Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Khaidir Sulaiman, mengingatkan umat Islam untuk mempersiapkan kehidupan akhirat melalui ketaatan dan kepedulian kepada sesama.
Ia menjelaskan tujuh golongan yang mendapat naungan Allah SWT pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Dikutip dari laman Muhammadiyah, Minggu (25/10/2026), Khaidir mengungkapkan, kesempatan memperoleh perlindungan tersebut berkaitan dengan perilaku manusia selama hidup, mulai dari menjalankan kepemimpinan secara adil hingga menjaga keikhlasan dalam beribadah.
Baca juga: Tak Harus Menunggu Orang Tua Tiada, Ini Cara Berbakti Lewat Sedekah
Menurutnya, mengingat hari akhir perlu mendorong perubahan dalam keseharian.
Kesadaran itu harus tercermin dalam pelaksanaan kewajiban agama, penggunaan harta, dan hubungan dengan orang lain.
Merujuk hadis tentang tujuh golongan yang memperoleh naungan Allah, Khaidir menguraikan bentuk-bentuk ketaatan yang dapat menjadi pedoman bagi umat Islam.
Khaidir menjelaskan, pemimpin memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan keadilan melalui keputusan, kebijakan, dan perlakuannya terhadap masyarakat.
Mengutip penjelasan Imam Nawawi, ia menyebut keadilan tersebut mencakup urusan pribadi, keluarga, dan rakyat yang dipimpin.
Kepemimpinan yang adil dapat membawa kebaikan bagi masyarakat. Sebaliknya, tindakan zalim berpotensi menimbulkan keresahan dan kesulitan dalam kehidupan bersama.
Golongan berikutnya adalah pemuda yang tumbuh dengan beribadah kepada Allah.
Menurut Khaidir, masa muda menjadi kesempatan untuk membangun kebiasaan taat. Ibadah perlu menjadi arah kehidupan yang dijaga hingga seseorang memasuki usia dewasa.
Baca juga: Hukum Sedekah dari Uang Korupsi dalam Islam, Benarkah Bisa Menghapus Dosa?
Khaidir menerangkan bahwa golongan ini memiliki kedekatan hati dengan masjid dan menjadikannya bagian penting dalam kehidupan keagamaan.
Keterikatan tersebut menunjukkan perhatian seseorang terhadap ibadah dan kegiatan yang mendekatkannya kepada Allah.
Hubungan yang berlandaskan keimanan juga menjadi bagian dari tujuh golongan tersebut.
Khaidir menjelaskan, kecintaan karena Allah diwujudkan melalui kebersamaan dalam kebaikan dan kegiatan yang bermanfaat.
Golongan kelima adalah orang yang mampu menjaga diri ketika mendapat ajakan berbuat maksiat dari seseorang yang memiliki kecantikan dan kedudukan.
Menurut Khaidir, rasa takut kepada Allah menjadi dasar untuk menolak godaan tersebut.
Keteguhan itu menunjukkan kemampuan seseorang mendahulukan ketaatan meskipun memiliki kesempatan melakukan pelanggaran.
Khaidir menekankan pentingnya keikhlasan dalam menggunakan harta untuk kebaikan.
Dalam penjelasannya tentang sedekah, ia mengajak umat Islam membantu orang yang membutuhkan, memperhatikan keluarga dan lingkungan, serta mendukung kegiatan dakwah.
Harta yang dimiliki dapat menjadi sarana untuk memperluas manfaat bagi orang lain.
Golongan terakhir adalah orang yang berzikir kepada Allah ketika sendiri hingga meneteskan air mata.
Khaidir menggambarkan penghayatan tersebut melalui seseorang yang bangun pada malam hari, menunaikan salat tahajud, dan berdoa dengan sungguh-sungguh.
Selain menjelaskan tujuh golongan tersebut, Khaidir menyoroti kebiasaan menunda keberangkatan ke masjid untuk sholat Jumat.
Ia mengutip Surah Al-Jumu’ah ayat 9 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk memenuhi panggilan salat Jumat dan meninggalkan jual beli.
Menurutnya, sebagian orang masih datang ketika khatib sudah berada di mimbar, meskipun memiliki kesempatan untuk berangkat lebih awal.
Ia juga menyinggung pengaturan waktu istirahat di sejumlah tempat kerja yang memungkinkan pekerja menunaikan kewajiban tersebut.
“Kalau kita tidak keluar menuju masjid, itu menandakan kita termasuk orang-orang yang lalai,” ujarnya.
Khaidir mengajak umat Islam yang masih mengabaikan panggilan tersebut untuk memohon ampun dan memperbaiki kebiasaan.
Pertobatan, menurutnya, perlu disertai kesungguhan agar kelalaian yang sama tidak terus berulang.
Ia turut menyoroti perbedaan sikap sebagian orang dalam menghadapi tuntutan pekerjaan dan kewajiban ibadah. Kekhawatiran terhadap sanksi dapat membuat seseorang berusaha datang tepat waktu ke kantor, tetapi perhatian serupa belum tentu diberikan ketika tiba waktu beribadah.
Khaidir menegaskan, pekerjaan dan penghasilan tetap dibutuhkan untuk menjalani kehidupan.
Namun, keduanya perlu menjadi penunjang ibadah, bukan alasan untuk mengesampingkan kewajiban kepada Allah.
Melalui pesan tersebut, ia mengajak umat Islam mempersiapkan akhirat dengan langkah nyata: menjaga ibadah, menjalankan tanggung jawab secara adil, membantu sesama, dan memelihara keikhlasan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.