Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sholawat Munjiyat: Arab, Latin, Arti, Sejarah, dan Keutamaannya

Kompas.com, 29 September 2026, 21:45 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Salah satu amalan yang dianjurkan dalam Islam adalah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Membaca shalawat memiliki kedudukan penting dalam ibadah, baik sebagai bagian wajib dalam shalat maupun amalan sunnah yang dapat dilakukan di luar shalat.

Anjuran memperbanyak shalawat juga disebutkan dalam sejumlah hadis yang menjelaskan keutamaan bershalawat kepada Rasulullah SAW.

Baca juga: 5 Amalan Maulid Nabi, dari Sholawat hingga Sedekah

Di antara beragam bacaan shalawat yang diamalkan umat Islam, Sholawat Munjiyat menjadi salah satu bacaan yang dikenal karena memuat doa memohon keselamatan, perlindungan, dan kebaikan kepada Allah SWT.

Arti Sholawat Munjiyat sendiri adalah "Shalawat Penyelamat". Bacaan ini berisi permohonan agar Allah SWT menyelamatkan umat Islam dari berbagai kesulitan, mengabulkan hajat, serta mengangkat derajat dan memberikan kebaikan di dunia maupun akhirat.

Dilansir dari laman NU Online, Muhammadiyah, dan sumber lainnya, berikut ulasan terkait Sholawat Munjiyat.

Baca juga: Sholawat Nariyah: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya

Bacaan Sholawat Munjiyat Arab, Latin, dan Artinya

Sholawat Munjiyat dapat dibaca sebagai bentuk shalawat sekaligus doa kepada Allah SWT. Berikut bacaan Sholawat Munjiyat dalam tulisan Arab, Latin, beserta terjemahannya agar dapat dibaca dan dipahami sesuai maknanya.

Sholawat Munjiyat dalam tulisan Arab

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْاٰفَاتِ وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ السَيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَـــا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَـــاتِ

Sholawat Munjiyat dalam tulisan Latin

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammadin shalâtan tunjînâ bihâ min jamî’il ahwâli wal âfât wa taqdhî lanâ bihâ jamî’al hâjat wa tuthahhirunâ bihâ min jamî’is sayyiât wa tarfa’unâ bihâ ‘indaka a’lad darajât wa tuballighunâ bihâ aqshal ghâyat min jamî’il khairâti fil hayâti wa ba’dal mamât

Arti dan terjemahan Sholawat Munjiyat

Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan shalawat itu, Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan dari semua cobaan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengabulkan hajat kami; dengan shalawat itu, Engkau akan menyucikan kami dari segala keburukan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengangkat kami ke derajat paling tinggi; dengan shalawat itu pula, Engkau akan menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna dalam semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati.

Apa Itu Sholawat Munjiyat?

Untuk memahami Sholawat Munjiyat, penting mengetahui makna nama dan kandungan bacaan yang digunakan. Penjelasan berikut menguraikan pengertian, alasan penamaannya, serta kedudukannya di antara berbagai bacaan shalawat yang dikenal umat Islam.

Pengertian Sholawat Munjiyat

Sholawat Munjiyat merupakan salah satu bacaan shalawat yang berisi pujian dan permohonan kepada Allah SWT melalui shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Bacaan ini memuat doa agar Allah memberikan keselamatan dari berbagai kesulitan, mengabulkan kebutuhan, mengampuni keburukan, serta mengangkat derajat orang yang membacanya.

Secara bahasa, Munjiyat berasal dari kata yang berkaitan dengan keselamatan atau penyelamatan. Karena itu, Sholawat Munjiyat dikenal sebagai shalawat penyelamat, yang kandungan doanya mencakup permohonan perlindungan dan kebaikan dalam kehidupan dunia hingga akhirat.

Kenapa disebut Sholawat Munjiyat?

Penamaan Sholawat Munjiyat berkaitan dengan salah satu bagian utama dalam bacaannya, yakni permohonan agar Allah SWT menyelamatkan pembacanya dari segala keadaan yang menakutkan dan berbagai musibah.

Kata tunjînâ dalam bacaan tersebut memiliki makna menyelamatkan kami. Kandungan inilah yang menjadi dasar penyebutan Sholawat Munjiyat atau shalawat penyelamat.

Sholawat Munjiyat sebagai salah satu bacaan sholawat

Sholawat Munjiyat termasuk salah satu bentuk bacaan shalawat yang diamalkan umat Islam selain Shalawat Ibrahimiyah, Shalawat Nariyah, dan berbagai shalawat lainnya.

Bacaan ini memiliki susunan doa yang memohon keselamatan, terpenuhinya hajat, kesucian dari keburukan, peningkatan derajat, serta tercapainya kebaikan. Pengamalannya menjadi salah satu cara umat Islam memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Sholawat Munjiyat dan Sholawat Tunjina, Apakah Sama?

Sholawat Munjiyat juga dikenal dengan sebutan Sholawat Tunjina dalam tradisi pembacaan shalawat umat Islam. Untuk mengetahui hubungan kedua nama tersebut, berikut penjelasan mengenai penyebutan, asal nama, dan kesamaan bacaannya.

Nama lain Sholawat Munjiyat

Sholawat Tunjina merupakan nama lain yang digunakan untuk menyebut Sholawat Munjiyat. Kedua nama tersebut merujuk pada bacaan shalawat yang sama, yakni doa yang diawali dengan permohonan kepada Allah SWT agar melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Perbedaan penyebutan ini berkaitan dengan kata yang digunakan sebagai nama bacaan. Munjiyat merujuk pada makna penyelamatan, sedangkan Tunjina diambil dari bagian bacaan yang berarti menyelamatkan kami.

Asal penyebutan Sholawat Tunjina

Penyebutan Sholawat Tunjina berasal dari kata tunjînâ yang terdapat dalam kalimat awal bacaan, yaitu shalâtan tunjînâ bihâ min jamî’il ahwâli wal âfât.

Bagian tersebut berisi permohonan agar Allah SWT memberikan keselamatan melalui shalawat dari berbagai keadaan yang menakutkan dan bencana. Karena itu, bacaan yang sama dikenal dengan nama Sholawat Tunjina maupun Sholawat Munjiyat.

Persamaan bacaan Sholawat Munjiyat dan Tunjina

Sholawat Munjiyat dan Sholawat Tunjina memiliki kesamaan dalam susunan bacaan serta kandungan doanya. Keduanya memuat permohonan keselamatan, pengabulan hajat, penyucian dari keburukan, peningkatan derajat, dan kebaikan di dunia maupun akhirat.

Dengan demikian, perbedaan kedua nama tersebut tidak menunjukkan adanya dua bacaan yang berbeda. Sholawat Tunjina merupakan sebutan lain dari Sholawat Munjiyat yang dikenal dalam tradisi amalan shalawat.

Sejarah Sholawat Munjiyat

Sejarah Sholawat Munjiyat berkaitan dengan kisah seorang ulama yang mengalami badai ketika berada di atas kapal. Kisah tersebut disebut dalam sejumlah kitab, termasuk penjelasan mengenai sosok yang mengalami peristiwa tersebut dan bagaimana bacaan shalawat ini kemudian dikenal.

Asal-usul Sholawat Munjiyat

Bacaan Sholawat Munjiyat berawal dari sebuah kisah yang dialami oleh seorang ulama ketika berada di tengah laut. Kisah tersebut menceritakan kapal yang diterjang badai hingga para penumpangnya terancam tenggelam. 

Kisah yang melatarbelakangi penamaan Sholawat Munjiyat

Berikut riwayat yang menjelaskan asal-usul Sholawat Munjiyat.

Dalam kitab Nudhah al-Majâlis wa Muntakhab an-Nafâis, Abdurrahman bin Abdissalam Ash-Shafuri menukil kisah seorang ahli makrifat yang mengalami peristiwa tersebut.

Ia menceritakan bahwa ketika berada di kapal, badai datang dengan sangat kencang hingga mereka hampir tenggelam. Dalam tidurnya, ia melihat Rasulullah SAW yang memerintahkannya untuk menyampaikan kepada para penumpang agar membaca shalawat yang berisi permohonan keselamatan dari berbagai keadaan menakutkan dan musibah, pengabulan hajat, penyucian dari keburukan, serta peningkatan derajat dan kebaikan di dunia maupun akhirat.

Setelah terbangun, ia bersama para penumpang membaca shalawat tersebut hingga angin mereda atas izin Allah SWT. (Abdurrahman bin Abdissalam Ash-Shafuri, Nudhah al-Majâlis wa Muntakhab an-Nafâis, halaman: 284).

Dalam kitab lain, yakni Al-Fajr al-Munir fi as-Shalat ala al-Basyir wa an-Nadzir, disebutkan lebih jelas bahwa sosok yang mengalami peristiwa tersebut adalah Syekh Shalih Musa ad-Dharir, salah satu pemuka tarekat Syadziliyah.

Kisah pengalaman Syekh Shalih Musa ad-Dharir tersebut diriwayatkan sebagai berikut.

Syekh Shalih Musa ad-Dharir rahimahullah mengabarkan bahwa ketika sedang berada di atas kapal, mereka diterjang badai yang dikenal dengan nama Aqlabiyah. Badai tersebut sangat berbahaya hingga hanya sedikit orang yang dapat selamat dari ancaman tenggelam. Para penumpang pun berteriak ketakutan karena khawatir kapal mereka akan tenggelam.

Dalam keadaan tersebut, Syekh Shalih Musa ad-Dharir tertidur dan bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpi itu, Rasulullah memerintahkannya agar menyampaikan kepada para penumpang untuk membaca Sholawat Munjiyat sebanyak 1.000 kali.

Setelah terbangun, Syekh Shalih Musa ad-Dharir menceritakan mimpinya kepada para penumpang. Mereka kemudian membaca shalawat tersebut bersama-sama hingga sekitar 300 kali, sebelum akhirnya badai mereda dan mereka memperoleh kelapangan.

(Syekh Umar bin ‘Ali bin Salim al-Fakihani, al-Fajr al-Munir fi as-Shalat ala ala al-Basyir wa an-Nadzir, halaman: 25).

Kisah tersebut menjadi salah satu riwayat yang menjelaskan asal-usul Sholawat Munjiyat. Kandungan permohonan keselamatan dalam bacaannya kemudian berkaitan dengan penyebutan Munjiyat yang berarti shalawat penyelamat.

Perkembangan Sholawat Munjiyat dalam tradisi umat Islam

Shalawat Munjiyat juga banyak tercantum dalam wirid-wirid dan hizib-hizib yang biasa diamalkan di banyak pesantren. Hal ini menunjukkan betapa dahsyatnya keutamaan membaca Shalawat Munjiyat ini.

Namun meski begitu, akan lebih afdhal jika dalam mengamalkan shalawat munjiyat atas petunjuk dari seorang guru (mujiz) yang mengarahkan kita untuk mengamalkan membaca shalawat munjiyat, agar kadar bacaan yang kita amalkan dapat lebih efektif dan proposional.

Makna dan Kandungan Sholawat Munjiyat

Kandungan Sholawat Munjiyat dapat dipahami melalui susunan doa yang dibaca setelah permohonan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Berikut penjelasan makna setiap bagian agar pembaca dapat memahami permohonan yang terkandung di dalamnya.

Sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW

Sholawat Munjiyat diawali dengan permohonan kepada Allah SWT agar melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Bagian ini menunjukkan penghormatan dan kecintaan umat Islam kepada Rasulullah sebagai pembawa risalah Islam.

Membaca shalawat juga menjadi bentuk ketaatan terhadap perintah Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an. Melalui bacaan tersebut, umat Islam menggabungkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW dengan doa yang ditujukan kepada Allah.

Permohonan keselamatan kepada Allah

Salah satu kandungan utama Sholawat Munjiyat adalah permohonan agar Allah SWT menyelamatkan pembacanya dari berbagai keadaan yang menakutkan dan musibah. Permohonan ini tercermin dalam kalimat tunjînâ bihâ min jamî’il ahwâli wal âfât.

Maknanya mencakup harapan memperoleh perlindungan Allah ketika menghadapi kesulitan, cobaan, maupun keadaan yang tidak diinginkan. Keselamatan yang dimohonkan tetap bersumber dari pertolongan Allah SWT.

Permohonan terpenuhinya kebutuhan yang baik

Bacaan Sholawat Munjiyat juga memuat permohonan agar Allah SWT mengabulkan berbagai hajat atau kebutuhan. Hal tersebut terdapat dalam kalimat wa taqdhî lanâ bihâ jamî’al hâjat.

Hajat yang dimaksud dapat berkaitan dengan kebutuhan hidup dan berbagai urusan yang diharapkan memperoleh kemudahan. Melalui doa ini, umat Islam memohon agar Allah memberikan apa yang menjadi kebutuhan dan membawa kebaikan bagi kehidupannya.

Permohonan keberkahan dan kebaikan

Selain keselamatan dan terpenuhinya hajat, Sholawat Munjiyat berisi permohonan agar Allah SWT menyucikan pembacanya dari keburukan, mengangkat derajat, serta menyampaikan kepada tujuan terbaik dalam berbagai kebaikan.

Bagian akhir bacaan juga menegaskan permohonan kebaikan dalam kehidupan dunia dan setelah kematian. Dengan demikian, kandungan Sholawat Munjiyat tidak hanya berkaitan dengan keselamatan dari kesulitan, tetapi juga harapan memperoleh keberkahan dan kebaikan di akhirat.

Sholawat Munjiyat Dibaca untuk Apa?

Sholawat Munjiyat dapat diamalkan sebagai bacaan shalawat sekaligus doa dalam berbagai keadaan. Untuk memahami penggunaannya, berikut beberapa tujuan membaca Sholawat Munjiyat berdasarkan kandungan dan makna bacaannya.

Sebagai bacaan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW

Sholawat Munjiyat dibaca sebagai salah satu bentuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Bacaan ini diawali dengan permohonan kepada Allah agar melimpahkan shalawat kepada junjungan umat Islam tersebut.

Dengan membaca Sholawat Munjiyat, umat Islam dapat memperbanyak amalan shalawat sekaligus mengingat keteladanan Rasulullah SAW. Amalan ini juga menjadi bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Sebagai bagian dari doa ketika menghadapi kesulitan

Kandungan Sholawat Munjiyat memuat permohonan keselamatan dari berbagai keadaan yang menakutkan dan musibah. Karena itu, bacaan ini dapat diamalkan sebagai bagian dari doa ketika seseorang menghadapi kesulitan atau sedang memohon perlindungan Allah SWT.

Melalui shalawat tersebut, seorang Muslim memohon pertolongan dan keselamatan kepada Allah dengan tetap menyadari bahwa segala ketentuan berada dalam kehendak-Nya.

Sebagai bacaan ketika memiliki hajat

Sholawat Munjiyat juga dapat dibaca ketika seseorang memiliki hajat atau kebutuhan yang ingin disampaikan kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan kandungan bacaan yang memuat permohonan agar Allah mengabulkan berbagai kebutuhan.

Pengamalannya dapat disertai doa yang disampaikan dengan penuh harap dan ketulusan. Seorang Muslim tetap dianjurkan berusaha dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Sebagai amalan dan dzikir sehari-hari

Selain dibaca ketika menghadapi kesulitan atau memiliki hajat, Sholawat Munjiyat dapat diamalkan sebagai bagian dari wirid dan dzikir sehari-hari. Membaca shalawat secara rutin menjadi salah satu cara memperbanyak ingatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Pengamalan tersebut dapat dilakukan sesuai kemampuan dan kebiasaan masing-masing, tanpa mengabaikan kewajiban ibadah lainnya. Pemahaman terhadap arti bacaan juga membantu seseorang menghayati doa yang dipanjatkan.

Keutamaan Membaca Sholawat Munjiyat

Keutamaan Sholawat Munjiyat berkaitan dengan anjuran umum untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan kandungan doa di dalamnya. Berikut beberapa nilai amalan yang dapat dipahami dari bacaan tersebut tanpa memisahkannya dari keyakinan bahwa pertolongan dan pengabulan doa berasal dari Allah SWT.

Menjadi bentuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW

Membaca Sholawat Munjiyat merupakan salah satu bentuk menjalankan anjuran bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Perintah tersebut terdapat dalam Al-Qur'an, sementara sejumlah hadis juga menjelaskan keutamaan bagi umat Islam yang memperbanyak shalawat.

Melalui amalan ini, seorang Muslim dapat mengungkapkan penghormatan kepada Rasulullah SAW sekaligus menjalankan salah satu amalan yang dianjurkan dalam Islam.

Menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW

Membaca shalawat dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Sholawat Munjiyat secara khusus diawali dengan penyebutan dan permohonan shalawat kepada junjungan umat Islam tersebut.

Kebiasaan bershalawat juga dapat mendorong umat Islam untuk semakin mengenal kehidupan, akhlak, dan keteladanan Rasulullah SAW. Dengan demikian, amalan shalawat tidak hanya menjadi bacaan lisan, tetapi juga pengingat untuk mengikuti ajaran beliau.

Menjadi sarana berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah

Sholawat Munjiyat mengandung doa agar Allah SWT memberikan keselamatan, mengabulkan hajat, dan mengangkat derajat pembacanya. Kandungan tersebut menjadikan bacaan ini dapat diamalkan sebagai bagian dari ikhtiar spiritual ketika seseorang memohon pertolongan Allah.

Permohonan dalam shalawat tetap ditujukan kepada Allah SWT, bukan kepada selain-Nya. Karena itu, membaca Sholawat Munjiyat dapat disertai doa dan usaha nyata sesuai kebutuhan yang sedang dihadapi.

Menumbuhkan ketenangan dan harapan ketika menghadapi kesulitan

Kandungan permohonan keselamatan dalam Sholawat Munjiyat dapat menjadi pengingat bagi seorang Muslim untuk bersandar kepada pertolongan Allah SWT ketika menghadapi kesulitan. Membaca shalawat dan berdoa juga dapat membantu menumbuhkan ketenangan serta harapan dalam menjalani keadaan yang tidak mudah.

Meski demikian, pengamalan shalawat tidak berarti seseorang terbebas secara otomatis dari setiap masalah. Doa perlu disertai kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT.

Berapa Kali Sholawat Munjiyat Dibaca?

Jumlah bacaan Sholawat Munjiyat dapat menjadi pertanyaan bagi umat Islam yang ingin mengamalkannya secara rutin. Penjelasan berikut membahas jumlah bacaan, kebolehan mengulang shalawat, serta cara memahami anjuran bilangan tertentu.

Apakah ada jumlah bacaan khusus Sholawat Munjiyat?

Sholawat Munjiyat dapat dibaca tanpa harus terpaku pada satu jumlah tertentu dalam pengamalan sehari-hari. Bacaan shalawat termasuk amalan yang dapat diperbanyak sesuai kemampuan dan kesempatan masing-masing.

Dalam kisah yang diriwayatkan mengenai Syekh Shalih Musa ad-Dharir, terdapat penyebutan anjuran membaca shalawat sebanyak 1.000 kali, sedangkan dalam riwayat tersebut disebutkan mereka membacanya sekitar 300 kali hingga badai reda.

Keterangan dalam kisah tersebut merupakan bagian dari riwayat sejarah Sholawat Munjiyat. Karena itu, bilangan yang disebutkan dalam riwayat perlu dipahami sesuai konteksnya dan tidak serta-merta dianggap sebagai kewajiban bagi setiap orang yang mengamalkan shalawat ini.

Bolehkah Sholawat Munjiyat dibaca berulang kali?

Sholawat Munjiyat boleh dibaca berulang kali sebagai bentuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Umat Islam dapat mengulang bacaannya dalam dzikir, setelah shalat, atau ketika memanjatkan doa.

Pengulangan bacaan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan waktu yang tersedia. Hal yang perlu diperhatikan adalah menjaga keikhlasan serta memahami bahwa shalawat merupakan amalan ibadah yang ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bagaimana menyikapi anjuran jumlah bacaan tertentu?

Anjuran jumlah bacaan tertentu dapat dipahami sebagai panduan dalam tradisi pengamalan shalawat, bukan otomatis menjadi ketentuan wajib bagi seluruh umat Islam.

Jika mengikuti amalan dengan bilangan khusus, seseorang dapat meminta bimbingan guru atau ulama yang memahami tata cara pengamalannya.

Dalam mengamalkan Sholawat Munjiyat, umat Islam juga perlu mengutamakan pemahaman terhadap makna bacaan, keikhlasan, serta konsistensi dalam beribadah.

Kapan Waktu Membaca Sholawat Munjiyat?

Sholawat Munjiyat dapat dibaca dalam berbagai kesempatan sebagai bagian dari amalan shalawat dan doa. Berikut beberapa waktu yang dapat digunakan untuk mengamalkannya sesuai kebiasaan ibadah masing-masing.

Setelah sholat

Sholawat Munjiyat dapat dibaca setelah menunaikan shalat fardhu maupun shalat sunnah sebagai bagian dari dzikir dan doa. Membaca shalawat pada waktu tersebut menjadi salah satu cara memperbanyak amalan setelah menyelesaikan ibadah shalat.

Pengamalannya dapat disesuaikan dengan rangkaian dzikir yang biasa dilakukan. Umat Islam tetap perlu menjaga urutan dan pelaksanaan ibadah wajib sesuai tuntunan yang diyakini.

Pada hari dan malam Jumat

Hari dan malam Jumat juga menjadi waktu yang biasa digunakan umat Islam untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sholawat Munjiyat dapat menjadi salah satu bacaan yang diamalkan dalam kesempatan tersebut.

Anjuran memperbanyak shalawat pada hari Jumat berkaitan dengan keutamaan bershalawat kepada Rasulullah SAW. Pengamalannya dapat dilakukan secara rutin sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Nabi.

Ketika memiliki hajat atau menghadapi kesulitan

Sholawat Munjiyat dapat dibaca ketika seseorang memiliki hajat atau sedang menghadapi kesulitan. Kandungan doanya memuat permohonan keselamatan, kemudahan, dan terpenuhinya kebutuhan kepada Allah SWT.

Bacaan tersebut dapat disertai doa yang disampaikan sesuai kebutuhan masing-masing. Selain berdoa, seseorang tetap dianjurkan melakukan ikhtiar untuk menghadapi persoalan yang sedang dialami.

Sebagai amalan sholawat harian

Sholawat Munjiyat juga dapat dijadikan amalan harian untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pengamalannya dapat dilakukan pada pagi, petang, atau waktu lain yang memungkinkan.

Membaca shalawat secara rutin dapat membantu membangun kebiasaan dzikir dalam kehidupan sehari-hari. Jumlah dan waktunya dapat disesuaikan dengan kemampuan agar amalan tetap terjaga secara konsisten.

Cara Mengamalkan Sholawat Munjiyat

Pengamalan Sholawat Munjiyat dapat dilakukan dengan memperhatikan niat, pemahaman terhadap bacaan, dan tujuan berdoa kepada Allah SWT. Beberapa hal berikut dapat menjadi panduan agar amalan shalawat dilakukan dengan penuh kesadaran dan disertai ikhtiar.

Membaca dengan niat bersholawat kepada Nabi

Ketika membaca Sholawat Munjiyat, niatkan amalan tersebut sebagai bentuk shalawat dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Bacaan diawali dengan permohonan kepada Allah agar melimpahkan shalawat kepada Rasulullah.

Niat yang tulus membantu seseorang menjaga tujuan ibadah dan tidak semata-mata menjadikan shalawat sebagai bacaan untuk memperoleh keinginan tertentu.

Memahami arti dan kandungan bacaan

Memahami arti Sholawat Munjiyat membantu pembaca menghayati setiap permohonan yang terkandung di dalamnya. Bacaan ini memuat doa keselamatan, pengabulan hajat, penyucian dari keburukan, peningkatan derajat, dan kebaikan dunia akhirat.

Dengan mengetahui maknanya, seseorang dapat membaca shalawat secara lebih sadar dan memahami tujuan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT.

Memohon hanya kepada Allah SWT

Sholawat Munjiyat berisi permohonan kepada Allah SWT agar memberikan keselamatan dan berbagai kebaikan melalui shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Karena itu, permintaan pertolongan dan pengabulan hajat tetap ditujukan kepada Allah sebagai satu-satunya tempat memohon.

Hal ini tercermin dalam susunan bacaan yang diawali dengan Allâhumma, yakni seruan kepada Allah SWT. Pengamalannya dapat disertai doa pribadi sesuai kebutuhan selama tetap menjaga adab berdoa.

Mengiringi doa dengan ikhtiar

Membaca Sholawat Munjiyat sebagai bagian dari doa sebaiknya disertai usaha nyata sesuai persoalan yang dihadapi. Ketika memohon keselamatan, kemudahan, atau terpenuhinya hajat, seorang Muslim tetap perlu melakukan langkah-langkah yang diperlukan.

Doa dan ikhtiar merupakan bagian dari usaha seorang hamba dalam menjalani kehidupan. Setelah berusaha, hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT melalui sikap tawakal.

Dalil tentang Anjuran Membaca Sholawat

Anjuran membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW memiliki landasan dalam Al-Qur'an dan hadis. Berikut dalil yang menjelaskan perintah bershalawat, keutamaannya, serta anjuran menjadikan shalawat sebagai bagian dari doa.

Perintah bersholawat dalam Al-Quran

Perintah untuk membaca dzikir shalawat ini, salah satunya ditegaskan dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab:56)

Ayat tersebut menjelaskan perintah Allah SWT kepada orang-orang beriman untuk bershalawat dan menyampaikan salam penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Perintah ini menjadi salah satu landasan anjuran memperbanyak shalawat dalam kehidupan umat Islam.

Hadis tentang keutamaan membaca sholawat

Salah satu sabda Rasulullah SAW yang menganjurkan umatnya untuk bershalawat adalah,

مَن صلَّى علَيَّ صَلاةً واحِدةً صلَّى اللهُ عليه عَشْرَ صَلواتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطيئاتٍ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجاتٍ

“Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, dihapus darinya sepuluh dosa, dan ditinggikan baginya sepuluh derajat.”

Dalam hadis lain disebutkan Nabi SAW bersabda,

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا رواه مسلم.

“Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Kedua hadis tersebut menjelaskan keutamaan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Keutamaan yang disebutkan mencakup balasan shalawat dari Allah, penghapusan dosa, dan peningkatan derajat bagi orang yang bershalawat.

Anjuran mengawali doa dengan sholawat

Membaca shalawat juga dikenal dalam tata cara berdoa sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Umat Islam dapat mengawali doa dengan memuji Allah SWT dan membaca shalawat sebelum menyampaikan permohonan.

Sholawat Munjiyat dapat menjadi salah satu bacaan yang digunakan dalam rangkaian tersebut karena memuat pujian kepada Nabi sekaligus permohonan kebaikan kepada Allah. Pengamalan ini tetap perlu disertai keyakinan bahwa Allah SWT merupakan tempat memohon dan pemberi pertolongan.

FAQ Seputar Sholawat Munjiyat

Berikut sejumlah pertanyaan yang sering muncul mengenai bacaan, arti, jumlah, dan waktu mengamalkan Sholawat Munjiyat. Penjelasan singkat ini dapat membantu pembaca menemukan informasi sesuai kebutuhan.

Apa bacaan Sholawat Munjiyat?

Bacaan Sholawat Munjiyat diawali dengan Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammadin shalâtan tunjînâ bihâ min jamî’il ahwâli wal âfât dan dilanjutkan dengan permohonan agar Allah mengabulkan hajat, menyucikan dari keburukan, mengangkat derajat, serta memberikan kebaikan di dunia dan akhirat.

Apa arti Sholawat Munjiyat?

Sholawat Munjiyat berarti shalawat penyelamat. Makna tersebut berkaitan dengan kandungan doanya yang memohon keselamatan dari berbagai keadaan yang menakutkan, perlindungan dari musibah, terpenuhinya hajat, dan kebaikan dari Allah SWT.

Apakah Sholawat Munjiyat sama dengan Sholawat Tunjina?

Ya, Sholawat Munjiyat dan Sholawat Tunjina merupakan dua nama untuk bacaan shalawat yang sama. Nama Tunjina berasal dari kata tunjînâ dalam bacaan yang berarti menyelamatkan kami, sedangkan Munjiyat merujuk pada makna penyelamatan.

Sholawat Munjiyat dibaca untuk apa?

Sholawat Munjiyat dibaca sebagai bentuk shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus doa memohon keselamatan, pengabulan hajat, perlindungan, dan kebaikan kepada Allah SWT. Bacaan ini juga dapat diamalkan sebagai bagian dari wirid dan dzikir harian.

Berapa kali Sholawat Munjiyat sebaiknya dibaca?

Sholawat Munjiyat dapat dibaca berulang kali sesuai kemampuan dan kebiasaan masing-masing. Dalam salah satu riwayat sejarahnya terdapat penyebutan bilangan 1.000 kali, tetapi jumlah tersebut tidak otomatis menjadi kewajiban bagi setiap orang yang mengamalkannya.

Kapan waktu membaca Sholawat Munjiyat?

Sholawat Munjiyat dapat dibaca setelah shalat, pada hari dan malam Jumat, ketika memiliki hajat atau menghadapi kesulitan, maupun sebagai amalan shalawat harian. Pengamalannya dapat disesuaikan dengan waktu dan kemampuan masing-masing.

Kesimpulan

Sholawat Munjiyat atau Sholawat Tunjina merupakan salah satu bacaan sholawat yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus doa memohon keselamatan dan kebaikan kepada Allah

Sholawat Munjiyat atau Sholawat Tunjina merupakan bacaan shalawat yang mengandung permohonan keselamatan, pengabulan hajat, penyucian dari keburukan, peningkatan derajat, serta kebaikan di dunia dan akhirat.

Bacaan ini dapat diamalkan sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus sarana berdoa kepada Allah SWT.

Pengamalannya dapat dilakukan setelah shalat, pada hari Jumat, ketika menghadapi kesulitan, maupun sebagai dzikir harian sesuai kemampuan.

Selain memperbanyak shalawat, umat Islam dianjurkan memahami maknanya, menjaga keikhlasan, serta mengiringi doa dengan ikhtiar dan tawakal kepada Allah SWT. 

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Doa Tahiyat Akhir: Arab, Latin, Arti, dan Bacaan Sampai Salam
Doa Tahiyat Akhir: Arab, Latin, Arti, dan Bacaan Sampai Salam
Doa dan Niat
Sholawat Munjiyat: Arab, Latin, Arti, Sejarah, dan Keutamaannya
Sholawat Munjiyat: Arab, Latin, Arti, Sejarah, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Libur Lebaran 2027 Sesuai SKB 3 Menteri: Libur Nasional, Cuti Bersama, dan Potensi Libur Panjang
Libur Lebaran 2027 Sesuai SKB 3 Menteri: Libur Nasional, Cuti Bersama, dan Potensi Libur Panjang
Aktual
Kemenhaj Ungkap 50 Persen Biro Umrah Tidak Aktif, Ini Penyebabnya
Kemenhaj Ungkap 50 Persen Biro Umrah Tidak Aktif, Ini Penyebabnya
Aktual
Teks Ikrar dan Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud
Teks Ikrar dan Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud
Aktual
Kisah Abu Darda, Sahabat Nabi yang Memilih Ilmu daripada Kemewahan
Kisah Abu Darda, Sahabat Nabi yang Memilih Ilmu daripada Kemewahan
Aktual
Husnuzan, Tawadhu, dan Qanaah Sering Tertukar, Apa Bedanya?
Husnuzan, Tawadhu, dan Qanaah Sering Tertukar, Apa Bedanya?
Aktual
Kenapa Nabi Beristighfar 70–100 Kali Sehari? Ini Penjelasannya
Kenapa Nabi Beristighfar 70–100 Kali Sehari? Ini Penjelasannya
Aktual
Kemenhaj Minta Travel Umrah Pastikan Layanan Jamaah Terpenuhi Sejak Berangkat Hingga Kepulangan
Kemenhaj Minta Travel Umrah Pastikan Layanan Jamaah Terpenuhi Sejak Berangkat Hingga Kepulangan
Aktual
Susunan Acara dan Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud
Susunan Acara dan Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud
Aktual
Link Download PDF Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud
Link Download PDF Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud
Aktual
Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 Resmi Kemenbud
Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 Resmi Kemenbud
Aktual
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dan Senin Kamis?
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dan Senin Kamis?
Aktual
Mengapa Rasulullah Melarang Tidur Tengkurap? Ini Hadis dan Hikmahnya
Mengapa Rasulullah Melarang Tidur Tengkurap? Ini Hadis dan Hikmahnya
Aktual
Kenapa Imam Mengeraskan Bacaan pada Subuh, Maghrib, dan Isya?
Kenapa Imam Mengeraskan Bacaan pada Subuh, Maghrib, dan Isya?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar