Editor
REMBANG, KOMPAS.com — Pengasuh Lembaga Pembinaan, Pendidikan, dan Pengembangan Ilmu Al-Qur’an (LP3IA) KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha mengingatkan bahwa kesadaran berketuhanan perlu tercermin dalam perilaku yang adil dan beradab, termasuk kepada orang yang berbeda keyakinan.
Menurut Gus Baha, seseorang yang meyakini Tuhan selalu melihatnya memiliki alasan untuk menjauhi kejahatan meski tidak sedang diawasi orang lain.
“Tapi kalau orang ini berketuhanan Yang Maha Esa, di mana pun dia tetap takut melakukan tindak pidana, karena tahu di mana-mana Tuhan itu melihat,” kata Gus Baha dikutip dari NU Online, Selasa (29/9/2026).
Baca juga: Al-Kanud: Mengapa Manusia Sering Ingkari Nikmat Tuhan?
Gus Baha menjelaskan, seseorang bisa saja menghindari tindak pidana karena takut pada hukuman atau penilaian masyarakat.
Namun, alasan tersebut bergantung pada ada atau tidaknya pengawasan. Kesadaran berketuhanan, menurut dia, seharusnya tetap membimbing perilaku seseorang ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Ia mengaitkan pesan tersebut dengan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Gus Baha mengatakan, keyakinan kepada Tuhan perlu berjalan bersama sikap adil dan beradab sebagaimana tercermin dalam sila kedua.
“Sehingga berketuhanan itu harus punya ukuran yang objektif, punya perilaku yang adil dan beradab. Jadi kita mengatasnamakan Tuhan itu pantas. Kalau kita berbeda, saling menghormati,” tuturnya.
Menurut Gus Baha, adab diperlukan agar seseorang tidak mudah mengatasnamakan Tuhan untuk menyalahkan pemeluk agama lain. Ia mengingatkan ajaran tentang menjaga hubungan dengan Allah sekaligus hubungan dengan sesama manusia.
“Ajaran yang terkenal dari kiai-kiai kita yang punya ikatan dengan Allah, hablun minallah, dan punya hablun minan nas (ikatan dengan manusia),” katanya.
Baca juga: Quraish Shihab Doakan Prabowo Semoga Dibantu Tuhan Menegakkan Perdamaian dan Keadilan
Dalam kesempatan yang sama, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengajak para kiai mendoakan generasi muda, bangsa, dan negara. Menurut dia, upaya menjaga kehidupan berbangsa juga memerlukan penguatan spiritual.
“Pak Kiai, tolong doakan anak-anak kami. Mari kita doakan bersama-sama bangsa kita, mari kita doakan bersama-sama negara kita,” ujar Sigit.
Sigit berharap ikhtiar dan doa tersebut turut mengantarkan Indonesia menjadi masyarakat yang adil dan makmur.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.