Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Haedar Nashir: Isra Miraj Harus Bangun Kesadaran Murakabah

Kompas.com, 16 Januari 2026, 17:36 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peringatan Isra Miraj 1447 Hijriah dinilai tidak cukup dimaknai sebagai seremoni keagamaan tahunan.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa momentum ini harus diaktualisasikan dalam kehidupan kebangsaan, terutama dalam penguatan spiritualitas pribadi dan etika publik.

Dalam keterangannya, Haedar menyebut Isra Miraj sebagai peristiwa luar biasa yang menguji kualitas keimanan umat Islam.

“Isra Miraj merupakan peristiwa yang menguji ketakwaan, keimanan, dan tauhid seorang Muslim. Sebab, peristiwa ini menjadi mukjizat di luar nalar manusia pada umumnya,” kata Haedar Nashir di Jakarta, Jumat (16/1/2026), dilansir dari Antara.

Menurut dia, refleksi Isra Miraj seharusnya mendorong umat untuk membangun relasi ketuhanan yang lebih kokoh, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa.

Baca juga: Isra Mi’raj 2026 Hari Ini, 10 Amalan Isi Libur Lebih Bermakna

Relasi tersebut, lanjut Haedar, akan melahirkan kesalehan personal yang berfungsi sebagai benteng moral.

Ia menilai kesalehan diri menjadi rambu pengendali ketika muncul dorongan melakukan tindakan menyimpang, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga perilaku tidak etis.

“Itu harus menjadi kerangka yang tidak boleh kita lakukan, karena kita memiliki iman, takwa, dan tauhid kepada Allah,” ujarnya.

Haedar juga menekankan pentingnya menghadirkan kesadaran murakabah dalam kehidupan sosial dan politik.

Murakabah dimaknai sebagai kondisi spiritual ketika seorang hamba merasa selalu berada dalam pengawasan Allah SWT.

“Bahkan, dari relasi dengan Allah itu harus melahirkan relasi murakabah,” kata Haedar.

Ia menambahkan, jika kesadaran tersebut hidup dalam jiwa warga bangsa dan para pemimpin, maka potensi perilaku buruk dapat ditekan sejak dari niat.

“Jika relasi ini hidup dalam jiwa warga bangsa dan pemimpin, diharapkan hasrat untuk berperilaku buruk tidak jadi dilakukan,” tuturnya.

Baca juga: Makna Isra Miraj bagi Dedi Mulyadi: Kesunyian, Keikhlasan, dan Introspeksi Seorang Pemimpin

Lebih lanjut, Haedar mengajak umat Islam menjadikan Isra Miraj sebagai momentum untuk kembali menggali keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, kondisi bangsa saat ini masih diwarnai krisis figur panutan, baik di kalangan elit maupun masyarakat luas.

“Mari jadikan peringatan Isra Miraj untuk belajar terus menerus menampilkan keteladanan yang otentik,” kata Haedar.

Ia secara khusus menyoroti peran pemimpin publik yang memiliki tanggung jawab besar dalam membangun kepercayaan masyarakat.

Isra Miraj, kata dia, perlu dijadikan cermin untuk menjaga kehati-hatian dalam bertindak dan berbicara.

Haedar juga mengingatkan agar kalangan elit menjaga konsistensi antara ajaran moral dan praktik kehidupan nyata.

Ketidaksesuaian antara nilai agama dan tindakan, menurutnya, dapat merusak kepercayaan publik dan memperlemah fondasi sosial.

Di tengah kegersangan teladan yang dirasakan masyarakat, Haedar berharap para tokoh di berbagai level mampu menghadirkan kesejukan moral.

“Jika peran suasana itu dijalankan, kehadiran para tokoh di berbagai level akan menjadi semacam oase bagi masyarakat luas yang haus akan keteladanan,” ungkapnya.

Bagi Haedar, Isra Miraj bukan hanya peristiwa spiritual masa lalu, tetapi juga panggilan etis untuk membangun kehidupan bangsa yang berlandaskan iman, ketakwaan, dan integritas. 

Baca juga: Khutbah Jumat 16 Januari 2026 tentang Isra Miraj: Perjalanan Penuh Hikmah dan Perintah Shalat

Murakabah sebagai Kesadaran Spiritual Pengendali Perilaku

Konsep murakabah yang disinggung Haedar Nashir merujuk pada kesadaran batin seorang hamba bahwa dirinya senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT.

Dalam tradisi tasawuf dan akhlak Islam, murakabah dipahami sebagai kondisi spiritual yang membuat seseorang berhati-hati dalam berpikir, berkata, dan bertindak, baik di ruang privat maupun di hadapan publik.

Secara etimologis, murakabah berasal dari kata raqaba yang berarti mengawasi atau memperhatikan dengan penuh kesadaran.

Dalam konteks keimanan, murakabah melatih seorang Muslim untuk menghadirkan rasa kehadiran Allah dalam setiap aktivitas kehidupan.

Kesadaran ini tidak hanya membentuk hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga berdampak langsung pada etika sosial.

Baca juga: 35 Ucapan Isra Mi’raj 2026 Paling Menyentuh, Penuh Doa dan Makna

Para ulama, seperti Imam Al-Ghazali dalam karya Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa murakabah merupakan tahap penting dalam penyucian jiwa.

Ketika seseorang meyakini bahwa Allah Maha Melihat setiap perbuatan, maka dorongan untuk melakukan keburukan akan melemah. Sebaliknya, keinginan untuk berbuat jujur, adil, dan amanah akan semakin menguat.

Dalam konteks kebangsaan sebagaimana disampaikan Haedar, murakabah menjadi fondasi moral yang relevan bagi pemimpin dan warga negara.

Kesadaran spiritual ini diharapkan mampu mencegah praktik korupsi, penyalahgunaan wewenang, serta perilaku tidak etis yang merugikan kepentingan publik.

Dengan demikian, murakabah tidak berhenti sebagai konsep teologis, tetapi menjelma menjadi etos hidup yang menuntun umat Islam untuk menghadirkan nilai-nilai ketakwaan dalam ruang sosial.

Momentum Isra Miraj yang menegaskan kedekatan Rasulullah SAW dengan Allah SWT, menjadi pengingat kuat bahwa relasi ketuhanan yang mendalam seharusnya melahirkan tanggung jawab moral yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar