Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3 Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, Mengharap Ridha Allah Jadi yang Utama

Kompas.com, 5 Juni 2026, 14:16 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com - Ikhlas merupakan salah satu amalan hati yang memiliki peran penting dalam setiap ibadah seorang muslim.

Nilai suatu ibadah tidak hanya ditentukan oleh tindakan yang dilakukan secara lahiriah, tetapi juga bergantung pada ketulusan niat yang ada di dalam hati.

Karena itu, ikhlas menjadi fondasi yang menentukan kualitas amal di sisi Allah SWT.

Baca juga: Syekh Nawawi al-Bantani, Ulama Banten yang Mendunia

Dilansir dari laman Kemenag, dalam kajian tasawuf dan akhlak, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa ikhlas memiliki beberapa tingkatan yang menunjukkan perbedaan tujuan seseorang dalam beribadah dan beramal saleh.

Pengertian Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani

Ikhlas adalah kondisi ketika seseorang melakukan ibadah dan amal saleh semata-mata karena Allah SWT.

Baca juga: 4 Cara Menghilangkan Sifat Riya Menurut Imam Al-Ghazali agar Ibadah Tetap Ikhlas

Semakin murni tujuan seseorang dalam beribadah, semakin tinggi pula tingkat keikhlasan yang dimilikinya.

3 Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani

Dalam kitab Nurudh Dholam (Syekh Nawawi Al-Bantani, Nurudh Dholam, [Kediri: PPA, tt], halaman 44), Syekh Nawawi membagi ikhlas ke dalam tiga tingkatan.

Pembagian ini menunjukkan bahwa tidak semua bentuk ikhlas berada pada level yang sama.

Ada tingkatan yang paling tinggi, menengah, hingga yang paling rendah berdasarkan tujuan yang ingin dicapai oleh seorang mukmin saat beribadah.

1. Ikhlas karena Allah, Tingkatan Tertinggi

Tingkatan pertama adalah ikhlas karena Allah SWT.

Menurut Syekh Nawawi, ini merupakan tingkatan ikhlas yang paling utama dan paling tinggi.

Pada tingkatan ini, seorang mukmin beribadah dan melakukan amal saleh semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.

Ia tidak mengharapkan balasan apa pun selain keridaan-Nya.

Bahkan, seseorang yang berada pada tingkatan ini tidak beribadah karena menginginkan pahala surga maupun karena takut terhadap siksa neraka.

Seluruh amal yang dilakukan benar-benar ditujukan untuk Allah SWT tanpa disertai kepentingan lain.

2. Ikhlas karena Akhirat, Tingkatan Menengah

Tingkatan kedua adalah ikhlas karena akhirat.

Pada level ini, seseorang tetap beribadah dan beramal saleh karena Allah SWT, tetapi disertai harapan memperoleh pahala dan kenikmatan surga.

Selain itu, ia juga menjalankan ibadah karena ingin terhindar dari siksa neraka.

Menurut Syekh Nawawi, bentuk ikhlas seperti ini berada pada tingkatan menengah.

Meski masih mengandung harapan terhadap balasan dan keselamatan di akhirat, tujuan tersebut tetap berkaitan dengan janji Allah SWT kepada hamba-Nya yang taat.

3. Ikhlas karena Dunia, Tingkatan Paling Rendah

Tingkatan terakhir adalah ikhlas karena dunia.

Pada tingkatan ini, seseorang menjalankan ibadah dengan harapan memperoleh keuntungan atau balasan yang bersifat duniawi.

Contohnya adalah membaca Surat Al-Waqi‘ah dengan harapan mendapatkan kekayaan, atau bersedekah dengan tujuan memperoleh rezeki yang berlipat ganda.

Menurut Syekh Nawawi, bentuk ikhlas seperti ini berada pada tingkatan paling rendah.

Hal itu karena tujuan utama ibadah lebih banyak diarahkan untuk memperoleh manfaat dunia daripada semata-mata mencari ridha Allah SWT.

Ikhlas Menjadi Penentu Nilai Ibadah

Penjelasan Syekh Nawawi Al-Bantani menunjukkan bahwa keikhlasan memiliki tingkatan yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan seseorang dalam beribadah.

Semakin murni niat seorang mukmin untuk mengharap ridha Allah SWT tanpa memikirkan balasan apa pun, semakin tinggi pula tingkat ikhlas yang dimilikinya.

Karena itu, ikhlas tidak hanya menjadi syarat diterimanya amal, tetapi juga menjadi ukuran kualitas ibadah seorang hamba di hadapan Allah SWT.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Wamenag Minta Pelaku Usaha dan Penyelenggara Acara Tak Jadikan Agama sebagai Komoditas
Wamenag Minta Pelaku Usaha dan Penyelenggara Acara Tak Jadikan Agama sebagai Komoditas
Aktual
100 Ucapan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang Islami untuk Status Media Sosial
100 Ucapan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang Islami untuk Status Media Sosial
Aktual
Doa Tolak Bala untuk Meminta Perlindungan: Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
Doa Tolak Bala untuk Meminta Perlindungan: Lengkap Tulisan Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Tren Umrah Mandiri, Menhaj ke Travel: Tingkatkan Layanan, Bukan Perang Harga
Tren Umrah Mandiri, Menhaj ke Travel: Tingkatkan Layanan, Bukan Perang Harga
Aktual
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Intip Toko Oleh-Oleh 1915 di Yogyakarta, Wadah Baru Produk UMKM Muhammadiyah
Aktual
Fenomena Sosial 'Marriage is Scary': Bagaimana Pandangan Islam?
Fenomena Sosial "Marriage is Scary": Bagaimana Pandangan Islam?
Aktual
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
5 Amalan Rabu Wekasan yang Dianjurkan dalam Islam
Aktual
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
10 Doa Tolak Bala Rebo Wekasan di Akhir Bulan Safar: Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Lomba Kemerdekaan 17 Agustus dalam Pandangan Islam: Antara Tradisi, Mubah, dan Sunnah
Aktual
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Menag Sebut Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Ilmu dan Peradaban Islam Dunia
Aktual
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Aktual
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Doa dan Niat
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
Aktual
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
Aktual
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar