Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gus Hilmy: Pihak yang Coba Intervensi Muktamar NU Jadi Musuh Bersama

Kompas.com, 27 Agustus 2026, 07:08 WIB
Reni Susanti

Editor


JOMBANG, KOMPAS.com — Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hilmy Muhammad menyerukan agar seluruh pengurus, kader, dan peserta Muktamar Ke-35 NU menjaga kemandirian organisasi dari intervensi kepentingan politik maupun kelompok tertentu.

Pria yang akrab disapa Gus Hilmy itu bahkan menyebut pihak yang mencoba mendikte, menekan, atau mencampuri urusan internal NU harus disikapi sebagai "musuh bersama".

"Siapapun yang mencoba mendikte, menekan, atau campur tangan dalam urusan internal organisasi harus disikapi sebagai musuh bersama yang ingin merecoki keutuhan NU. Musuh bersama harus dilawan bersama," kata Hilmy dalam rilisnya, Kamis (27/8/2026).

Baca juga: Kiai Sepuh Ingatkan Muktamar NU Bebas Intervensi, Minta Prabowo Tindak Pejabat yang Tak Patut

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Krapyak tersebut, sikap itu diperlukan untuk menjaga marwah dan kemandirian NU sekaligus kedaulatan peserta muktamar.

"Ini demi menjaga marwah organisasi dan kemandirian serta kedaulatan peserta muktamar," ujarnya.

Minta Peserta Muktamar Independen

Hilmy menegaskan, peserta muktamar merupakan kader NU yang mewakili kepengurusan di setiap tingkatan. Karena itu, mereka memiliki kedaulatan penuh dalam menentukan pilihan.

Ia meminta peserta Muktamar NU menggunakan hak suara berdasarkan hati nurani dan pertimbangan kemaslahatan organisasi, bukan karena tekanan pihak lain.

"Para peserta muktamar adalah kader-kader yang merdeka. Maka, jadilah kader yang independen. Gunakan hak suara dan nalar organisasi berdasarkan kemaslahatan umat, baik kepentingan mereka di tingkat cabang atau wilayah, maupun kemaslahatan dalam pengertian NU secara keseluruhan di masa yang akan datang," kata anggota DPD RI tersebut.

Hilmy meminta peserta tidak mengambil keputusan karena tekanan dari pihak di luar NU.

"Jangan sampai kita berpartisipasi karena tekanan pihak luar. Masa kita mau nuruti pihak yang mau merecoki dan memanfaatkan organisasi kita?" ujarnya.

Baca juga: Muktamar ke-35 NU Pakai Teknologi Canggih, 100 CCTV hingga AI Terhubung WhatsApp

Ingatkan Sejarah Tongkat dan Tasbih

Hilmy kemudian mengingatkan sejarah berdirinya NU, khususnya penyerahan tongkat dan tasbih dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy'ari melalui KH As'ad Syamsul Arifin.

Menurut dia, peristiwa tersebut mengandung pesan filosofis dan spiritual mengenai kepemimpinan NU.

"Kita ingatkan kembali pesan historis pendirian NU yang sarat makna filosofis dan spiritual melalui tongkat dan tasbih Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy'ari," kata Hilmy.

Ia memaknai tongkat dan tasbih tersebut sebagai simbol bahwa kepemimpinan NU harus dijalankan dengan kehati-hatian, ketulusan, dan syaja'ah atau keberanian.

"Keduanya adalah simbol kepemimpinan kiai yang kokoh dan sakral, bukan untuk mainan dan cengengesan, apalagi komoditas tawar-menawar politik pragmatis, dan tidak boleh diserahkan kepada pihak-pihak yang hendak mempermainkan masa depan NU demi kepentingan sesaat. Justru merekalah musuh kita bersama," tuturnya.

"Jangan Bermain-main dengan Tongkat"

Hilmy juga menyinggung pesan al-'asho liman 'asho yang menyertai penyerahan simbol tersebut.

Menurut dia, pesan itu dapat dimaknai bahwa pemimpin NU harus memiliki kompetensi dan kapabilitas untuk mencarikan jalan keluar atas berbagai persoalan dan tantangan organisasi.

"Ungkapan al-'asho liman 'asho itu ditafsirkan bahwa pemimpin NU harus mempunyai atau menjadi jalan atas setiap permasalahan dan tantangan, sehingga NU dapat berjalan sesuai tujuan dan mandatnya," ujarnya.

Hilmy kemudian kembali mengingatkan agar kepemimpinan NU tidak dipermainkan maupun dipengaruhi kepentingan pihak luar.

"Jangan bermain-main dengan tongkat, karena simbol kepemimpinan. Yang main-main justru adalah yang pantas digetok, diingatkan karena khawatir akan dapat kualat. Apalagi sampai menjerumuskan NU dengan berdampingan pada pihak luar yang ingin mengintervensi kita," kata dia.

Muktamar Harus Bermartabat

Hilmy mengajak seluruh Nahdliyin mengawal pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU dengan khidmat, bermartabat, dan penuh kegembiraan.

Menurut dia, muktamar menjadi momentum bagi NU untuk memasuki lembaran baru pada abad kedua organisasi.

"Muktamar ini harus kita jalani dengan khidmat, bermartabat, dan penuh suasana kegembiraan. Kita menyambut lembaran baru abad kedua sesuai dengan semangat tema kita, 'Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa'," ujarnya.

Hilmy mengatakan, tema tersebut sekaligus menegaskan sikap NU terhadap intervensi pihak luar.

"Tema ini adalah pernyataan sikap bahwa kita menolak segala intervensi demi menjadikan NU sebagai organisasi yang berdaya dan bermartabat," pungkasnya.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Baca tentang


Terkini Lainnya
Warga Palembang Gelar Sholat Istisqa di Griya Agung, Ini Tata Caranya
Warga Palembang Gelar Sholat Istisqa di Griya Agung, Ini Tata Caranya
Aktual
Ma'ruf Amin: Politik Uang Tak Pantas di Muktamar NU
Ma'ruf Amin: Politik Uang Tak Pantas di Muktamar NU
Aktual
Muktamar Ke-35 NU, Haedar Nashir Sampaikan Pesan Ukhuwah
Muktamar Ke-35 NU, Haedar Nashir Sampaikan Pesan Ukhuwah
Aktual
Adab Menjenguk Orang Sakit dalam Islam, Bukan Hanya Datang Bawa Buah
Adab Menjenguk Orang Sakit dalam Islam, Bukan Hanya Datang Bawa Buah
Aktual
Gus Hilmy: Pihak yang Coba Intervensi Muktamar NU Jadi Musuh Bersama
Gus Hilmy: Pihak yang Coba Intervensi Muktamar NU Jadi Musuh Bersama
Aktual
Kiai Sepuh Ingatkan Muktamar NU Bebas Intervensi, Minta Prabowo Tindak Pejabat yang Tak Patut
Kiai Sepuh Ingatkan Muktamar NU Bebas Intervensi, Minta Prabowo Tindak Pejabat yang Tak Patut
Aktual
Niat, Doa, dan Tata Cara Shalat Istisqa untuk Meminta Hujan
Niat, Doa, dan Tata Cara Shalat Istisqa untuk Meminta Hujan
Doa dan Niat
Shalat Istisqa untuk Meminta Hujan: Tata Cara, Bacaan Niat, Doa, dan Contoh Khutbahnya
Shalat Istisqa untuk Meminta Hujan: Tata Cara, Bacaan Niat, Doa, dan Contoh Khutbahnya
Doa dan Niat
Nasaruddin Umar:Muktamar NU Ke-35 Jadi Momentum Menuju Peradaban Islam
Nasaruddin Umar:Muktamar NU Ke-35 Jadi Momentum Menuju Peradaban Islam
Aktual
Kisah Dzikry, 3 Tahun Tak Kuliah hingga Raih Prestasi Nasional: Saya Berpegang pada Allah
Kisah Dzikry, 3 Tahun Tak Kuliah hingga Raih Prestasi Nasional: Saya Berpegang pada Allah
Aktual
Sholat Istisqa: Pengertian, Rakaat, Tata Cara, dan Bacaannya
Sholat Istisqa: Pengertian, Rakaat, Tata Cara, dan Bacaannya
Aktual
Shalat Istisqa Digelar di Tengah Kemarau Panjang dan Ancaman Karhutla
Shalat Istisqa Digelar di Tengah Kemarau Panjang dan Ancaman Karhutla
Aktual
Maulid Nabi, Kemenag Gelar Gema Selawat Kebangsaan, Target 1,78 Juta Peserta
Maulid Nabi, Kemenag Gelar Gema Selawat Kebangsaan, Target 1,78 Juta Peserta
Aktual
Link Download Contoh Surat Rekomendasi Petugas Haji 2027, Lengkap dan Siap Digunakan
Link Download Contoh Surat Rekomendasi Petugas Haji 2027, Lengkap dan Siap Digunakan
Aktual
Pendaftaran Petugas Haji 2027: Formasi, Batas Usia, Syarat, dan Jadwal Seleksi
Pendaftaran Petugas Haji 2027: Formasi, Batas Usia, Syarat, dan Jadwal Seleksi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar