Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Syekh Nawawi Banten Diuji Ulama Hijaz soal “La Siyama”

Kompas.com, 25 Oktober 2026, 10:07 WIB
Reni Susanti

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com — Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, M Ishom el-Saha, menuturkan kisah Syekh Nawawi Al-Bantani yang mendapat ujian tentang tata bahasa Arab dari ulama Hijaz.

Pertanyaan yang dikirim melalui surat itu menyangkut i’rab atau kedudukan gramatikal ungkapan la siyama.

Ishom mengatakan, kisah tersebut didengarnya langsung dari almarhum Kiai Ridhwan, pengasuh Pesantren Al-Amin di Suburan, Mranggen.

Baca juga: Jadwal TKA Pesantren dan Madrasah Aliyah 2026 untuk Mapel Wajib, Pilihan, serta Ujian Susulan

Dalam penuturan gurunya itu, keluasan jawaban Syekh Nawawi membuat ulama yang mengujinya terkagum-kagum.

“Jawaban yang ditulis Syekh Nawawi sangat lengkap. Jawabannya di luar dugaan ulama Arab yang menganggap Syekh Nawawi sebagai orang ajam yang biasa hanya memaknai lafal ‘La Siyama’ dengan makna ‘opo meneh’ atau ‘apa lagi’,” tutur Ishom.

Pertanyaan dikirim melalui surat ke Banten

Menurut cerita Kiai Ridhwan yang disampaikan kembali oleh Ishom, peristiwa tersebut bermula ketika Syekh Nawawi pulang ke Banten.

Kepulangannya dikisahkan berkaitan dengan kecemburuan sebagian ulama Hijaz terhadap ketokohan ulama asal Nusantara itu.

Setelah Syekh Nawawi meninggalkan Makkah, kajian-kajian di kota tersebut disebut menjadi sepi penyimak. Keadaan itu mendorong munculnya gagasan untuk meminta Syekh Nawawi kembali ke Tanah Suci.

Namun, dalam kisah tersebut, sebagian ulama yang merasa tersaingi mengusulkan agar Syekh Nawawi terlebih dahulu diuji kemampuan keilmuannya.

Mereka kemudian mengirimkan surat berisi pertanyaan tentang i’rab la siyama. Jawaban atas pertanyaan itu dimaksudkan sebagai ukuran kelayakan Syekh Nawawi untuk kembali mengajar di Makkah.

Baca juga: Legislator Minta Ditjen Pesantren Perkuat 5 Aspek, dari Anggaran hingga Keamanan Santri

Menguraikan setiap unsur “La Siyama”

Ishom menuturkan, Syekh Nawawi menjawab pertanyaan tersebut secara tertulis dengan menguraikan setiap unsur dalam ungkapan la siyama.

Penjelasannya mencakup fungsi ungkapan tersebut untuk mengutamakan sesuatu yang disebut sesudahnya dibandingkan dengan yang disebut sebelumnya.

Dalam jawaban yang dikisahkan Kiai Ridhwan, Syekh Nawawi menjelaskan unsur la sebagai la nafiyah lil-jinsi. Adapun unsur siyya dijelaskan sebagai isim dari la yang berkedudukan nasab, sedangkan khabarnya diperkirakan atau tidak disebutkan secara tersurat.

Pembahasan juga mencakup unsur ma yang dapat dipahami sebagai ma ziyadah, ma maushul, atau ma nakirah, berikut konsekuensi gramatikal dari masing-masing kemungkinan tersebut.

Menurut Ishom, Syekh Nawawi turut menguraikan kemungkinan kedudukan kata setelah la siyama, baik rafa’, nasab, maupun jar, disertai alasan untuk setiap bentuk bacaan.

“Satu per satu kata dalam lafal ‘La Siyama’ dijelaskan panjang lebar,” tuturnya.

Jawaban yang mengundang kekaguman

Surat jawaban itu kemudian dikirim kembali ke Makkah. Dalam cerita yang diterima Ishom, jawaban Syekh Nawawi dibuka dan dibacakan di hadapan ulama Hijaz.

Kelengkapan uraian tersebut dikisahkan mengundang kekaguman mereka sekaligus memperlihatkan kedalaman penguasaan Syekh Nawawi terhadap tata bahasa Arab.

Menurut penuturan Kiai Ridhwan yang disampaikan Ishom, Syekh Nawawi kemudian diterima kembali untuk mengajar di Makkah dan sangat dihormati dengan julukan Sayyid Ulama Hijaz.

“Demikian sekelumit cerita tentang Syekh Nawawi Banten yang saya dapatkan dari cerita guru kami, al-maghfurlah Kiai Ridhwan Suburan Mranggen,” ujar Ishom.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar