Editor
KOMPAS.com — Kedekatan anak dengan kakek-nenek terkadang menimbulkan kecemburuan orangtua.
Anak bisa lebih memilih bermain, menyampaikan keinginan, bahkan mengadukan persoalannya kepada kakek atau nenek dibandingkan kepada ayah dan ibunya.
Alumnus PP Nurul Cholil sekaligus Perumus LBM Nurul Cholil, Syifaul Qulub Amin, menjelaskan bahwa perasaan tersebut manusiawi.
Namun, orang tua perlu menyikapinya secara bijak agar tidak mengganggu keharmonisan keluarga.
Baca juga: Bantu Teman Tuli Belajar Islam, Kemenag Kembangkan KOSMIN dan RISE
Dalam uraiannya, pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan, itu mengingatkan bahwa orang tua tidak perlu merasa tersaingi selama kedekatan anak dengan kakek-nenek membawa pengaruh positif.
Kasih sayang, kesabaran, dan perhatian yang diberikan kakek-nenek justru dapat menjadi bahan introspeksi untuk membangun hubungan yang lebih hangat dengan anak.
Dikutip dari NU Online, Syifaul mengatakan, kedekatan anak dengan kakek-nenek bukan hal baru dalam kehidupan keluarga.
Selain kasih sayang, hubungan tersebut dapat dipengaruhi oleh suasana yang nyaman, kebersamaan yang berkualitas, serta sikap kakek-nenek yang cenderung sabar dan tenang.
Anak yang merasa nyaman dapat memilih mendatangi kakek-nenek ketika menginginkan sesuatu atau membutuhkan tempat bercerita.
Keadaan tersebut terkadang memunculkan kecemburuan orang tua. Namun, selama hubungan itu memberikan pengaruh positif, orang tua tidak perlu menyikapinya secara berlebihan.
Baca juga: Bagaimana Hukum Mahar Hafalan Al-Quran? Ini Ketentuannya dalam Islam
Syifaul menjelaskan bahwa rasa cemburu dapat muncul dalam hubungan keluarga, termasuk ketika orang tua melihat anak lebih dekat dengan kakek-neneknya.
Dalam pembahasannya, ia mengutip hadis riwayat Imam Muslim:
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَغَارُ، وَالْمُؤْمِنُ يَغَارُ، وَغِيْرَةُ اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يَأْتِيَ الرَّجُلُ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ
Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah memiliki cemburu. Orang mukmin pun cemburu. Cemburu Allah adalah ketika seorang mukmin melakukan larangan yang diharamkan oleh-Nya’.” (HR Imam Muslim).
Sifat cemburu yang dinisbatkan kepada Allah dalam hadis tersebut dipahami sesuai dengan keagungan-Nya dan tidak disamakan dengan kecemburuan manusia.
Adapun dalam hubungan keluarga, munculnya rasa cemburu perlu disikapi dengan mempertimbangkan alasan dan pengaruhnya terhadap hubungan antaranggota keluarga.
Syifaul merujuk penjelasan Syekh Zainuddin Al-Munawi mengenai dua macam kecemburuan, yakni yang terpuji dan tercela.
Al-Munawi menjelaskan:
فَإِنَّ غِيْرَةَ الْعَبْدِ عَلَى مَحْبُوبِهِ نَوْعَانِ: مَمْدُوحَةٌ يُحِبُّهَا اللَّهُ تَعَالَى وَهِيَ مَا كَانَ عِنْدَ قِيَامِ رِيبَةٍ، وَمَذْمُومَةٌ يَكْرَهُهَا وَهِيَ مَا كَانَ عِنْدَ عَدَمِهَا بَلْ بِمُجَرَّدِ سُوءِ الظَّنِّ، وَهَذِهِ تُفْسِدُ الْحِيْبَ وَتُوقِعُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْمُحِبِّينَ.
Artinya, “Cemburunya hamba terhadap orang yang dicintainya itu ada dua macam. Pertama, cemburu terpuji yang disenangi oleh Allah SWT. Yaitu merujuk pada setiap cemburu saat ada indikator.
“Dan kedua, cemburu tercela yang dibenci oleh-Nya. Yaitu merujuk pada setiap cemburu tanpa adanya indikator. Ia hanya berangkat dari prasangka buruk. Cemburu macam ini bisa merusak tali kekerabatan dan dapat menyebabkan permusuhan di antara dua kekasih.” (Syekh Zainuddin Al-Munawi, Faidhul Qadir, Mesir: Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, 1356 H, jilid II, hlm. 294).
Dalam konteks hubungan orang tua dan anak, Syifaul mengajak orang tua menilai apakah kecemburuan itu didasari persoalan yang jelas atau sekadar prasangka buruk.
Apabila anak dekat dengan kakek-nenek karena mendapatkan kasih sayang, kesabaran, dan perhatian, orang tua dapat menjadikannya sebagai bahan introspeksi.
Sikap positif kakek-nenek dapat menjadi teladan untuk membangun hubungan yang lebih hangat dengan anak. Sebaliknya, kecemburuan yang bertumpu pada prasangka buruk perlu dihindari karena berpotensi memicu konflik keluarga.
Syifaul juga merujuk penjelasan Imam Al-Ghazali mengenai pentingnya bersikap proporsional dalam menghadapi kecemburuan:
الاِعْتِدَالُ فِي الْغِيْرَةِ وَهُوَ أَنْ لَا يَتَغَافَلَ عَنْ مَبَادِئِ الْأُمُورِ الَّتِي تُخْشَى غَوَائِلُهَا وَلَا يُبَالِغَ فِي إِسَاءَةِ الظَّنِّ وَالتَّعَنْتِ وَتَجَسُّسِ الْبَوَاطِنِ
Artinya, “Proporsional dalam cemburu, yaitu tidak lupa terhadap prinsip-prinsip yang dikhawatirkan terjadi kerusakan dan tidak berlebihan dalam buruk sangka, (berlebihan) mencari kesalahan, dan mengintai hal-hal yang bersifat rahasia.” (Ihya’ Ulumiddin, Beirut: Darul Ma’rifah, t.t., jilid II, hlm. 45).
Merujuk penjelasan tersebut, orang tua perlu menjaga keseimbangan antara kepedulian terhadap anak dan pengendalian prasangka.
Orang tua tetap perlu memperhatikan hubungan serta pengasuhan anak, tetapi tidak berlebihan dalam mencurigai kedekatannya dengan anggota keluarga lain.
Menurut Syifaul, kecemburuan ketika anak lebih dekat dengan kakek-nenek dapat diarahkan menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas pengasuhan.
Orang tua dapat memperkuat hubungan melalui perhatian, kebersamaan yang berkualitas, dan suasana komunikasi yang membuat anak nyaman bercerita.
Perhatian tersebut juga mencakup pendidikan, kesehatan fisik dan mental, serta penanaman kemandirian sebagai bekal masa depan.
Selama kedekatan dengan kakek-nenek membawa pengaruh positif, kasih sayang mereka dapat menjadi dukungan bagi orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.