Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Islam Mengajarkan Menjaga Lingkungan? Ini Dalilnya

Kompas.com, 6 Oktober 2026, 11:00 WIB
Puji Sri Rahayu,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan sosial dan ekologis, tetapi juga berkaitan dengan ajaran Islam. Al-Qur’an mengingatkan manusia tentang kerusakan yang muncul akibat perbuatan manusia, sementara hadis menunjukkan bahwa merawat alam dapat bernilai sedekah.

Ajaran tersebut menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan lingkungan memiliki dimensi moral dan keagamaan. Karena itu, menjaga kebersihan, mengurangi pemborosan, merawat tumbuhan, dan mencegah kerusakan alam dapat menjadi bagian dari tanggung jawab seorang Muslim.

Al-Qur’an Mengingatkan Bahaya Kerusakan Alam

Al-Qur’an secara tegas mengaitkan kerusakan di bumi dengan perbuatan manusia. Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Zhaharal-fasādu fil-barri wal-bahri bimā kasabat aidin-nāsi liyudzīqahum ba‘dhal-ladzī ‘amilū la‘allahum yarji‘ūn.

Baca juga: Pemerintah Usulkan Skema Baru Biaya Haji 2027: Jamaah Bayar 52 Persen, BPKH 48 Persen

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa tindakan manusia dapat membawa dampak terhadap kehidupan di darat maupun laut. Dalam konteks sekarang, pesan tersebut relevan untuk membangun kesadaran agar pemanfaatan alam tidak berubah menjadi tindakan yang merusak.

Manusia Bukan Bebas Mengeksploitasi Alam

Islam tidak melarang manusia memanfaatkan sumber daya alam. Namun, pemanfaatannya harus memperhatikan batas dan dampaknya. Kajian Jurnal Hukum Islam UIN Sultan Syarif Kasim Riau menjelaskan bahwa manusia dalam perspektif Islam berperan sebagai penjaga dan pemelihara alam, bukan penguasa yang bebas mengeksploitasinya.

Baca juga: Kemenag Buka 5 Program Non-Degree 2026, Ada Pelatihan Gratis dan Bantuan S2-S3

Pandangan tersebut sejalan dengan kajian Muhammadiyah melalui buku Teologi Lingkungan yang menempatkan pengelolaan alam sebagai amanah religius. Manusia memiliki tanggung jawab untuk memakmurkan bumi sekaligus mencegah kerusakan yang dapat merugikan makhluk lain.

Islam Melarang Sikap Berlebihan

Prinsip menjaga lingkungan juga dapat dilihat dari larangan melakukan sesuatu secara berlebihan. Allah SWT berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Wa kulū wasyrabū wa lā tusrifū innahū lā yuhibb al-musyrifīn.

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raf: 31).

Meski ayat ini berbicara tentang makan dan minum, prinsip tidak berlebihan dapat menjadi bagian dari etika seorang Muslim dalam menggunakan sumber daya. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap tersebut dapat diterapkan dengan menghindari pemborosan makanan, air, energi, dan barang yang masih dapat digunakan.

Baca juga: PPSN VI Ditutup, Dirjen Pesantren: Prestasi Terpenting adalah Karakter

Menanam Pohon Bernilai Sedekah

Perhatian Islam terhadap lingkungan juga terlihat dalam hadis tentang menanam tumbuhan. Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

Mā min muslimin yaghrisu gharsan illā kāna mā ukila minhu lahū shadaqah, wa mā suriqa minhu lahū shadaqah, wa mā akalas-sabu‘u minhu fa huwa lahū shadaqah, wa mā akalath-thairu fa huwa lahū shadaqah, wa lā yarza’uhu ahadun illā kāna lahū shadaqah.

“Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman, kecuali apa yang dimakan darinya menjadi sedekah baginya; apa yang dicuri darinya menjadi sedekah baginya; apa yang dimakan binatang buas darinya menjadi sedekah baginya; apa yang dimakan burung darinya menjadi sedekah baginya; dan apa yang diambil darinya menjadi sedekah baginya.” (Sahih Muslim Nomor 1552a).

Baca juga: Bambu dan Bunyi, Jejak Hubungan Manusia dengan Alam dalam Musik Tradisi

Hadis ini menunjukkan bahwa manfaat yang dihasilkan tanaman tidak hanya dirasakan manusia. Ketika buah atau bagian tanaman dimanfaatkan manusia dan hewan, penanamnya tetap mendapatkan pahala. Menanam dan merawat tumbuhan karena itu dapat menjadi bentuk kebaikan yang manfaatnya melampaui diri sendiri.

Menjaga Lingkungan Bagian dari Akhlak

Jurnal Bimas Islam Kementerian Agama RI mencatat sejumlah hadis yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Kajian tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap lingkungan telah ditemukan dalam berbagai riwayat tentang penanaman pohon, pemanfaatan lahan, dan pencegahan tindakan yang merusak.

NU Online juga menjelaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama karena kelestarian alam berkaitan dengan keberlangsungan berbagai makhluk hidup. Kerusakan terhadap satu bagian ekosistem dapat memberikan dampak kepada manusia dan makhluk lainnya.

Baca juga: Kemenag Buka 5 Program Non-Degree 2026, Ada Pelatihan Gratis dan Bantuan S2-S3

Apa yang Bisa Dilakukan Muslim?

Menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari tindakan besar. Seorang Muslim dapat menerapkannya melalui kebiasaan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, menghemat air dan listrik, mengurangi makanan yang terbuang, merawat tanaman, serta tidak melakukan tindakan yang mencemari lingkungan.

Dengan demikian, kepedulian terhadap alam bukan sekadar mengikuti tren. Islam mengajarkan agar manusia memanfaatkan bumi secara bertanggung jawab, menghindari pemborosan, dan memberikan manfaat bagi makhluk lain. Merawat lingkungan pada akhirnya merupakan bagian dari upaya menjaga amanah kehidupan yang diberikan Allah SWT. 

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar