Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jemaah Haji Diminta Bijak Konsumsi Vitamin C, Ini Aturannya

Kompas.com, 14 Mei 2026, 11:10 WIB
Pythag Kurniati,
Farid Assifa

Tim Redaksi

JEDDAH, KOMPAS.com - Menjaga daya tahan tubuh di tengah cuaca ekstrem Arab Saudi memang penting bagi jemaah haji, salah satunya melalui asupan vitamin. Namun, konsumsi vitamin C yang sembarangan tanpa takaran yang pas justru bisa berbahaya bagi kesehatan.

Dokter dari Sektor 1 Daerah Kerja (Daker) Bandara, dr Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, memberikan peringatan terkait hal ini. Risikonya antara lain mengalami masalah lambung dan ginjal.

"Niat menjaga daya tahan tubuh sangat baik, namun penggunaan vitamin C yang kurang tepat justru bisa memicu nyeri lambung atau memperberat kerja ginjal, terutama di tengah cuaca panas yang berisiko dehidrasi," tegas dr Fathi, Kamis (14/5/2026).

Baca juga: Buku Saku Haji 2026 Gratis, Berisi Doa Lengkap dari Berangkat hingga Tawaf Wada

Agar suplemen bekerja optimal tanpa merusak organ tubuh, dr. Fathi memaparkan sejumlah hal krusial yang wajib diperhatikan:

1. Hindari Dosis Tinggi

Banyak orang keliru mengira bahwa dosis tinggi lebih ampuh. Faktanya, tubuh memiliki batas dalam menyerap vitamin C. Orang dewasa laki-laki hanya perlu 90 mg dan perempuan hanya butuh 75 mg vitamin C untuk menjaga imun harian.

"Sisanya akan dibuang melalui urin dan jika berlebih bisa memicu pembentukan batu ginjal jika kurang minum."

2. Jangan Konsumsi Saat Perut Kosong

Waktu konsumsi vitamin C sangat menentukan kenyamanan lambung Anda. Jangan mengonsumsinya saat perut dalam kondisi kosong.

"Sebaiknya vitamin C diminum saat perut terisi. Ini penting untuk mencegah iritasi lambung dan memastikan penyerapan vitamin lebih optimal bersama nutrisi lainnya," ujar dia.

Dia menyarankan agar minum vitamin C di malam hari. Sebab di malam hari tubuh sedang fokus menyerapnya untuk memproduksi kolagen kulit dan perbaikan sel.

3. Lengkapi dengan Makanan Kaya Zat Besi

Vitamin C memiliki fungsi membantu tubuh menyerap zat besi dari makanan secara maksimal. Untuk itu, sebaiknya konsumsi vitamin C dibarengi dengan makan makanan kaya zat besi.

Dokter Fathi mencontohkan beberapa sumber zat besi yang baik, misalnya daging sapi, ikan, ayam, telur, bayam, kacang-kacangan dan kismis. "Hindari minum vitamin C berbarengan dengan teh, karena teh menghambat penyerapan zat besi."

4. Perbanyak Air Putih

Kinerja ginjal harus selalu dijaga dengan cara memperbanyak minum air putih. Minum yang cukup dapat membantu ginjal dalam bekerja.

"Vitamin C dosis tinggi yang tidak dilarutkan dengan air yang cukup dapat mengendap dan membebani fungsi ginjal," katanya.

5. Konsumsi Juga Vitamin Alami

Suplemen bukanlah pengganti makanan utuh. Tetap utamakan makan makanan bergizi yang mengandung vitamin alami, antara lain buah dan sayur.

Baca juga: Persiapan Puncak Haji di Arafah, Ini Dzikir dan Doa yang Dianjurkan untuk Jamaah

"Utamakan memakan jatah buah (jeruk, apel, atau pir) yang ada di katering. Vitamin dari buah asli lebih mudah diserap tubuh dan kaya akan serat," jelasnya.

6. Waspada Sinyal Tubuh

Kenali batasan tubuh untuk mewaspadai masalah akibat kelebihan dosis vitamin C. "Jika muncul rasa perih di ulu hati, mual, atau kencing terasa pekat setelah minum vitamin, segera hentikan konsumsi dan konsultasikan dengan petugas kesehatan," tutupnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar