Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemenhaj: Potensi Ekonomi Haji dan Umrah Diperkirakan Capai Rp 80 Triliun per Tahun

Kompas.com, 7 Juli 2026, 11:44 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Potensi ekonomi haji dan umrah di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp 80 triliun setiap tahun.

Melihat besarnya potensi tersebut, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperkuat pengembangan ekosistem ekonomi haji agar manfaat penyelenggaraan ibadah tidak hanya dirasakan jamaah, tetapi juga memberikan dampak bagi perekonomian nasional.

Penguatan dilakukan melalui berbagai program, mulai dari peningkatan penggunaan produk dalam negeri, penguatan rantai pasok, hingga pengembangan investasi di sektor pendukung haji dan umrah.

Baca juga: Kemenhaj: Kepatuhan PPIHU terhadap Regulasi Jadi Kunci Perlindungan Jamaah Haji dan Umrah

Pemerintah juga mendorong digitalisasi ekosistem ekonomi haji untuk memperluas peluang pelaku usaha nasional dalam rantai nilai penyelenggaraan haji dan umrah.

Kemenhaj Optimalkan Potensi Ekonomi Haji hingga Rp80 Triliun

Kemenhaj melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (Ditjen PE2HU) terus memperkuat pengembangan ekosistem ekonomi haji guna mengoptimalkan potensi ekonomi haji dan umrah yang diperkirakan mencapai sekitar Rp80 triliun per tahun.

Baca juga: Wamen Ultimatum ASN Kemenhaj: Jangan jadikan Jemaah Haji dan Umrah Komoditas Ekonomi

Direktur Jenderal PE2HU Jaenal Effendi mengatakan pengembangan ekosistem ekonomi haji bertujuan memastikan penyelenggaraan haji tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pelayanan ibadah, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

"Pengembangan ekosistem ekonomi haji merupakan upaya untuk memastikan penyelenggaraan haji tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pelayanan ibadah, tetapi juga menghadirkan nilai tambah bagi perekonomian nasional melalui peningkatan keterlibatan produk, jasa, dan pelaku usaha dalam negeri," kata Direktur Jenderal PE2HU Jaenal Effendi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Menurut Jaenal, pemerintah terus memperkuat berbagai program strategis agar sektor haji dan umrah memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Penguatan Rantai Pasok dan Penggunaan Produk Lokal

Penguatan ekosistem ekonomi haji dilakukan melalui sejumlah langkah strategis, mulai dari penguatan rantai pasok, peningkatan penggunaan produk lokal, hingga pengembangan investasi pada sektor pendukung penyelenggaraan ibadah haji.

Salah satu upaya yang dijalankan adalah meningkatkan penetrasi produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji dan umrah.

Hingga saat ini, pemerintah telah mendorong ekspor sebanyak 28 jenis bumbu Nusantara dengan total volume lebih dari 300 ton.

Selain itu, pemerintah juga menyediakan sekitar 3,1 juta paket makanan siap saji bagi jamaah haji.

Kembangkan Transportasi dan Pariwisata Lewat Empty Flight

Ditjen PE2HU turut mengembangkan sektor transportasi dan pariwisata melalui optimalisasi penerbangan kosong (empty flight) guna mendukung kunjungan wisatawan dari kawasan Timur Tengah ke Indonesia.

Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Hingga saat ini, program tersebut telah melayani sebanyak 1.723 penumpang dan akan terus ditingkatkan pada periode berikutnya.

Perluas Peluang Investasi dan Digitalisasi Ekosistem Haji

Jaenal menjelaskan penguatan ekosistem ekonomi haji juga dilakukan melalui pendekatan investasi dari hulu hingga hilir.

Upaya tersebut mencakup penguatan sistem pengadaan serta distribusi produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji.

Menurut dia, langkah tersebut akan membuka peluang yang lebih besar bagi pelaku usaha nasional untuk berpartisipasi dalam rantai nilai penyelenggaraan haji dan umrah dengan potensi keterlibatan sekitar 30 hingga 40 persen.

Di sisi lain, pemerintah juga terus mengembangkan Platform Ekonomi Haji sebagai sarana integrasi ekosistem ekonomi haji secara digital.

Platform tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas akses pelaku usaha nasional dalam ekosistem ekonomi haji.

Sinergi Jadi Kunci Penguatan Ekosistem Ekonomi Haji

Jaenal menegaskan keberhasilan pengembangan ekosistem ekonomi haji tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja.

Menurut dia, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor utama dalam memperkuat rantai pasok nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia.

“Ekosistem ekonomi haji tidak dapat dibangun oleh satu pihak. Sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memperkuat rantai pasok nasional, membuka peluang investasi, meningkatkan daya saing produk dalam negeri, serta menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi,” kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar