Editor
KOMPAS.com - Pemerintah Kota Pekanbaru mengajak warganya melaksanakan sholat istisqa secara serentak di seluruh kecamatan pada Rabu, 26 Agustus 2026. Ajakan ini dilakukan untuk menyikapi kemarau, karhutla, dan penurunan kualitas udara di kota tersebut.
Lantas, apa itu sholat Istisqa?
Secara bahasa, al-istisqa berarti "meminta curahan air" atau thalab al-saqaya.
Para ulama fikih mendefinisikan sholat istisqa sebagai sholat sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan, biasanya ketika suatu daerah dilanda kekeringan atau kemarau berkepanjangan.
Baca juga: Shalat Istisqa Digelar di Tengah Kemarau Panjang dan Ancaman Karhutla
Praktik ini bukan hal baru. Ibadah ini telah dicontohkan sejak zaman Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi mengajak umatnya keluar untuk memohon hujan lalu sholat dua rakaat bersama mereka dengan bacaan yang dikeraskan.
Berbeda dari sholat fardhu, sholat istisqa tidak punya waktu khusus yang ditentukan dalilnya bisa dikerjakan kapan saja, terutama saat kemarau atau krisis air melanda.
Contoh nyata pelaksanaan sholat istisqa terjadi di Pekanbaru, Riau. Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mengajak seluruh umat Islam menggelar Salat Istisqa secara serentak di setiap kecamatan pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Imbauan dilakukan menyikapi kondisi kemarau, karhutla, serta penurunan kualitas udara di kota tersebut.
Ajakan itu dituangkan dalam Surat Edaran Nomor SS.100/Setda-Tapem/XX/2026 tentang Pelaksanaan Salat Istisqa Serentak se-Kota Pekanbaru yang ditandatangani Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho.
Sholat dijadwalkan pukul 09.00 WIB, dipusatkan di satu lokasi pada masing-masing kecamatan, dengan camat diminta menetapkan lokasi, imam, dan khatib, serta berkoordinasi dengan Kantor Urusan Agama (KUA), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), pengurus masjid, dan Forkopimcam.
Pemko juga mengajak RT/RW, tokoh agama, dan masyarakat untuk berpartisipasi, sekaligus mengimbau peserta membawa sajadah, berwudu dari rumah, dan tetap menggunakan masker mengingat kondisi kualitas udara akibat kabut asap.
Baca juga: Maulid Nabi, Kemenag Gelar Gema Selawat Kebangsaan, Target 1,78 Juta Peserta
Sholat istisqa dikerjakan sebanyak dua rakaat. Ini adalah kesepakatan mayoritas ulama, sesuai riwayat bahwa Rasulullah SAW sholat dua rakaat bersama para sahabat saat memohon hujan.
Yang membedakan dari sholat sunnah biasa adalah tambahan bacaan takbir di setiap rakaat, mirip dengan sholat Id, meski sebagian ulama (mazhab lain) berpendapat sholat istisqa cukup dua rakaat tanpa tambahan takbir.
Merujuk pada situs Kemenag, NU Online, dan Baznas, berikut tahapan pelaksanaan sholat istisqa:
1. Persiapan sebelum hari-H. Dianjurkan berpuasa sunnah selama tiga hari berturut-turut sebelum pelaksanaan, memperbanyak sedekah, bertobat, dan menghindari perbuatan zalim.
2. Keluar menuju tanah lapang. Pada hari pelaksanaan, jamaah (termasuk anak-anak dan orang tua) dianjurkan keluar rumah dengan pakaian sederhana, tidak berhias, tidak memakai wewangian, sembari memperbanyak istighfar.
3. Niat sholat istisqa, dilakukan sebagai imam atau makmum menghadap kiblat.
4. Rakaat pertama: membaca takbir sebanyak 7 kali sebelum membaca surat Al-Fatihah, dilanjutkan rukuk, dua sujud, dan duduk di antara dua sujud seperti sholat pada umumnya.
5. Rakaat kedua: membaca takbir sebanyak 5 kali sebelum Al-Fatihah, kemudian dilanjutkan seperti rakaat biasa hingga salam.
6. Khutbah istisqa setelah sholat (sebagian ulama membolehkan sebelum sholat), terdiri dari dua khutbah. Khatib membaca istighfar 9 kali pada khutbah pertama dan 7 kali pada khutbah kedua, mengajak jemaah bertobat dan memperbanyak permohonan ampun.
7. Doa dan mengubah posisi selendang/sorban. Di penghujung khutbah, khatib menghadap kiblat membelakangi jemaah, lalu membalik posisi selendang di pundak (yang kanan ke kiri, yang kiri ke kanan) sebagai simbol harapan perubahan keadaan, diikuti jemaah, sambil bersama-sama berdoa memohon hujan.
Niat sholat istisqa (dibaca sebagai imam atau makmum):
أُصَلِّي سُنَّةَ الِاسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (إِمَامًا/مَأْمُومًا) لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatal istisqa'i rak'ataini mustaqbilal qiblati (imaaman/ma'muuman) lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Saya niat sholat sunnah istisqa dua rakaat menghadap kiblat (sebagai imam/makmum) karena Allah Ta'ala."
Doa memohon hujan yang dibaca Rasulullah SAW di penghujung khutbah:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا
Allaahummasqinaa, Allaahummasqinaa, Allaahummasqinaa
Artinya: "Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami."
Doa versi lain yang merujuk pada hadits riwayat Abu Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
Allaahummasqinaa ghaitsan mughiitsan naafi'an ghaira dhaarrin 'aajilan ghaira aajilin.
Artinya: "Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menyelamatkan, bermanfaat dan tidak membahayakan, segera dan tidak ditunda."
Selain doa-doa di atas, jemaah juga dianjurkan memperbanyak istighfar dan bacaan lain yang menekankan tobat, sesuai anjuran khatib dalam khutbah.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT