Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ahmad Tholabi Kharlie
Dosen

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ketika Pesantren Diuji

Kompas.com, 13 Mei 2026, 07:35 WIB

Peringatan: Artikel ini memuat informasi mengenai pelecehan atau kekerasan seksual yang dapat memicu ketidaknyamanan atau trauma bagi sebagian pembaca

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SERANGKAIAN kasus dugaan kekerasan seksual dan penyimpangan moral di sejumlah pesantren dipandang sebagai luka sosial yang dapat menggerus kepercayaan terhadap ruang pendidikan agama.

Peristiwa-peristiwa tersebut telah menghadirkan kegelisahan yang luas karena terjadi di lingkungan yang selama ini dikenal sebagai sentra pembinaan moral dan keagamaan.

Kasus Pondok Pesantren Ndolo Kusumo di Tlogowungu, Pati, hanyalah salah satu contoh yang belakangan menyita perhatian publik.

Sebelumnya, pelbagai pemberitaan tentang kekerasan seksual di sejumlah pesantren di Jawa Barat, Jawa Timur, NTB, hingga beberapa daerah lain, turut memperlihatkan pola yang hampir serupa, yakni relasi kuasa yang timpang, kultur tertutup, korban yang takut bersuara, serta penggunaan simbol agama untuk melindungi pelaku.

Menteri Agama Nasaruddin Umar (6/5) secara terbuka menegaskan bahwa tidak ada toleransi terhadap segala bentuk kekerasan dan pelecehan, baik fisik, verbal, maupun seksual.

Menurutnya, tindakan semacam itu bukan hanya pelanggaran hukum, tapi juga perbuatan yang mencederai martabat kemanusiaan dan nilai-nilai agama.

Menteri Agama juga menegaskan bahwa lembaga pendidikan agama harus menjadi ruang yang aman dan bermartabat bagi peserta didik.

Karena itu, Kementerian Agama mulai memperkuat regulasi dan mekanisme pembinaan satuan pendidikan keagamaan, termasuk pembentukan satuan pembinaan pondok pesantren yang melibatkan kolaborasi antarpimpinan pesantren untuk memperkuat pengawasan dan mencegah penyimpangan di lingkungan pesantren.

Langkah ini penting dipahami secara jernih agar publik tidak terjebak pada narasi yang menyederhanakan persoalan maupun mengaburkan upaya pembenahan yang sedang dilakukan.

Kuasa dan keteladanan

Dalam beberapa tahun terakhir, tidak sedikit lembaga yang tumbuh sangat cepat dengan pola relasi yang tertutup, minim pengawasan, dan menempatkan pengasuh sebagai pusat kekuasaan yang nyaris tidak dapat dipertanyakan.

Dalam situasi seperti ini, relasi guru dan murid berpotensi bergeser menjadi relasi dominasi yang timpang.

Padahal, dalam tradisi pesantren yang otentik, legitimasi seorang kiai lahir melalui proses panjang. Ada sanad keilmuan yang jelas, proses belajar kepada ulama yang diakui, keterhubungan dengan komunitas keilmuan, serta keteladanan yang teruji dalam waktu panjang.

Tradisi inilah yang selama ini menjadi mekanisme kontrol moral dalam kehidupan pesantren.

Karena itu, persoalan utama sesungguhnya bukan terletak pada pesantren sebagai institusi pendidikan Islam. Yang perlu menjadi perhatian adalah ketika simbol agama digunakan untuk membangun kekuasaan pribadi tanpa akuntabilitas yang memadai.

Dalam keadaan demikian, kritik sering dipandang sebagai ancaman, pengawasan melemah, dan ruang penyalahgunaan wewenang menjadi semakin terbuka.

Dalam banyak kasus, pola seperti ini biasanya ditandai oleh lemahnya transparansi kelembagaan, tidak adanya mekanisme pengaduan yang aman, terbatasnya akses komunikasi santri dengan keluarga, serta absennya pengawasan internal yang independen.

Akibatnya, korban sering berada dalam posisi yang sulit untuk berbicara, bahkan ketika mengalami kekerasan.

Di titik inilah masyarakat perlu lebih cermat membedakan antara pesantren yang tumbuh dalam tradisi keilmuan yang sehat dengan lembaga yang sekadar menggunakan simbol kesalehan untuk membangun pengaruh personal.

Sebab, menjaga kehormatan pesantren tidak dapat dilakukan dengan menutup mata terhadap persoalan yang terjadi, tapi melalui keberanian memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan terhadap santri sebagai amanah utama pendidikan.

Pembenahan sistemik

Kasus Pati seharusnya menjadi momentum evaluasi besar dalam tata kelola pendidikan pesantren berbasis asrama.

Pembenahan tidak cukup berhenti pada proses hukum terhadap pelaku. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem perlindungan yang mampu mencegah lahirnya kasus serupa di masa depan.

Pertama, diperlukan standar perlindungan santri yang lebih ketat dan terukur. Kementerian Agama perlu memastikan bahwa setiap pesantren memiliki mekanisme safeguarding yang jelas, mulai dari prosedur pengaduan internal, sistem pelaporan eksternal, hingga audit berkala yang tidak berhenti pada aspek administratif semata.

Kedua, perlu tersedia saluran pengaduan rahasia yang benar-benar aman bagi santri. Banyak korban baru berani berbicara setelah keluar dari lingkungan pesantren.

Keadaan ini menunjukkan bahwa rasa takut masih sangat besar. Negara dan lembaga keagamaan perlu menghadirkan mekanisme pelaporan yang melindungi korban dari tekanan, intimidasi, maupun stigma sosial.

Ketiga, verifikasi rekam jejak pengasuh perlu diperkuat sebagai bagian dari proses perizinan lembaga pendidikan keagamaan.

Pengasuh pesantren adalah pemimpin administratif sekaligus figur yang memegang otoritas moral dan spiritual. Karena itu, rekam jejak pendidikan, sanad keilmuan, afiliasi kelembagaan, serta integritas personal perlu menjadi bagian penting dalam proses evaluasi.

Keempat, pendidikan mengenai perlindungan diri dan kekerasan seksual perlu diintegrasikan secara proporsional dalam lingkungan pesantren.

Santri perlu memahami batas relasi yang sehat, hak atas perlindungan diri, serta keberanian menyampaikan laporan ketika mengalami kekerasan.

Pendidikan semacam ini merupakan bagian dari ikhtiar menjaga martabat manusia yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam.

Kelima, perhatian terhadap korban tidak boleh berhenti pada proses hukum. Korban memerlukan pendampingan psikologis, dukungan sosial, serta perlindungan dari stigma yang sering kali justru muncul dari lingkungan sekitar.

Pemulihan korban harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan beban yang ditanggung sendiri oleh para penyintas.

Menjaga amanah

Tidak adil menyamaratakan ribuan pesantren yang selama ini berkhidmat dengan baik hanya karena perbuatan segelintir pelaku.

Pesantren memiliki sejarah panjang dalam membangun pendidikan, membentuk karakter bangsa, menjaga tradisi keilmuan Islam, serta melahirkan banyak tokoh yang berkontribusi bagi negeri.

Karena itu, menjaga kehormatan pesantren tidak dapat dilakukan dengan menutup mata terhadap persoalan yang terjadi.

Kehormatan pesantren justru dijaga melalui keberanian membersihkan praktik-praktik yang mencederai nilai luhur pendidikan Islam.

Di sinilah organisasi keagamaan, tokoh masyarakat, dan pemerintah memiliki tanggung jawab moral yang besar. Ekosistem pesantren yang sehat membutuhkan transparansi, akuntabilitas, serta keberanian menempatkan keselamatan santri sebagai prioritas utama.

Di saat yang sama, masyarakat juga perlu lebih bijak dalam menyikapi arus informasi digital. Penyebaran hoaks, potongan informasi yang tidak utuh, maupun framing yang sengaja diarahkan untuk membangun kebencian hanya akan memperkeruh suasana dan mengaburkan substansi persoalan.

Yang dibutuhkan saat ini bukan kegaduhan, tapi kesungguhan memperbaiki tata kelola pendidikan keagamaan secara bersama-sama.

Pesantren yang kuat bukan hanya pesantren yang besar secara fisik atau ramai secara jumlah santri. Pesantren yang kuat adalah pesantren yang mampu menjaga amanah pendidikan dengan integritas, menghadirkan rasa aman bagi santri, serta tetap teguh pada nilai-nilai akhlak yang menjadi fondasi lahirnya tradisi pesantren itu sendiri.

Pendidikan Islam tidak boleh menjadi ruang yang memberi tempat bagi predator berlindung di balik simbol kesalehan. Justru dari lingkungan pendidikan agama harus lahir keberanian moral untuk melindungi yang lemah, menegakkan keadilan, dan menjaga kemuliaan manusia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar