Editor
KOMPAS.com — Ketika nama Muhammad Fahmi Reksa Alfarisi diumumkan sebagai imam di Indonesian Islamic Centre London, ia mengaku sulit mempercayainya.
Di hadapannya ada puluhan kandidat dengan latar belakang keilmuan Islam yang beragam.
Banyak di antaranya memiliki hafalan Al-Qur'an dan penguasaan ilmu agama yang menurutnya lebih baik. Namun, takdir justru membawanya mengemban amanah di masjid milik Indonesia pertama di London.
"Awalnya ada sekitar 32 kandidat. Setelah melalui beberapa tahapan seleksi, hanya empat orang yang masuk ke tahap wawancara dan pemaparan grand design. Ketika keputusan akhir diumumkan, saya benar-benar terkejut," ungkap Fahmi dikutip dari laman Kementerian Agama, Rabu (5/8/2026).
Baca juga: Teks Doa Zikir dan Doa Kebangsaan HUT ke-81 RI di Monas, Dipimpin Imam Masjid Istiqlal
Jauh sebelum berdiri di mimbar London, Fahmi lebih dulu menempuh perjalanan panjang sebagai santri.
Selama 13 tahun ia mengenyam pendidikan pesantren di Bandung sebelum melanjutkan studi di Program Studi Hukum Keluarga UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Di bangku kuliah, ia tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga aktif berorganisasi hingga dipercaya menjadi Ketua Umum Lembaga Pembinaan Bahasa.
Perjalanan akademiknya berlanjut setelah lulus pada 2023.
Ia memperoleh Beasiswa Indonesia Bangkit hasil kolaborasi Kementerian Agama dan LPDP untuk mengikuti program dual master degree, yakni Magister Islamic Studies di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) serta LLM Islamic Law di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London.
Baca juga: 500 Imam Masjid se-Banten Ikuti MTQ, Menag Tekankan Peran Strategis Imam bagi Masyarakat
Namun, bagi Fahmi, gelar akademik bukanlah tujuan akhir.
"Semua ilmu yang saya peroleh sejauh ini masih terasa belum cukup untuk sepenuhnya menjawab kebutuhan umat dan tantangan zaman," tuturnya.
"Namun alhamdulillah, setidaknya itu menjadi titik awal yang kuat, sebuah fondasi untuk berpijak," lanjutnya.
Menjadi imam di Indonesian Islamic Centre London menghadapkan Fahmi pada realitas yang berbeda dengan kehidupan beragama yang selama ini ia kenal di Indonesia.
Masjid tersebut bukan hanya menjadi tempat beribadah masyarakat Indonesia, tetapi juga dikunjungi jamaah Muslim dari berbagai negara dengan latar budaya, tradisi, dan pemahaman keagamaan yang beragam.
"Di satu sisi, ada kewajiban untuk menjaga dan merepresentasikan tradisi keagamaan Indonesia serta melayani jamaah Indonesia. Di sisi lain, kami juga dituntut untuk responsif terhadap komunitas Muslim yang lebih luas dan sangat beragam," ujarnya.
Perbedaan cara beribadah maupun pandangan keagamaan, menurut Fahmi, bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.
Sebaliknya, pengalaman hidup sebagai Muslim minoritas justru mengajarkannya bahwa keberagaman dapat menjadi ruang untuk saling belajar.
"Perbedaan tidak memisahkan. Justru menjadi ruang untuk saling berbagi pengetahuan dan menguatkan pemahaman," katanya.
Di tengah tanggung jawab sebagai imam, Fahmi tetap melanjutkan perjalanan akademiknya. Baginya, ilmu dan pengabdian merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Ia berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia yang melanjutkan estafet pelayanan umat di berbagai belahan dunia.
"Kebutuhan akan terus bertambah. Pelayanan terbaik harus senantiasa diupayakan bagi jamaah dan masyarakat luas," tegasnya.
Bagi Fahmi, mimbar di London bukanlah puncak perjalanan yang telah ditempuh sejak mondok di pesantren.
Sebaliknya, amanah itu menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar: menghadirkan wajah Islam Indonesia yang ramah, terbuka, dan mampu merawat perbedaan di tengah masyarakat yang multikultural.
Di sanalah, perjalanan panjang yang dimulai dari ruang-ruang belajar di pesantren menemukan maknanya sebagai pengabdian.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang