Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fakta Gua Safarwadi Tasikmalaya, Wisata Religi yang Disebut Punya Jalan Tembus ke Mekkah

Kompas.com, 19 April 2026, 23:08 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Gua Safarwadi di Tasikmalaya, Jawa Barat, sempat menjadi perhatian publik karena disebut memiliki jalan pintas yang tembus ke Mekkah, Arab Saudi.

Narasi tersebut memicu rasa penasaran banyak masyarakat dan peziarah yang datang ke tempat wisata religi ini.

Di balik cerita yang beredar, Gua Safarwadi menyimpan sejarah panjang sebagai pusat ziarah dan penyebaran Islam di wilayah selatan Jawa Barat.

Baca juga: Fakta Goa Safarwadi Pamijahan Tasikmalaya: Bukan Jalan Pintas ke Mekkah, Melainkan Patilasan Syekh Abdul Muhyi

Gua Safarwadi juga dikenal dengan nama Gua Pamijahan. Lokasinya berada di Panyalahan, Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya.

Sejak lama, kawasan ini menjadi destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

Sorotan muncul setelah beredar cerita bahwa salah satu lorong di gua tersebut merupakan jalan pintas menuju Mekkah.

Kisah itu sebenarnya telah lama didengar dan tersebar di kalangan peziarah dan masyarakat sekitar.

Baca juga: Goa Safarwadi Tasikmalaya Viral Jelang Ramadhan, Disebut Tembus Mekkah

Penjelasan Kasepuhan Pamijahan

Kasepuhan Pamijahan Kiai Endang Adjidin menjelaskan bahwa Gua Safarwadi pada masa lalu diyakini menjadi tempat berkumpul para wali di Tasikmalaya.

Menurutnya, para wali merupakan tokoh yang berperan menyebarkan agama Islam di Nusantara. Mereka berdakwah dengan pendekatan yang menyesuaikan adat dan budaya masyarakat setempat.

Konon, Gua Safarwadi menjadi salah satu lokasi penyebaran Islam di wilayah Tasikmalaya. Di tempat itu pula Syekh Abdul Muhyi disebut beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Syekh Abdul Muhyi dikenal sebagai tokoh penyebar Islam di Pamijahan. Ia disebut sebagai murid Syekh Abdul Qodir Djaelani yang diperintahkan pergi ke Tasikmalaya untuk mencari gua sebagai tempat berkhalwat atau beribadah secara khusyuk.

"Sejarah juga mengatakan bahwa Goa Safarwadi ini merupakan tempat berkhalwatnya (beribadah khusyu) Syekh Abdul Qodir Al Jaelani asal Arab,” jelas Kiai Endang, Senin (10/2/2025), dikutip dari Kompas.com.

Kiai Endang mengatakan, di dalam gua terdapat beberapa cabang jalan yang menurut cerita lama menjadi akses para wali menuju dan datang dari Banten, Cirebon, Surabaya, hingga Kota Mekkah.

Cerita tersebut berkembang dari keyakinan bahwa para wali memiliki karomah yang diberikan Sang Pencipta.

Karena itu, kisah lorong tembus ke Mekkah terus hidup dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah.

Namun demikian, pengelola gua telah menutup lorong yang dikaitkan dengan cerita tersebut menggunakan teralis besi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Jadi sekarang saja ada media sosial yang menjadikannya viral. Kalau dari kalangan muslim yang berziarah ke sini, sudah sejak dulu cerita ini ada turun temurun," tambah dia.

Bukan Jalan Pintas ke Makkah

Salah seorang peziarah juga menampik mitos yang lama beredar di masyarakat soal adanya jalan pintas ke Makkah di gua tersebut.

"Itu cerita zaman dulu para wali yang memiliki karomah dari Allah SWT. Jadi bukan cerita saat ini ada orang yang bisa pergi ke Mekkah dan viral. Salah itu. Jadi tempat itu adalah patilasan atau tempat yang dulunya dipakai Syekh Abdul Muhyi beribadah," kata salah satu peziarah asal Tasikmalaya, Ujang Yonih (38) kepada Kompas.com, Kamis (5/2/2025).

Cerita itu adalah informasi mulut ke mulut dari para murid Syekh Abdul Muhyi sampai ke para santri di beberapa pondok pesantren di Desa Pamijahan tersebut.

"Kalau zaman dulu dengan karomah yang diberikan Allah SWT kepada para walinya itu sangat mungkin dan memang itu ada buktinya. Tapi, kalau misalkan orang zaman sekarang dan berharap begitu, itu masih jauh sekali kebenarannya," kata Ujang.

Lekukan Batu Serupa Kopiah Haji

Di area gua juga terdapat lekukan pada dinding batu yang menyerupai kopiah haji berbentuk lonjong bulat.

Sebagian peziarah meyakini jika bentuk kepala seseorang pas dengan lekukan tersebut, maka orang itu akan segera berangkat haji ke Mekkah.

Kepercayaan itu menjadi salah satu cerita lokal yang masih dikenal hingga kini dan menambah daya tarik spiritual kawasan Gua Safarwadi.

Sumber Air yang Tak Pernah Kering

Selain cerita lorong menuju Mekkah, Gua Safarwadi juga dikenal memiliki sumber air yang tidak pernah surut meski musim kemarau panjang.

Air tersebut biasa diminum langsung atau digunakan berwudhu oleh peziarah sebelum melaksanakan salat di lokasi. Sebagian masyarakat setempat meyakini air itu seperti air zam-zam di Mekkah karena tidak pernah kering sejak dahulu.

"Air tersebut dulunya merupakan tempat para wali dan Syekh Abdul Muhyi untuk berwudhu dan mengambil air untuk diminum," kata Kiai Endang.

"Alhamdulillah atas kehendak Allah, air itu tidak pernah surut meski dalam kondisi apapun. Airnya pun tetap jernih dan bersih," lanjut dia.

Ziarah ke Makam Syekh Abdul Muhyi

Masih di sekitar kawasan gua, terdapat kompleks makam Syekh Abdul Muhyi dan para muridnya yang berjarak sekitar satu kilometer.

Pengunjung yang datang ke gua disebut tidak bisa langsung masuk. Mereka diwajibkan terlebih dahulu berziarah ke makam Syekh Abdul Muhyi.

"Para pengunjung diwajibkan untuk mengumandangkan adzan sebelum mengelilingi goa," ungkap Kiai Endang.

"Setelah itu, barulah kuncen dan para pemandu membawa rombongan pengunjung untuk menelusuri area Goa Pamijahan. Jadi, sudah kebiasaannya seperti itu," bebernya.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "akta Goa Safarwadi Pamijahan Tasikmalaya: Bukan Jalan Pintas ke Mekkah, Melainkan Patilasan Syekh Abdul Muhyi" dan di TribunJabar.id dengan judul "Cerita di Balik Gua Safarwadi Tasikmalaya yang Viral Diyakini Tembus ke Mekkah, Dulunya Tempat Wali"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Doa Tolak Bala untuk Meminta Perlindungan: Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
Doa Tolak Bala untuk Meminta Perlindungan: Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Tren Umrah Mandiri, Menhaj ke Travel: Tingkatkan Layanan, Bukan Perang Harga
Tren Umrah Mandiri, Menhaj ke Travel: Tingkatkan Layanan, Bukan Perang Harga
Aktual
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Aktual
Fenomena Sosial 'Marriage is Scary': Bagaimana Pandangan Islam?
Fenomena Sosial "Marriage is Scary": Bagaimana Pandangan Islam?
Aktual
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
Aktual
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Aktual
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Aktual
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Aktual
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Doa dan Niat
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
Aktual
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
Aktual
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Aktual
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Aktual
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar