KOMPAS.com - Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kehormatan orang lain, termasuk dengan tidak mudah berprasangka buruk, mencela, atau merendahkan seseorang.
Larangan tersebut ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Hujurat ayat 11–12.
Prasangka dan sikap merendahkan bukan sekadar persoalan ucapan atau perasaan pribadi.
Jika dibiarkan, keduanya dapat berkembang menjadi kebiasaan mencari kesalahan, menggunjing, hingga merusak hubungan antarmanusia.
Karena itu, Islam mengatur bagaimana seorang Muslim memandang dan memperlakukan orang lain.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
Yā ayyuhalladzīna āmanū lā yaskhar qaumum min qaumin ‘asā ay yakūnū khairam minhum wa lā nisā’um min nisā’in ‘asā ay yakunna khairam minhunna, wa lā talmizū anfusakum wa lā tanābazū bil-alqāb.
Baca juga: Mengapa Islam Mengajarkan Menjaga Lingkungan? Ini Dalilnya
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka, dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk...” (QS Al-Hujurat: 11).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki dasar untuk merasa lebih baik hanya karena melihat kondisi lahiriah orang lain.
Muhammadiyah dalam pembahasannya mengenai perundungan juga mengaitkan larangan mengolok-olok dan merendahkan dengan kewajiban menjaga kehormatan sesama.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini berlaku dalam percakapan langsung maupun komunikasi digital. Candaan mengenai fisik, keadaan ekonomi, pendidikan, pekerjaan, atau latar belakang seseorang perlu dihindari apabila merendahkan atau menyakiti.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa orang yang direndahkan bisa jadi justru lebih baik daripada orang yang merendahkannya.
Penilaian manusia terhadap seseorang juga terbatas karena tidak dapat mengetahui seluruh kualitas iman, amal, dan ketakwaan orang lain.
Baca juga: Islam dan Budaya, Bolehkah Tradisi Lokal Menjadi Bagian dari Kehidupan Muslim?
Muhammadiyah juga mengingatkan umat Islam agar tidak melampaui batas dalam menilai dan memperlakukan sesama.
Sikap merendahkan dapat muncul ketika seseorang merasa memiliki kedudukan lebih tinggi, padahal ukuran kemuliaan manusia tidak semata-mata ditentukan oleh penampilan, status sosial, atau pencapaian yang terlihat.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
Yā ayyuhalladzīna āmanū ijtanibū katsīram minazh-zhanni inna ba‘dhazh-zhanni itsmun wa lā tajassasū wa lā yaghtab ba‘dhukum ba‘dhā.
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain...” (QS Al-Hujurat: 12).
Baca juga: Dubes Inggris: Muhammadiyah Masuk Dewan Muslim Inggris, Tonggak Hubungan Kedua Negara
Ayat ini memperlihatkan hubungan antara prasangka, mencari-cari kesalahan, dan ghibah.
Mengutip dari laman NU Online menjelaskan bahwa larangan tersebut merupakan bagian dari tuntunan untuk menjaga persaudaraan dan keharmonisan hubungan sosial.
Muhammadiyah juga membahas pentingnya menjaga diri dari prasangka dan merendahkan sesama.
Prasangka yang tidak memiliki dasar dapat membuat seseorang memberikan penilaian buruk sebelum mengetahui keadaan sebenarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim perlu membedakan antara kewaspadaan berdasarkan fakta dan dugaan yang hanya berasal dari asumsi.
Rasulullah SAW juga memberikan peringatan mengenai prasangka. Dari Abu Hurairah RA, beliau bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Iyyākum wazh-zhanna, fa innazh-zhanna akdzabul-hadīts, wa lā tahassasū, wa lā tajassasū, wa lā tahāsadū, wa lā tadābarū, wa lā tabāghadhū, wa kūnū ‘ibādallāhi ikhwanā.
Baca juga: Dubes Inggris: Muhammadiyah Masuk Dewan Muslim Inggris, Tonggak Hubungan Kedua Negara
Artinya: “Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan, jangan memata-matai, jangan saling mendengki, jangan saling membelakangi, jangan saling membenci, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Sahih al-Bukhari Nomor 6064).
Hadis ini menunjukkan bahwa prasangka dapat menjadi awal dari perilaku sosial yang lebih buruk.
Karena itu, ketika mendengar informasi mengenai seseorang, seorang Muslim dianjurkan tidak langsung mempercayai dugaan atau mencari kesalahan orang tersebut tanpa alasan yang benar.
Menjaga diri dari prasangka buruk bukan berarti seorang Muslim harus menerima seluruh perilaku orang lain tanpa pertimbangan.
Husnuzan berarti tidak tergesa-gesa memberikan penilaian negatif ketika belum memiliki dasar yang memadai.
Sikap tersebut dapat diterapkan dengan melakukan klarifikasi ketika menerima informasi yang merugikan orang lain, tidak menyebarkan dugaan, serta memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menjelaskan keadaan sebenarnya.
Prinsip ini semakin relevan di media sosial ketika informasi mengenai seseorang dapat tersebar dengan cepat.
Baca juga: Kemenag Buka 5 Program Non-Degree 2026, Ada Pelatihan Gratis dan Bantuan S2-S3
Pada akhirnya, larangan berprasangka dan merendahkan mengajarkan seorang Muslim untuk menjaga dua hal sekaligus, yakni penilaian dan ucapan.
Penilaian yang terburu-buru dapat melahirkan prasangka, sedangkan ucapan yang merendahkan dapat melukai kehormatan orang lain.
Karena itu, sebelum menilai atau membicarakan seseorang, penting untuk memastikan apakah informasi tersebut benar, apakah penilaian itu memiliki dasar, dan apakah ucapan tersebut memang perlu disampaikan.
Menahan diri dari prasangka dan penghinaan merupakan bagian dari upaya menjaga persaudaraan serta membangun hubungan sosial yang sehat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.