Editor
KOMPAS.com - Doa merupakan bentuk penghambaan seorang Muslim kepada Allah SWT.
Dalam praktiknya, sebagian orang melafalkan doa dengan nada atau irama tertentu, sehingga muncul pertanyaan apakah doa boleh dinyanyikan dalam Islam.
Baca juga: 10 Adab Berdoa Menurut Imam Al-Ghazali agar Doa Dikabulkan
Dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, pembacaan doa boleh dilafalkan dengan nada atau irama tertentu selama tujuannya tetap untuk berdoa dan beribadah kepada Allah SWT.
Namun, keindahan suara hendaknya tidak menggeser tujuan utama doa, yakni memohon dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam Islam, umat dianjurkan membaca Al-Qur'an dengan tartil dan suara yang baik. Meski demikian, melagukan doa tidak semestinya membuat seseorang lebih mementingkan irama daripada makna dan kekhusyukan dalam berdoa.
Baca juga: Mengapa Ada Orang yang Berdoa tetapi Belum Dikabulkan?
Hal ini sejalan dengan hadis tentang pentingnya niat dalam setiap amal. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Artinya: “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung pada niatnya...” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, ketika melafalkan doa dengan nada tertentu, seorang Muslim tetap perlu menjaga niat dan memahami isi doa yang dipanjatkan.
Mengacu pada buku Tuntunan Dzikir dan Doa Menurut Putusan Tarjih Muhammadiyah (Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, 2019), terdapat empat adab berdoa yang perlu diperhatikan.
Keempat adab berdoa tersebut yakni mengangkat kedua tangan, mengawali doa dengan pujian kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, berdoa dengan tadharru' atau merendahkan diri, serta menutup doa dengan hamdalah. Berikut penjelasannya:
Mengangkat kedua tangan merupakan salah satu adab yang dianjurkan ketika seorang Muslim memohon kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Salman al-Farisi RA.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
Artinya: “Sesungguhnya Tuhanmu yang Mahasuci lagi Mahatinggi adalah Maha Pemalu dan Maha Pemurah. Dia malu kepada hamba-Nya yang mengangkat kedua tangan kepada-Nya, lalu mengembalikannya dalam keadaan kosong.” (HR. Ibnu Majah).
Umat Islam dianjurkan mengawali doa dengan memuji Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Adab ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan dari Fudhalah bin Ubaid RA.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِمَحَامِدِ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ
Artinya: “Apabila salah seorang di antara kamu berdoa, hendaklah ia memulai dengan memuji dan menyanjung Tuhannya, kemudian bershalawat kepada Nabi SAW, lalu berdoa dengan apa yang dikehendakinya.” (HR. Abu Dawud).
Tadharru' berarti berdoa dengan merendahkan diri, penuh ketundukan, dan tidak bersikap sombong. Sikap ini ditegaskan dalam Al-Qur'an, tepatnya Surah Al-A'raf ayat 55.
Allah SWT berfirman:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A'raf [7]: 55).
Ayat tersebut mengingatkan umat Islam agar berdoa dengan rendah hati dan tidak melampaui batas. Dengan demikian, doa tidak hanya dilihat dari cara melafalkannya, tetapi juga dari sikap hati ketika memohon kepada Allah SWT.
Hamdalah atau pujian kepada Allah SWT juga dapat menjadi penutup doa. Salah satu landasannya terdapat dalam Surah Yunus ayat 10.
Allah SWT berfirman:
دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Doa mereka di dalamnya ialah, ‘Mahasuci Engkau, ya Tuhan kami,’ dan salam penghormatan mereka ialah, ‘Salam.’ Dan penutup doa mereka ialah, ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.’” (QS. Yunus [10]: 10).
Dengan memperhatikan adab tersebut, umat Islam diharapkan dapat berdoa dengan lebih khusyuk dan penuh kerendahan hati. Pelafalan doa dengan nada tertentu hendaknya tetap mengutamakan niat beribadah, pemahaman terhadap makna, dan penghambaan kepada Allah SWT.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.