Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Fahmi dari Pesantren di Bandung hingga Menjadi Imam Masjid London

Kompas.com, 5 Agustus 2026, 10:09 WIB
Reni Susanti

Editor


KOMPAS.com — Ketika nama Muhammad Fahmi Reksa Alfarisi diumumkan sebagai imam di Indonesian Islamic Centre London, ia mengaku sulit mempercayainya.

Di hadapannya ada puluhan kandidat dengan latar belakang keilmuan Islam yang beragam.
Banyak di antaranya memiliki hafalan Al-Qur'an dan penguasaan ilmu agama yang menurutnya lebih baik. Namun, takdir justru membawanya mengemban amanah di masjid milik Indonesia pertama di London.

"Awalnya ada sekitar 32 kandidat. Setelah melalui beberapa tahapan seleksi, hanya empat orang yang masuk ke tahap wawancara dan pemaparan grand design. Ketika keputusan akhir diumumkan, saya benar-benar terkejut," ungkap Fahmi dikutip dari laman Kementerian Agama, Rabu (5/8/2026). 

Baca juga: Teks Doa Zikir dan Doa Kebangsaan HUT ke-81 RI di Monas, Dipimpin Imam Masjid Istiqlal

Jauh sebelum berdiri di mimbar London, Fahmi lebih dulu menempuh perjalanan panjang sebagai santri.

Selama 13 tahun ia mengenyam pendidikan pesantren di Bandung sebelum melanjutkan studi di Program Studi Hukum Keluarga UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Di bangku kuliah, ia tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga aktif berorganisasi hingga dipercaya menjadi Ketua Umum Lembaga Pembinaan Bahasa.

Perjalanan akademiknya berlanjut setelah lulus pada 2023.

Ia memperoleh Beasiswa Indonesia Bangkit hasil kolaborasi Kementerian Agama dan LPDP untuk mengikuti program dual master degree, yakni Magister Islamic Studies di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) serta LLM Islamic Law di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London.

Baca juga: 500 Imam Masjid se-Banten Ikuti MTQ, Menag Tekankan Peran Strategis Imam bagi Masyarakat

Namun, bagi Fahmi, gelar akademik bukanlah tujuan akhir.

"Semua ilmu yang saya peroleh sejauh ini masih terasa belum cukup untuk sepenuhnya menjawab kebutuhan umat dan tantangan zaman," tuturnya.

"Namun alhamdulillah, setidaknya itu menjadi titik awal yang kuat, sebuah fondasi untuk berpijak," lanjutnya.

Belajar merawat perbedaan

Menjadi imam di Indonesian Islamic Centre London menghadapkan Fahmi pada realitas yang berbeda dengan kehidupan beragama yang selama ini ia kenal di Indonesia.

Masjid tersebut bukan hanya menjadi tempat beribadah masyarakat Indonesia, tetapi juga dikunjungi jamaah Muslim dari berbagai negara dengan latar budaya, tradisi, dan pemahaman keagamaan yang beragam.

"Di satu sisi, ada kewajiban untuk menjaga dan merepresentasikan tradisi keagamaan Indonesia serta melayani jamaah Indonesia. Di sisi lain, kami juga dituntut untuk responsif terhadap komunitas Muslim yang lebih luas dan sangat beragam," ujarnya.

Perbedaan cara beribadah maupun pandangan keagamaan, menurut Fahmi, bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.

Sebaliknya, pengalaman hidup sebagai Muslim minoritas justru mengajarkannya bahwa keberagaman dapat menjadi ruang untuk saling belajar.

"Perbedaan tidak memisahkan. Justru menjadi ruang untuk saling berbagi pengetahuan dan menguatkan pemahaman," katanya.

Mimbar bukan garis akhir

Di tengah tanggung jawab sebagai imam, Fahmi tetap melanjutkan perjalanan akademiknya. Baginya, ilmu dan pengabdian merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Ia berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia yang melanjutkan estafet pelayanan umat di berbagai belahan dunia.

"Kebutuhan akan terus bertambah. Pelayanan terbaik harus senantiasa diupayakan bagi jamaah dan masyarakat luas," tegasnya.

Bagi Fahmi, mimbar di London bukanlah puncak perjalanan yang telah ditempuh sejak mondok di pesantren.

Sebaliknya, amanah itu menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar: menghadirkan wajah Islam Indonesia yang ramah, terbuka, dan mampu merawat perbedaan di tengah masyarakat yang multikultural.

Di sanalah, perjalanan panjang yang dimulai dari ruang-ruang belajar di pesantren menemukan maknanya sebagai pengabdian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar