Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tiga Kelompok Jemaah Haji yang Paling Rentan Saat Hadapi Cuaca Panas Ekstrem di Tanah Suci

Kompas.com, 11 Mei 2026, 21:50 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Cuaca panas ekstrem di Tanah Suci menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah haji Indonesia selama menjalankan rangkaian ibadah haji 2026.

Dokter spesialis gizi klinik dr. Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, Sp.GK mengingatkan ada tiga kelompok jemaah yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan akibat suhu tinggi di Makkah dan Madinah.

Kelompok tersebut dinilai lebih mudah mengalami dehidrasi karena kondisi tubuh yang lebih sensitif terhadap perubahan suhu dan kekurangan cairan.

Baca juga: Dokter Gizi Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Dehidrasi dan Heat Stroke di Tanah Suci

Karena itu, jemaah haji diminta meningkatkan kewaspadaan dan menjaga asupan cairan agar kondisi tubuh tetap stabil selama beribadah.

Jemaah Lansia dan Penderita Penyakit Metabolik Paling Rentan

Pande Putu mengatakan jemaah lanjut usia (lansia), penderita penyakit metabolik, serta jemaah dengan riwayat gangguan saluran cerna menjadi kelompok yang paling rentan terdampak cuaca panas ekstrem.

Baca juga: Dokter Gizi Bagikan Tips Bagi jemaah Haji Saat Beraktivitas di Tengah Cuaca Panas Ekstrem di Tanah Suci

“Ada kelompok jemaah dengan riwayat penyakit metabolik, jemaah usia lansia, serta jemaah dengan riwayat gangguan saluran cerna,” kata Pande Putu saat dihubungi ANTARA, Senin.

Dokter lulusan Gizi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami dehidrasi selama menjalankan ibadah haji.

Menurutnya, kondisi dehidrasi dapat memicu peningkatan kerja jantung dan memperberat fungsi ginjal, terutama bagi jemaah yang sudah memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Gejala Dehidrasi yang Harus Diwaspadai Jemaah Haji

Pande Putu mengingatkan jemaah agar segera mengenali gejala awal dehidrasi sebelum kondisi semakin berat.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain tubuh terasa lemah, nyeri kepala, limbung, pandangan buram, hingga mual.

Ia juga meminta jemaah lansia tidak menunggu rasa haus untuk mulai minum air karena sensasi haus dapat menurun pada kondisi dehidrasi kronis.

“Usahakan untuk konsumsi cairan sedikit tapi bertahap,” ujarnya.

Menurutnya, pola konsumsi cairan secara bertahap lebih efektif menjaga hidrasi tubuh di tengah aktivitas ibadah dan suhu panas yang tinggi.

Jemaah Dianjurkan Rutin Minum dan Konsumsi Buah

Selain memperbanyak minum air mineral, jemaah juga dianjurkan mengonsumsi buah dengan kandungan air tinggi serta makanan berkuah.

"Konsumsi buah-buahan dengan kandungan air yang tinggi, dan konsumsi asupan dengan kuah, sangat membantu menjaga hidrasi tubuh," tambahnya.

Asupan cairan yang cukup dinilai menjadi salah satu cara penting untuk menjaga stamina jemaah selama menjalankan ibadah haji di Tanah Suci.

Kemenhaj Imbau Jemaah Waspadai Cuaca Panas

Sebelumnya, Kementerian Haji dan Umrah RI melalui media sosial juga mengingatkan jemaah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca panas ekstrem selama musim haji berlangsung.

Dalam unggahan tersebut, Kemenhaj mengimbau jemaah agar rutin minum air dan tidak menunggu haus, menggunakan payung atau pelindung berwarna terang, serta beristirahat secara berkala di tempat teduh untuk menghindari kelelahan akibat suhu tinggi.

Imbauan tersebut diberikan agar jemaah tetap sehat dan mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan aman dan lancar.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar