Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Jenazah Ali Khamenei Baru Dimakamkan 4 Bulan Setelah Wafat? Ini Penjelasannya

Kompas.com, 3 Juli 2026, 22:05 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Reuters

KOMPAS.com - Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei akhirnya dimulai lebih dari empat bulan setelah mantan Pemimpin Tertinggi Iran itu tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu.

Selain Ali Khamenei, anggota keluarganya yang juga menjadi korban serangan turut disemayamkan berdampingan dalam prosesi tersebut, yakni putrinya, menantu laki-lakinya, cucu perempuan yang masih bayi, serta istri dari putranya, Mojtaba Khamenei.

Iran kini menggelar rangkaian prosesi penghormatan selama sepekan yang dipusatkan di sejumlah kota di Iran dan Irak.

Baca juga: Pemakaman Ali Khamenei Dimulai, Peti Kecil Sang Cucu Jadi Sorotan

Jarak waktu yang cukup panjang antara kematian dan pemakaman memicu pertanyaan publik karena dalam ajaran Islam jenazah umumnya dimakamkan sesegera mungkin.

Dilansir dari Reuters (3/7/2026), penundaan pemakaman Ali Khamenei ternyata berkaitan dengan situasi keamanan selama perang masih berlangsung.

Baca juga: Pemakaman Ali Khamenei Dimulai, Delegasi Sejumlah Negara Berdatangan ke Teheran

Pemakaman Ali Khamenei Ditunda karena Situasi Perang

Dalam ajaran Islam, jenazah seorang muslim pada umumnya dimakamkan dalam waktu satu hari setelah meninggal dunia.

Namun, prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei baru dilaksanakan setelah lebih dari empat bulan karena tingginya risiko menggelar pemakaman berskala besar di tengah perang.

Prosesi baru dijadwalkan setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara pada bulan lalu.

Iran kini baru bisa menggelar rangkaian pemakaman massal selama sepekan sebagai bentuk penghormatan kepada Ali Khamenei.

Pemerintah menyebut prosesi tersebut sebagai wujud penghormatan masyarakat terhadap Republik Islam Iran, sistem pemerintahan teokrasi, serta semangat revolusi yang diwariskan Khamenei.

Masa kepemimpinan Ali Khamenei selama 37 tahun berakhir pada Februari lalu setelah ia tewas dalam serangan udara pertama pada perang tersebut.

Pemerintah Iran juga menyiapkan berbagai fasilitas untuk mendukung kelancaran upacara pemakaman.

Hotel memberikan potongan harga hingga 50 persen bagi para pelayat. Sekolah, masjid, dan gedung olahraga difungsikan sebagai tempat menginap, sementara layanan bus dan kereta api dialihkan menuju lokasi-lokasi utama penyelenggaraan prosesi.

Jenazah Disemayamkan di Teheran Sebelum Dimakamkan

Jenazah Ayatollah Ali Khamenei disemayamkan di sebuah aula besar di Teheran pada Jumat.

Para ulama, pejabat pemerintah, tamu kehormatan dari berbagai negara, dan ribuan pelayat datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mantan Pemimpin Tertinggi Iran yang tewas akibat serangan bom Amerika Serikat dan Israel.

Setelah prosesi akbar di pusat Kota Teheran pada Senin, jenazah dijadwalkan dibawa ke Kota Qom pada Selasa.

Rangkaian penghormatan kemudian berlanjut ke Najaf dan Karbala di Irak pada Rabu dengan dihadiri sejumlah tokoh dari jaringan kelompok Syiah yang bersekutu dengan Iran.

Jenazah Ali Khamenei selanjutnya dimakamkan pada Kamis di Kota Mashhad, tepat di dekat Kompleks Makam Imam Reza, salah satu tempat paling suci bagi umat Syiah di Iran.

Sebelum dimakamkan di Mashhad, jenazah Khamenei dijadwalkan dibawa ke Qom, Najaf, dan Karbala, yang merupakan tiga pusat penting umat Syiah di Iran dan Irak.

Prosesi Pemakaman Berlangsung di Tengah Situasi Kritis Iran

Jelang pemakaman, Peti jenazah Ali Khamenei pertama kali diperlihatkan kepada publik pada Kamis malam.

Ribuan pendukung menangis, bergerak mengikuti lantunan ratapan, dan memukul kepala mereka sebagai ungkapan duka.

Bunga-bunga juga dilemparkan dari atas keranda ke arah kerumunan pelayat.

Pada Jumat, peti jenazah Khamenei beserta anggota keluarganya yang turut menjadi korban serangan disemayamkan di aula salat besar yang dibangun untuk mengenang pendahulunya, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Prosesi pemakaman berlangsung di tengah situasi yang dinilai sangat menentukan bagi Iran.

Para pemimpin agama yang didukung Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menilai mereka berhasil bertahan dari perang yang dianggap sebagai ancaman terbesar terhadap kelangsungan negara.

Pemerintah Iran berupaya mengerahkan jutaan warga untuk menghadiri prosesi dengan menyediakan transportasi, makanan, dan penginapan.

Di sisi lain, hampir lima dekade setelah Revolusi Islam 1979, Iran dinilai sedang menghadapi perpecahan internal yang belum pernah sebesar sekarang.

Sejumlah analis menilai dukungan terhadap kepemimpinan ulama semakin melemah.

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, belum terlihat lagi di hadapan publik sejak mengalami luka dalam serangan yang menewaskan ayahnya.

Iran juga masih menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional yang berkepanjangan.

Dalam beberapa tahun terakhir, demonstrasi besar terus terjadi dan dibubarkan aparat keamanan dengan tindakan yang semakin keras hingga menewaskan ribuan demonstran pada Januari lalu.

Meski demikian, pemerintah berupaya mengesampingkan berbagai persoalan tersebut dengan menampilkan kekuatan negara dan dukungan massa melalui prosesi pemakaman.

Pengamanan di Teheran diperketat dengan pengerahan kendaraan militer dan kepolisian di jalan-jalan utama.

Anggota polisi bersama pasukan sukarelawan Basij juga berpatroli menggunakan sepeda motor.

Iran turut memperingatkan Amerika Serikat dan Israel agar tidak melancarkan serangan selama rangkaian pemakaman berlangsung.

Peti Jenazah Dihiasi Simbol Keagamaan

Setelah tiba di lokasi pada Jumat dan diangkat di atas tangan ribuan pelayat, peti-peti jenazah ditempatkan di atas panggung bertingkat berwarna putih di dalam aula salat.

Di belakangnya berdiri mihrab besar berhias ubin bermotif rumit yang diapit bendera nasional Iran dan bendera hitam sebagai lambang masa berkabung.

Di atas peti jenazah Ali Khamenei diletakkan sorban hitam yang biasa dikenakan ulama keturunan Nabi Muhammad SAW.

Sorban tersebut berada di atas syal kotak-kotak yang di Iran menjadi simbol perjuangan revolusi dan solidaritas terhadap Palestina.

Sejumlah pemimpin dan pejabat asing menghadiri prosesi tersebut. Mereka antara lain mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, Wakil Ketua Kongres Rakyat Nasional China He Wei, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, dan Presiden Irak Nizar Amedi.

Keluarga pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah serta keluarga Imad Mughniyeh, komandan senior Hizbullah yang juga tewas dalam serangan Israel, turut hadir memberikan penghormatan.

Para pemimpin politik Iran, termasuk presiden, ketua parlemen, menteri luar negeri, dan sejumlah pejabat lain, datang bergantian untuk berdoa dan menangis di hadapan jenazah.

Sejumlah jenderal juga memberikan penghormatan militer di depan peti jenazah, termasuk Kepala Garda Revolusi yang baru, Ahmad Vahidi, yang baru pertama kali muncul di depan publik sejak diangkat karena sebelumnya dikhawatirkan menjadi target pembunuhan.

Tangisan Pelayat dan Makna Simbol Berkabung di Wafatnya Ali Khamenei

Dalam sistem pemerintahan teokrasi Iran, Ali Khamenei tidak hanya menjabat sebagai kepala negara dan pemimpin revolusi.

Ia juga dipandang sebagai wakil Imam ke-12 Syiah di muka bumi, tokoh yang diyakini menghilang pada abad ke-9.

Kematian Khamenei akibat serangan musuh dipandang memiliki makna khusus dalam tradisi Syiah yang menjunjung tinggi konsep kesyahidan dan berkabung.

Dalam tradisi tersebut, para pelayat biasanya memukul dada atau punggung sebagai bentuk penghormatan kepada para syuhada.

Simbol itu terlihat dari bendera-bendera hitam yang menghiasi jalan-jalan di berbagai kota Iran sejak kematian Khamenei.

Bendera tersebut juga merujuk pada peristiwa gugurnya Imam Husain pada abad ke-7, salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Syiah.

Sepanjang malam di pusat Kota Teheran, ribuan orang menangis dan meneriakkan yel-yel yang dipimpin anggota Basij, sementara relawan membagikan poster bergambar Ali Khamenei.

"Insya Allah, hanya dengan menuntut balas atas darah beliau, menegakkan keadilan, dan memastikan darah pemimpin kami tidak dibiarkan tanpa pembalasan, kesedihan rakyat ini sedikit demi sedikit bisa terobati," ujar Mobina Razaaghi, mahasiswi berusia 18 tahun asal Isfahan yang menghadiri prosesi bersama teman-teman kuliahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar