KOMPAS.com - Nu'aim bin Mas'ud al-Asyja'i merupakan sahabat Nabi Muhammad yang dikenal karena perannya dalam Perang Khandaq.
Ia masuk Islam ketika pasukan gabungan yang memusuhi kaum Muslimin mengepung Madinah.
Setelah memeluk Islam, Nu'aim berupaya melemahkan koordinasi pihak-pihak yang bersekutu melawan Nabi Muhammad.
Kisah Nu'aim memperlihatkan bahwa peran dalam peperangan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik.
Pengetahuan tentang hubungan antarkelompok dan kemampuan membaca situasi juga dapat memengaruhi jalannya konflik.
Riwayat mengenai dirinya tercatat dalam karya biografi sahabat, termasuk Al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah karya Ibn Hajar al-'Asqalani dan At-Ṭabaqāt al-Kubrā karya Ibn Sa'd.
Nama lengkapnya adalah Nu'aim bin Mas'ud bin Amir bin Anif bin Tsa'labah bin Qunfudz dari kabilah Asyja', bagian dari kelompok Ghatafan.
Ia dikenal dengan kunyah Abu Salamah. Ibn Hajar al-'Asqalani mencatat bahwa Nu'aim merupakan sahabat yang masuk Islam pada masa Perang Khandaq.
Baca juga: Perjanjian Hudaibiyah, Kesepakatan Berat yang Berbuah Kemenangan
Sebelum memeluk Islam, Nu'aim memiliki hubungan dengan Bani Quraizhah.
Dalam riwayat yang dicatat Ibn Sa'd, ia biasa mengunjungi Ka'b bin Asad, tokoh Bani Quraizhah, dan tinggal bersama mereka selama beberapa hari.
Hubungan tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perannya ketika pasukan sekutu datang menyerang Madinah.
Perang Khandaq juga dikenal sebagai Perang Ahzab karena melibatkan sejumlah kelompok yang bersekutu untuk menghadapi kaum Muslimin.
Al-Quran menggambarkan situasi pengepungan tersebut dalam Surah Al-Ahzab ayat 9.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 9:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا
Yā ayyuhallażīna āmanużkurū ni'matallāhi 'alaikum iż jā'atkum junūdun fa arsalnā 'alaihim rīḥaw wa junūdal lam tarauhā, wa kānallāhu bimā ta'malūna baṣīrā.
Baca juga: Baznas Diusulkan Dibiayai Negara, Mungkinkah Seperti KPU?
Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ahzab: 9).
Dalam riwayat Ibn Sa'd, Nu'aim berangkat bersama kaumnya ketika pasukan sekutu bergerak menuju Madinah.
Saat itu, ia belum memeluk Islam. Namun, kemudian Allah menanamkan keimanan dalam hatinya. Nu'aim merahasiakan keislamannya dari kaumnya sebelum menemui Nabi Muhammad.
Setelah bertemu Nabi Muhammad, Nu'aim menyampaikan kesediaannya membantu kaum Muslimin.
Ia kemudian memanfaatkan hubungan yang dimilikinya dengan Bani Quraizhah dan pihak Quraisy untuk menimbulkan keraguan di antara kelompok-kelompok yang bersekutu.
Menurut riwayat yang dicatat Ibn Sa'd, Nu'aim mendatangi Bani Quraizhah dan mengingatkan mereka bahwa Quraisy serta Ghatafan dapat meninggalkan Madinah apabila keadaan berubah.
Ia menyarankan agar Bani Quraizhah meminta jaminan dari pihak sekutu sebelum ikut bertempur.
Baca juga: 10 Contoh Doa Penutup Upacara Hari Sumpah Pemuda 2026, Penuh Harapan untuk Indonesia
Nu'aim selanjutnya mendatangi Abu Sufyan bin Harb dan menyampaikan kekhawatiran mengenai sikap Bani Quraizhah.
Dengan cara tersebut, masing-masing pihak mulai mempertanyakan kepercayaan terhadap sekutunya. Strategi ini berupaya mengganggu koordinasi pasukan tanpa mengandalkan serangan langsung.
Salah satu hadis yang berkaitan dengan prinsip strategi peperangan tercatat dalam Sahih al-Bukhari nomor 3030. Hadis ini diriwayatkan Jabir bin Abdullah dan memuat sabda Nabi Muhammad:
الْحَرْبُ خُدْعَةٌ
Al-ḥarbu khud'ah.
“Perang adalah siasat.” (Sahih al-Bukhari nomor 3030).
Hadis tersebut menjelaskan prinsip umum dalam peperangan, bukan kutipan yang secara khusus ditujukan kepada Nu'aim.
Karena itu, hadis ini dapat digunakan untuk memahami konteks strategi perang, tetapi tidak boleh dianggap sebagai bukti bahwa Nabi mengucapkannya langsung kepada Nu'aim dalam peristiwa tersebut.
Baca juga: 30 Contoh Penutupan MC Islami Singkat dan Penuh Doa
Perang Khandaq berakhir setelah pasukan sekutu meninggalkan Madinah. Surah Al-Ahzab ayat 9 menyebut pertolongan Allah berupa angin dan bala tentara yang tidak terlihat.
Riwayat sejarah juga mengaitkan berakhirnya pengepungan dengan terganggunya hubungan di antara pihak-pihak yang bersekutu.
Ibn Hajar mencatat Nu'aim sebagai sahabat yang berperan menimbulkan perselisihan di antara kelompok sekutu pada Perang Khandaq.
Meski demikian, peristiwa tersebut perlu ditempatkan dalam konteks keseluruhan perang, bukan dipahami seolah-olah hanya satu strategi yang menentukan hasil akhirnya.
Baca juga: Teks Doa Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026, Lengkap dengan Doa Ashabul Kahfi
Kisah Nu'aim bin Mas'ud menunjukkan bagaimana perubahan keyakinan dan pemanfaatan pengetahuan tentang hubungan antarkelompok dapat memengaruhi pilihan seseorang di tengah konflik.
Perannya dalam Perang Khandaq dikenang sebagai bagian dari sejarah perjuangan kaum Muslimin pada masa Nabi Muhammad.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.