Editor
KOMPAS.com - KH Ahmad Dahlan meninggalkan warisan yang dikenang melalui beragam wajah. Sejarah mencatatnya sebagai ulama, pendidik, pembaru Islam, tokoh pergerakan, sekaligus pendiri Muhammadiyah.
Beragam sebutan tersebut mengarah pada satu pertanyaan mendasar: corak Islam seperti apa yang sebenarnya diperjuangkan KH Ahmad Dahlan?
Jawabannya tidak cukup ditemukan hanya dengan menelusuri pandangan atau praktik ibadahnya.
Upaya memahami KH Ahmad Dahlan melalui satu atau dua persoalan fikih justru dapat menyempitkan cakrawala pembaruannya.
Praktik keagamaan yang dijalaninya pada masa tertentu juga tidak serta-merta dapat dijadikan dasar untuk menempatkan seluruh pemikirannya ke dalam satu kotak mazhab.
Baca juga: Muhammadiyah: Islam Beri Ruang Perbedaan Pemikiran Selama Tak Langgar Dalil yang Pasti
Dalam tulisannya berjudul “Memahami Pemikiran dan Langkah KH Ahmad Dahlan” yang dimuat Majalah Suara Muhammadiyah Nomor 5 Tahun 2014, Haedar Nashir mengingatkan bahwa pembacaan terhadap KH Ahmad Dahlan melalui perkara-perkara kecil berisiko mengecilkan keluasan proyek pembaruannya.
KH Ahmad Dahlan memang lahir dan tumbuh di lingkungan santri tradisional. Ia mempelajari khazanah keislaman yang lazim dikaji para ulama pada masanya.
Dalam fikih, KH Ahmad Dahlan bersentuhan dengan Mazhab Syafi’i. Dalam tasawuf, ia mengenal pemikiran Imam Al-Ghazali. Ia juga membaca karya-karya dari beragam tradisi pemikiran Islam.
Namun, KH Ahmad Dahlan tidak berhenti sebagai pembaca kitab. Ia mengolah pengetahuan menjadi energi perubahan.
Di situlah letak penting memahami Islam ala KH Ahmad Dahlan. Baginya, Islam harus menjadi kekuatan yang mengubah kehidupan. Al-Qur’an perlu dibaca dengan kesadaran bahwa setiap petunjuknya membawa konsekuensi sosial.
Pengetahuan agama menemukan maknanya ketika menjelma menjadi tindakan yang memperbaiki kehidupan manusia.
Karena itu, KH Ahmad Dahlan dapat disebut sebagai seorang mujadid dalam pengertian luas.
Ia berusaha mengembalikan umat kepada sumber ajaran Islam sekaligus membebaskan mereka dari keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan.
Baca juga: Haedar Nashir Ungkap Alasan Muhammadiyah Tidak Memiliki Dewan Syuro
Haedar Nashir dalam tulisan yang sama mengutip catatan Kiai Hadjid mengenai cara KH Ahmad Dahlan mencari kebenaran.
KH Ahmad Dahlan mengibaratkan perjumpaan seorang Muslim dan seorang Kristen yang masing-masing membawa kitab suci.
Kedua kitab tersebut diletakkan di atas meja. Keduanya kemudian mengosongkan hati dari prasangka dan bersama-sama mencari bukti yang menunjukkan kebenaran.
Hal menarik dari gambaran tersebut bukan sekadar kisah mengenai perjumpaan antara Islam dan Kristen. Bagian yang lebih mendasar adalah etika intelektual yang terkandung di dalamnya.
Kebenaran tidak dicari dengan semangat mengalahkan orang lain, tetapi melalui kesediaan untuk menguji keyakinan berdasarkan bukti.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa KH Ahmad Dahlan memiliki sikap keilmuan yang jauh dari fanatisme sempit.
Ia tidak memandang sesuatu benar hanya karena telah menjadi kebiasaan. Ia juga tidak serta-merta menganggap sesuatu salah hanya karena berasal dari luar lingkungan pemikirannya.
Haedar turut mencatat ungkapan yang dinisbahkan kepada KH Ahmad Dahlan, “An-nāsu a‘dā’u mā jahilū”, yang berarti manusia cenderung memusuhi sesuatu yang tidak diketahuinya.
Sikap semacam ini penting untuk memahami perjalanan KH Ahmad Dahlan. Ia hidup ketika umat Islam Indonesia berhadapan dengan perubahan besar.
Pengetahuan modern berkembang, sistem pendidikan kolonial tumbuh, serta organisasi sosial dan pergerakan kebangsaan mulai bermunculan.
Pada saat yang sama, umat Islam menghadapi persoalan internal berupa keterbelakangan pendidikan dan berbagai masalah sosial.
KH Ahmad Dahlan tidak memilih menutup diri dari perubahan tersebut. Ia justru berusaha mengambil sesuatu yang dinilainya baik, kemudian menempatkannya dalam kerangka ajaran Islam.
Modernitas baginya bukan sesuatu yang harus diterima mentah-mentah, tetapi juga tidak semestinya ditolak hanya karena berasal dari luar tradisi Islam.
Sekolah dengan sistem klasikal, penerbitan, organisasi, ilmu pengetahuan, pengelolaan zakat, pendidikan perempuan, dan berbagai bentuk kelembagaan modern dapat dimanfaatkan selama membawa kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan prinsip Islam.
Islam ala KH Ahmad Dahlan, dengan demikian, adalah Islam yang memiliki akar kuat sekaligus keberanian untuk bergerak menghadapi perubahan.
Salah satu cara terbaik memahami pemikiran KH Ahmad Dahlan adalah melihat bagaimana ia membaca dan mengajarkan Al-Qur’an.
Kisah pengajaran Surah Al-Ma’un menjadi salah satu contoh yang kerap diceritakan. Namun, kisah tersebut sesungguhnya menyimpan gagasan yang jauh lebih besar.
KH Ahmad Dahlan tidak mengajarkan Surah Al-Ma’un sebagai teks yang cukup dibaca dan dihafalkan berulang kali. Ia menjadikannya panggilan untuk melihat orang yang lapar, miskin, terlantar, dan tidak berdaya.
Al-Qur’an harus bergerak dari lisan menuju kehidupan. Karena itu, keberagamaan KH Ahmad Dahlan selalu membawa konsekuensi sosial.
Orang yang rajin beribadah, tetapi membiarkan penderitaan di sekitarnya, belum sepenuhnya menangkap pesan agama. Kesalehan individual perlu menemukan bentuknya dalam kepedulian sosial.
Di sinilah Islam ala KH Ahmad Dahlan menunjukkan kekhasannya. Islam tidak dipisahkan dari kerja kemanusiaan.
Pendirian sekolah, pengorganisasian zakat, pengelolaan kegiatan sosial, pembentukan organisasi perempuan, penerbitan, pengajian, hingga pelayanan kepada masyarakat miskin bukanlah kegiatan tambahan di luar agama.
Semua itu justru menjadi cara menghadirkan Islam dalam kehidupan.
Haedar Nashir menggambarkan corak pembaruan tersebut sebagai usaha KH Ahmad Dahlan untuk menghadirkan Islam secara nyata melalui gerakan amal yang terorganisasi.
KH Ahmad Dahlan kemudian dikenal sebagai “manusia amal”. Namun, sebutan tersebut tidak berarti ia miskin gagasan.
Sebaliknya, berbagai amal itu lahir dari pemikiran mendasar mengenai hubungan antara iman, ilmu, dan tindakan. Iman melahirkan kesadaran, ilmu memberikan arah, sedangkan amal menghadirkan ajaran agama dalam kehidupan.
KH Ahmad Dahlan hidup dalam suasana kolonial ketika umat Islam menghadapi berbagai bentuk keterbelakangan.
Akses pendidikan masih terbatas, kemiskinan meluas, dan perempuan belum memperoleh kesempatan pendidikan secara memadai. Sementara itu, pengetahuan modern berkembang di luar lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Dalam konteks itulah pembaruan KH Ahmad Dahlan perlu dibaca. Umat membutuhkan cara baru untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan keislamannya.
Sebagaimana dijelaskan Haedar Nashir, langkah pembaruan KH Ahmad Dahlan diwujudkan melalui berbagai kegiatan nyata.
Dikutip dari laman Muhammadiyah, ia mendirikan sekolah dengan sistem klasikal, merintis penerbitan dan Taman Pustaka, mendorong pendidikan perempuan melalui Aisyiyah, mengembangkan pengajian di ruang publik, serta mengorganisasi zakat dan kegiatan sosial.
Semua langkah tersebut menunjukkan bahwa pembaruan Islam yang dibayangkannya bukan sekadar pembaruan wacana.
Pembaruan harus memiliki institusi. Gagasan yang baik membutuhkan sekolah. Kepedulian sosial memerlukan organisasi. Pengetahuan membutuhkan penerbitan. Pemberdayaan perempuan memerlukan lembaga.
Sementara itu, pengamalan agama membutuhkan sistem agar dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Di sinilah Muhammadiyah menjadi salah satu warisan terpenting KH Ahmad Dahlan.
Kehadirannya sebagai organisasi gerakan memungkinkan gagasan berkemajuan KH Ahmad Dahlan terus hidup dan bekerja setelah pendirinya wafat.
Islam ala KH Ahmad Dahlan pada akhirnya adalah Islam yang dilembagakan menjadi amal. Hal itulah yang membuat pembaruannya memiliki daya tahan panjang.
Sebuah ceramah mungkin berakhir ketika penceramah turun dari mimbar. Sebuah gagasan mungkin berhenti ketika pencetusnya tidak lagi berbicara.
Namun, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, perguruan tinggi, penerbitan, lembaga zakat, organisasi perempuan, dan berbagai amal usaha dapat terus bekerja melampaui usia pendirinya.
Jika perjalanan KH Ahmad Dahlan dibaca secara utuh, tampak bahwa pusat perhatiannya adalah bagaimana Islam menjadi kekuatan pembebasan.
Ia menghendaki umat Islam yang beragama sekaligus berilmu, beriman sekaligus beramal, serta taat kepada ajaran agama sekaligus mampu menghadapi perubahan zaman.
Umat juga diharapkan memiliki keyakinan yang kokoh tanpa menutup diri dari ilmu pengetahuan, serta saleh secara personal sekaligus berguna bagi masyarakat.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT