Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Putra Mahkota Dubai Pulihkan Tubuh Secara Esktrem: Terapi Es Minus 110 Derajat

Kompas.com, 21 Januari 2026, 08:48 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Perjalanan internasional kerap membuat tubuh kelelahan, bahkan bagi seorang putra mahkota.

Sheikh Hamdan bin Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Putra Mahkota Dubai yang juga Wakil Perdana Menteri serta Menteri Pertahanan Uni Emirat Arab, baru-baru ini membagikan cara ekstremnya memulihkan kondisi tubuh setelah bepergian jauh.

Melalui akun Instagram @faz3, Sheikh Hamdan menceritakan bahwa alat pemantau kebugarannya, Whoop, menunjukkan skor pemulihan hanya 31 usai perjalanan dinas. Angka itu menandakan tubuhnya membutuhkan penanganan serius.

Baca juga: Salju Turun di Arab Saudi, Otoritas Keluarkan Peringatan Cuaca Ekstrem

“Ketika pemulihan rendah setelah perjalanan, saya tidak panik, saya menyesuaikan diri,” tulisnya sambil memperkenalkan ritual yang ia sebut sebagai reset protocol.

Dari Terapi Cahaya hingga Ruang Es Ekstrem

Ritual pemulihan dimulai dengan 20 menit terapi lampu merah yang membantu relaksasi otot. Setelah itu, tahap yang jauh lebih menantang menanti: icelab dengan suhu ekstrem minus 110 derajat Celsius.

Prosesnya dilakukan bertahap melalui tiga ruangan. Pertama pada suhu minus 10 derajat, lalu minus 60 derajat, sebelum akhirnya memasuki ruang utama minus 110 derajat.

Adaptasi bertahap ini membantu tubuh menyesuaikan diri sekaligus menguapkan kelembapan di kulit.

Menariknya, suhu yang sangat dingin terasa lebih “bersahabat” karena kelembapan udara hampir nol.

Pada kondisi itu, udara menyusut sehingga setiap tarikan napas membawa oksigen hampir dua kali lipat dari kondisi normal.

Pengguna wajib mengenakan perlengkapan khusus: sarung tangan, kaus kaki dan sepatu, penutup telinga, masker kertas, serta pakaian renang.

Di dalam ruangan, peserta hanya berjalan perlahan selama satu hingga tiga menit.

Saat keluar, tubuh akan merasakan lonjakan adrenalin dan sensasi kesemutan, yang kemudian berubah menjadi rasa rileks akibat pelepasan endorfin.

Sauna Panas, Lalu Dingin Lagi

Tahap berikutnya adalah sauna 80–90 derajat Celsius selama 26 menit. Sheikh Hamdan menyebut lima menit pertama belum dihitung karena tubuh masih menyesuaikan diri dari kondisi beku.

Penutup ritual adalah berendam lima menit di kolam air dingin, melengkapi siklus panas–dingin yang dipercaya mempercepat pemulihan.

Manfaat Ilmiah Terapi Krioterapi

Terapi suhu ekstrem ini banyak digunakan atlet profesional untuk memangkas waktu pemulihan hingga sepertiga.

Sejumlah studi menyebut krioterapi membantu meredakan nyeri otot, mengurangi peradangan, hingga mempercepat rehabilitasi cedera.

Efek lainnya adalah pelepasan dopamin dan endorfin yang bermanfaat untuk mengatasi gangguan tidur, kelelahan kronis, bahkan burnout.

Ada pula klaim manfaat estetika seperti peningkatan produksi kolagen dan pengencangan kulit.

Namun metode ini tidak untuk semua orang. Pengawasan medis diperlukan, terutama bagi penderita hipertensi tak terkontrol, penyakit jantung, atau sindrom Raynaud.

Gaya Hidup Sehat ala Putra Mahkota

Sheikh Hamdan dikenal terbuka membagikan aktivitas pribadinya, mulai dari tugas kenegaraan hingga rutinitas kebugaran. Terbaru, ia mendampingi Presiden Sheikh Mohamed dalam kunjungan kenegaraan ke India.

Baca juga: Salju Turun di Arab Saudi, Jabal Al Lawz Berubah Jadi Negeri Musim Dingin

Di sela agenda diplomatik, ia tetap menyempatkan waktu untuk olahraga dan pemulihan tubuh—kali ini dengan cara yang tak biasa: berhadapan dengan dingin ekstrem minus 110 derajat.

Bagi yang penasaran mencoba, Sheikh Hamdan telah membagikan panduan lengkapnya. Syaratnya hanya satu: siap menghadapi suhu sedingin Antartika.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar