Editor
SURABAYA, KOMPAS.com — Tiga tahun bukan waktu yang singkat bagi Moch Dzikry Nur Alam.
Ketika teman-teman seangkatannya mulai menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, pemuda asal Surabaya ini masih berada di rumah, menulis untuk sebuah blog yang nyaris tidak memiliki pembaca.
Ada masa ketika ia merasa tertinggal.
"Waktu itu ada masa yang cukup berat menurut saya, terutama tiga tahun jeda sebelum kuliah. Teman-teman seangkatan sudah kuliah semua, sementara saya di rumah menulis blog yang hampir tidak ada pembacanya. Sempat merasa tertinggal," kata Dzikry dalam rilisnya, Rabu (26/8/2026).
Baca juga: Kisah Umar bin Khattab, Menolak Kenikmatan yang Tak Dirasakan Rakyat
Namun, masa tersebut justru menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Kini, di usia 24 tahun, Dzikry menjalankan agensi digital dan menekuni optimasi mesin pencari atau search engine optimization (SEO).
Di kampus, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya itu juga telah dua kali meraih prestasi dalam kompetisi tingkat nasional.
Perjalanannya tidak berlangsung dalam satu lompatan besar. Dzikry memilih menjalaninya sedikit demi sedikit.
"Yang bikin saya bertahan sebenarnya hal-hal kecil. Saya tidak berpikir jauh-jauh, cukup fokus ke satu artikel dulu, satu hari dulu. Kalau gagal ya dicoba lagi besok," ujarnya.
Baca juga: Kisah Fahmi dari Pesantren di Bandung hingga Menjadi Imam Masjid London
Dzikry lahir dan besar di Surabaya, Jawa Timur. Ia menempuh pendidikan di SMK Negeri 7 Surabaya jurusan Teknik Komputer dan Jaringan pada 2017-2020.
Latar belakang tersebut membentuk ketertarikannya terhadap perangkat keras dan jaringan komputer, dua topik yang kemudian banyak mengisi tulisannya.
Kebiasaan menulis dimulai bahkan sebelum ia lulus sekolah.
Pada 2019, ketika masih duduk di bangku SMK, Dzikry mulai mengisi blog pribadinya dengan artikel mengenai teknologi, jaringan, hingga edukasi.
Hasilnya tidak langsung terlihat. Pada bulan-bulan pertama, hampir tidak ada orang yang membaca tulisan tersebut.
Seusai lulus pada 2020, Dzikry juga tidak langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Ia mengambil jeda selama tiga tahun. Masa itulah yang digunakannya untuk mendalami SEO secara otodidak melalui berbagai bahan bacaan gratis di internet.
Blog pribadi menjadi tempatnya bereksperimen.
Banyak percobaannya gagal. Namun, ia terus mencoba hingga sejumlah artikel yang ditulisnya berhasil menembus halaman pertama hasil pencarian.
Keahlian tersebut kemudian ia tawarkan sebagai jasa optimasi situs dan penulisan konten. Sebagian besar kliennya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ia juga mengembangkan blogdzikry.com yang diisi oleh sejumlah penulis.
Di balik proses tersebut, Dzikry mengaku tidak selalu yakin dengan jalan yang sedang ditempuhnya.
Apalagi ketika belum ada hasil yang bisa menjadi ukuran keberhasilan, sementara teman-temannya telah lebih dahulu melanjutkan pendidikan.
Alih-alih memikirkan target besar, ia memilih memecah perjalanan itu menjadi langkah-langkah kecil.
"Karena target saya kecil-kecil, jadi tidak terlalu terasa kalau gagal," katanya.
Selain terus berusaha, Dzikry mengatakan keyakinan kepada Allah menjadi pegangan ketika ia merasa apa yang dikerjakannya belum membuahkan hasil.
"Dan ya, saya berpegang pada Allah. Waktu itu saya belum punya hasil apa-apa yang bisa saya andalkan, jadi yang bisa saya lakukan cuma berusaha semampunya lalu menyerahkan sisanya," tuturnya.
Shalat dan doa menjadi salah satu cara baginya menjaga ketenangan selama melewati masa tersebut.
"Sholat dan doa itu yang bikin saya tenang, terutama saat merasa apa yang saya kerjakan ini tidak ada gunanya," ujar Dzikry.
Ia juga meyakini doa orangtua memiliki bagian dalam perjalanan yang dilaluinya.
"Saya juga percaya doa orang tua punya andil besar, meskipun mereka waktu itu mungkin belum sepenuhnya paham apa yang sedang saya kerjakan," katanya.
Pada 2023, setelah tiga tahun menunda pendidikan formal, Dzikry akhirnya masuk perguruan tinggi.
Menariknya, ia tidak memilih jurusan yang sepenuhnya sama dengan latar belakang pendidikan sebelumnya.
Dzikry memilih Ilmu Komunikasi di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Pilihan tersebut melengkapi keterampilan yang sebelumnya ia pelajari secara mandiri dengan kerangka akademik dan teori komunikasi.
Setahun setelah masuk kuliah, namanya mulai tercatat dalam kompetisi tingkat nasional.
Pada Wildlife Journalism Competition (WJC) 2024, Dzikry meraih juara III kategori penulisan feature.
Penghargaan diserahkan pada malam puncak kompetisi di Auditorium Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Kamis (28/11/2024).
Karyanya berjudul "Monyet Kelaparan dan Konflik Ekologis di Buddan: Kekeringan, Pertambangan, dan Kesadaran Lingkungan yang Memudar".
Tulisan tersebut mengangkat konflik antara warga dan monyet liar di sebuah desa di Pulau Madura.
Penelusuran selama dua bulan menemukan bahwa persoalan tersebut bukan semata gangguan satwa liar terhadap warga. Kekeringan panjang dan aktivitas pertambangan turut menghilangkan sumber pangan alami satwa.
Dzikry mengaku tantangan terberat selama proses tersebut justru terjadi saat melakukan peliputan.
"Kami menghadapi jalanan yang rusak, jarak tempuh yang jauh, hingga sulitnya mendapatkan informasi dari warga. Meski melelahkan, proses ini sangat berharga karena memberi kami banyak pelajaran tentang dunia jurnalistik dan isu lingkungan," ujarnya.
Prestasi berikutnya datang dari bidang berbeda.
Dzikry meraih juara II dalam kompetisi "Digital Leadership Challenge: A Brief Case Analysis" yang digelar Universitas Atma Jaya.
Pada babak 20 besar, timnya membedah studi kasus mengenai agensi digital yang mulai menghadapi persaingan akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Tema tersebut beririsan dengan bidang yang selama ini dijalani Dzikry dalam pekerjaan sehari-hari.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa keterampilan yang ia bangun selama masa jeda sebelum kuliah justru dapat berjalan beriringan dengan pendidikan akademiknya.
Pengalaman Dzikry memperlihatkan bahwa perjalanan pendidikan setiap orang tidak selalu berjalan dengan urutan dan kecepatan yang sama.
Masa tiga tahun yang semula membuatnya merasa tertinggal justru menjadi waktu untuk membangun keterampilan yang kemudian menopang pekerjaan dan studinya.
Kepada mahasiswa maupun anak muda yang sedang berada dalam situasi serupa, ia berpesan agar tidak menunggu semuanya sempurna untuk memulai.
"Tidak ada kata terlambat untuk belajar atau mencoba hal-hal baru. Manfaatkan masa kuliah dengan sebaik-baiknya, karena pengalaman seperti ini akan menjadi bekal berharga di masa depan," katanya.
Baginya, proses tidak harus selalu dijalani dengan terburu-buru.
"Jadi kalau ditanya kuncinya apa, menurut saya adalah tidak menyerah dan tidak buru-buru, menikmati proses dan lakukan semuanya dengan terbaik," ujar Dzikry.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT