Editor
KOMPAS.com-Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan bahwa enam calon petugas haji dipulangkan dari pendidikan dan pelatihan (diklat) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, karena tidak jujur terkait kondisi kesehatannya.
Pernyataan itu disampaikan Dahnil saat apel malam di hadapan lebih dari 1.600 peserta diklat calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1447 H/2026 M, Kamis (15/1/2026) malam.
“Laporan yang saya terima sudah ada yang berguguran, ada setidaknya enam orang, tiga di antaranya karena sakit,” ujar Dahnil, dilansir dari Antara.
Baca juga: Cerita Dahnil soal Jamaah Haji Asal Lampung, Jual Rumah dan Hidup Menumpang demi Berhaji
Dahnil menyoroti ketidakjujuran peserta sejak proses awal seleksi, terutama terkait riwayat penyakit yang dinilai berisiko menular atau dapat mengganggu kinerja tim selama bertugas.
Ia menyebut, beberapa peserta diketahui menyembunyikan penyakit serius seperti tuberkulosis (TBC) dan gangguan ginjal, yang berpotensi membahayakan petugas lain.
“Sejak awal masuk tidak jujur menyatakan bahwasanya dia ada sakit, misalnya TBC atau ginjal yang justru bisa mencelakai teman-teman sekalian,” kata Dahnil.
Menurut dia, penyakit seperti TBC memiliki risiko penularan, sehingga pihaknya memutuskan untuk memulangkan peserta tersebut sekaligus menggugurkan haknya sebagai calon petugas.
Dahnil menegaskan, menjadi petugas haji bukan sekadar kesempatan beribadah tanpa biaya, melainkan amanah besar yang menuntut kesiapan fisik dan pemenuhan syarat kesehatan atau istitha’ah.
Baca juga: Dahnil: Penegak Hukum Jangan Ragu Tangkap ASN Kemenhaj yang Korupsi
Petugas haji harus mampu bekerja dalam situasi berat, termasuk menghadapi cuaca ekstrem dan kelelahan saat mendampingi jamaah, terutama jamaah lansia.
Jika petugas berada dalam kondisi sakit, pelayanan kepada jamaah berisiko terganggu dan dapat berdampak pada kinerja seluruh tim.
Karena itu, Dahnil mengingatkan peserta yang masih mengikuti diklat agar menjaga kesehatan hingga pelatihan berakhir pada 30 Januari.
Ia juga menekankan pentingnya filosofi “satu keluarga” antarpeserta, sehingga setiap petugas wajib memastikan dirinya tidak menjadi sumber risiko bagi petugas lain.
“Kita ingin semuanya tetap sehat dan bugar untuk memastikan nanti pada bulan April dan Mei kita bisa bertugas dengan baik,” ujar Dahnil.
Dahnil menegaskan, standar kesehatan dan kejujuran menjadi syarat utama bagi calon petugas haji, sekaligus menunjukkan ketegasan Kemenhaj dalam menindak peserta yang menutupi kondisi fisik melalui manipulasi data kesehatan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.