Editor
KOMPAS.com - Doa Nur Nubuwat atau yang juga dikenal sebagai Doa Nurbuat merupakan salah satu doa yang sangat populer di kalangan masyarakat Muslim Indonesia. Doa ini banyak ditemukan dalam kitab amaliah seperti Majmu' Syarif dan tersebar luas melalui berbagai media sosial maupun buku-buku doa.
Namun, di balik popularitasnya, terdapat kajian menarik mengenai asal-usul doa tersebut. Sejumlah literatur klasik menunjukkan bahwa redaksi Doa Nur Nubuwat yang beredar saat ini tidak sepenuhnya sama dengan riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Perbedaan itu terjadi karena adanya perkembangan redaksi dalam tradisi amaliah umat Islam.
Dikutip dari artikel "Menelusuri Asal-Usul dan Perkembangan Redaksi" oleh Didik Harianto di situs Aswajanusantara.com, doa Nur Nubuwat Dalam kajian hadis, penelusuran sumber riwayat atau takhrij menjadi langkah penting untuk mengetahui asal sebuah doa.
Berdasarkan penelusuran terhadap literatur klasik oleh penulis Didik, salah satu riwayat yang paling awal ditemukan terdapat dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim karya Imam Ibnu Katsir saat menafsirkan Surah Al-Qalam ayat 51.
Baca juga: Doa Sholat Taubat Nasuha Lengkap: Istighfar Nabi & Artinya
Ibnu Katsir mengutip riwayat dari Ibnu 'Asakir yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersedih ketika Hasan dan Husain terkena gangguan 'ain (pandangan mata jahat).
Dalam riwayat tersebut, Malaikat Jibril datang mengajarkan doa perlindungan kepada Rasulullah SAW agar dibacakan untuk kedua cucunya.
Berikut redaksi doa yang dinukil dalam riwayat tersebut:
Arab
اللَّهُمَّ ذَا السُّلْطَانِ الْعَظِيمِ، ذَا الْمَنِّ الْقَدِيمِ، ذَا الْوَجْهِ الْكَرِيمِ، وَلِيَّ الْكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ، وَالدَّعَوَاتِ الْمُسْتَجَابَاتِ، عَافِ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ مِنْ أَنْفُسِ الْجِنِّ، وَأَعْيُنِ الْإِنْسِ
Arti
"Ya Allah, Dzat Yang memiliki kekuasaan yang agung, anugerah yang telah ada sejak dahulu, wajah yang mulia, Pemilik kalimat-kalimat yang sempurna dan doa-doa yang dikabulkan. Lindungilah Hasan dan Husain dari gangguan jin dan pandangan mata manusia."
Riwayat tersebut juga menyebutkan bahwa setelah Nabi SAW membaca doa tersebut, Hasan dan Husain kembali sehat dan bermain seperti biasa. Rasulullah SAW kemudian menganjurkan doa itu dibaca sebagai perlindungan bagi diri sendiri, keluarga, dan anak-anak.
Seiring berjalannya waktu, redaksi Doa Nur Nubuwat berkembang dalam tradisi amaliah. Versi yang banyak ditemukan dalam kitab Majmu' Syarif maupun berbagai buku doa memuat tambahan ayat-ayat Al-Qur'an, doa-doa permohonan rezeki, kesehatan, umur panjang, serta penutup berupa ayat-ayat pilihan.
Salah satu redaksi yang banyak diamalkan adalah sebagai berikut.
Arab
اللَّهُمَّ ذِي السَّلْطَانِ الْعَظِيمِ، وَذِي الْمَنِّ الْقَدِيمِ وَذِي الْوَجْهِ الْكَرِيمِ. وَوَلِيُّ الْكَلِمَاتِ التَّامَّاتِ وَالدَّعَوَاتِ الْمُسْتَجَابَةِ عَاقِلِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ مِنَ أَنْفُسِ الْحَقِّ عَيْنِ الْقُدْرَةِ وَالنَّاظِرِينَ وَعَيْنِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ وَمُسْتَجَابُ لُقْمَانَ الْحَكِيمِ. وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ الْوَدُودُ ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدِ. طَوِّلْ عُمْرِي وَصَحِّحْ أَجْسَادِي وَاقْضِ حَاجَتِي وَأَكْثِرْ أَمْوَالِي وَأَوْلَادِي وَحَبِّبْ لِلنَّاسِ أَجْمَعِينَ وَتَبَاعَدِ الْعَدَاوَةَ كُلَّهَا مِنْ بَنِي آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Kajian terhadap berbagai literatur menunjukkan bahwa redaksi Doa Nur Nubuwat yang populer saat ini telah mengalami sejumlah perubahan dibandingkan riwayat klasik.
Penambahan tersebut antara lain berupa:
Selain itu, terdapat beberapa varian redaksi yang berbeda satu sama lain, baik dari sisi susunan kalimat maupun tambahan lafaz seperti penyebutan gangguan setan, pengulangan lafaz Ya Allah, hingga penambahan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW pada bagian penutup.
Penulis kajian tersebut menegaskan bahwa temuan ini bukan dimaksudkan untuk menyalahkan amalan masyarakat, melainkan untuk membedakan antara tiga hal, yaitu:
1. Riwayat asal, yakni doa yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW berdasarkan literatur hadis.
2. Perkembangan redaksi, yaitu perubahan dan penambahan yang terjadi dalam tradisi penyalinan naskah dan amaliah umat Islam.
3. Klaim keutamaan (fadhilah), yang memerlukan kajian sanad dan dalil tersendiri.
Dengan demikian, Doa Nur Nubuwat memiliki jejak dalam literatur Islam klasik, tetapi redaksi yang populer di masyarakat saat ini merupakan hasil perkembangan dalam tradisi keagamaan. Memahami perbedaan tersebut membantu umat Islam menempatkan doa ini secara proporsional sesuai sumber dan kedudukannya dalam khazanah keilmuan Islam.
Di tengah masyarakat Muslim Indonesia, Doa Nur Nubuwat atau Doa Nurbuat telah lama diamalkan sebagai doa perlindungan (doa hirz). Banyak kitab amaliah dan tradisi lisan menyebut doa ini dibaca dengan harapan memperoleh perlindungan dari berbagai marabahaya serta memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Dalam riwayat klasik yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dari Ibnu 'Asakir, doa ini pada mulanya diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW sebagai doa perlindungan untuk Hasan dan Husain ketika keduanya terkena gangguan 'ain atau pandangan mata jahat. Isi doa tersebut secara eksplisit memohon agar Allah melindungi Hasan dan Husain dari gangguan jin dan pandangan mata manusia.
Seiring perkembangan tradisi amaliah, redaksi Doa Nur Nubuwat mengalami penambahan sehingga banyak orang mengamalkannya dengan berbagai tujuan, antara lain:
Baca juga: 4 Doa Sebelum Bekerja agar Diberi Kelancaran, Rezeki Halal, dan Keberkahan
Namun, penting dipahami bahwa klaim mengenai berbagai fadilah tersebut perlu dibedakan dari riwayat asal doa. Kajian dalam bahan ini menegaskan bahwa pembahasan mengenai keutamaan Doa Nur Nubuwat merupakan ranah tersendiri yang memerlukan penelusuran dalil dan penilaian sanad secara khusus. Karena itu, tidak semua manfaat yang populer di masyarakat dapat langsung dinisbatkan kepada riwayat Nabi Muhammad SAW.
Dengan demikian, fungsi utama Doa Nur Nubuwat berdasarkan riwayat klasik adalah sebagai doa memohon perlindungan kepada Allah SWT, sedangkan berbagai manfaat lain yang berkembang dalam tradisi masyarakat merupakan bagian dari perkembangan amaliah yang perlu dipahami secara proporsional berdasarkan sumbernya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang