baiat merupakan ikrar spiritual yang berfungsi memperbarui sekaligus memperkuat janji setia pengurus dalam menjalankan amanah organisasi.

“Yang harus kita cermati, baiat adalah inisiasi spiritual, janji setia. Baiat merupakan pembaruan, penguatan terhadap janji setia tersebut,” katanya.

Prosesi diawali dengan pembacaan dua kalimat syahadat, kemudian dilanjutkan dengan ikrar yang diikuti seluruh pengurus PBNU.

Baca juga: Rais Syuriah PBNU Dorong Edukasi Seks dan Kesehatan Mental bagi Ibu Nyai

Dalam ikrar tersebut, para pengurus menyatakan kesiapan mengamalkan dan mempertahankan Pancasila serta UUD 1945, menegakkan akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah, dan mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta peraturan Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Dengan kepengurusan baru ini, PBNU diharapkan mampu memperkuat konsolidasi internal sekaligus memperluas manfaat organisasi bagi masyarakat. Penguatan struktur hingga tingkat akar rumput, penjagaan tradisi pesantren, serta adaptasi terhadap perkembangan digital menjadi bagian dari upaya NU menjawab tantangan ke depan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Sumpah Pemuda, Benarkah Cinta Tanah Air Bagian dari Iman?
Sumpah Pemuda, Benarkah Cinta Tanah Air Bagian dari Iman?
Aktual
Gus Ipul Dukung KPK Usut Dugaan Suap Muktamar ke-35 NU
Gus Ipul Dukung KPK Usut Dugaan Suap Muktamar ke-35 NU
Aktual
Gus Kikin Siapkan PBNU Perkuat Akar Rumput, Munas-Konbes Jadi Langkah Awal
Gus Kikin Siapkan PBNU Perkuat Akar Rumput, Munas-Konbes Jadi Langkah Awal
Aktual
Ragu Makhraj hingga Mengulang Al-Fatihah, Apakah Sholat Tetap Sah?
Ragu Makhraj hingga Mengulang Al-Fatihah, Apakah Sholat Tetap Sah?
Aktual
Mengenal Infak Gajah, Gerakan Bantu Mahasiswa ITB Bayar UKT
Mengenal Infak Gajah, Gerakan Bantu Mahasiswa ITB Bayar UKT
Aktual
Cara Mengelola Keuangan dalam Islam di Tengah Kondisi “In This Economy”
Cara Mengelola Keuangan dalam Islam di Tengah Kondisi “In This Economy”
Aktual
Sumpah Pemuda 1928: Sosok Johan Machmoed Tjaja dan Peran Jong Islamieten Bond
Sumpah Pemuda 1928: Sosok Johan Machmoed Tjaja dan Peran Jong Islamieten Bond
Aktual
Jadwal TKA Pesantren dan Madrasah Aliyah 2026 untuk Mapel Wajib, Pilihan, serta Ujian Susulan
Jadwal TKA Pesantren dan Madrasah Aliyah 2026 untuk Mapel Wajib, Pilihan, serta Ujian Susulan
Aktual
Legislator Minta Ditjen Pesantren Perkuat 5 Aspek, dari Anggaran hingga Keamanan Santri
Legislator Minta Ditjen Pesantren Perkuat 5 Aspek, dari Anggaran hingga Keamanan Santri
Aktual
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Jejak Santri dalam Sejarah Persatuan Indonesia
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Jejak Santri dalam Sejarah Persatuan Indonesia
Aktual
Hari Santri 2026, Menag Ajak ASN Kemenag Pakai Sarung dan Peci Seminggu Sekali
Hari Santri 2026, Menag Ajak ASN Kemenag Pakai Sarung dan Peci Seminggu Sekali
Aktual
Zakat Akhir Tahun: Cara Menghitung, Nisab, dan Golongan Penerimanya
Zakat Akhir Tahun: Cara Menghitung, Nisab, dan Golongan Penerimanya
Aktual
Alasan Shalat Istisqa Tetap Disunahkan Meski Hujan Telah Turun
Alasan Shalat Istisqa Tetap Disunahkan Meski Hujan Telah Turun
Aktual
Doa Saat Hujan Turun dan Setelah Hujan Reda, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa Saat Hujan Turun dan Setelah Hujan Reda, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Doa Saat Hujan yang Diajarkan Rasulullah, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa Saat Hujan yang Diajarkan Rasulullah, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar