Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Dugderan hingga 3.000 Culok, Tradisi Sambut Ramadhan 1447 H Semarak di Berbagai Daerah

Kompas.com, 15 Februari 2026, 08:12 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, sejumlah daerah di Indonesia menggelar pawai, kirab budaya, hingga tradisi lampu dan obor sebagai wujud syiar sekaligus memperkuat kebersamaan.

Dari Jawa Tengah hingga Bangka Belitung, ribuan pelajar dan warga turun ke jalan menyambut bulan suci dengan penuh suka cita.

Ribuan Pelajar Ramaikan Tarhib Ramadhan di Kudus

Sebanyak 3.000 lebih pelajar memadati kawasan Alun-alun dan Simpang Tujuh Kudus, Sabtu (14/2/2026), dalam kegiatan Tarhib Ramadhan yang digelar jaringan Sekolah Islam Terpadu (SIT) setempat.

Acara diawali penampilan drumband dari TKIT Umar Bin Khathab dan Polisi Cilik SDIT Al Islam, dilanjutkan doa bersama serta dongeng edukatif oleh pendongeng nasional asal Yogyakarta, Kak Aris Pahlawan Bertopeng. Dongeng tersebut dirancang menanamkan nilai kepedulian sosial dan semangat beribadah jelang Ramadhan.

Baca juga: Awal Puasa Ramadhan 18 atau 19 Februari 2026? Ini Versi Muhammadiyah, NU, BRIN, dan Pemerintah

Untuk siswa kelas 4–6 SD, SMP, serta para orang tua, kegiatan dilanjutkan dengan pawai mengelilingi ruas utama kota.

Sepanjang rute, peserta membagikan jadwal imsakiyah dan atribut siar Ramadhan kepada masyarakat.

Bupati Kudus Sam'ani Intakoris membuka acara dengan simbolis melepas burung merpati. Ia mengapresiasi kegiatan yang dinilai strategis dalam membangun karakter religius generasi muda sejak dini serta memperkuat ukhuwah di ruang publik.

Dugderan, Akulturasi Budaya di Semarang

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti pada karnaval Dugderan tahun 2025. ANTARA/Pemkot Semarang Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti pada karnaval Dugderan tahun 2025.

Di Semarang, tradisi Dugderan kembali digelar dengan skala lebih megah pada 16 Februari 2026.

Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut Dugderan sebagai simbol akulturasi budaya dan kebersamaan warga dalam menyambut puasa.

Mengusung tema “Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi”, karnaval melintasi ikon-ikon religi lintas budaya.

Prosesi dibagi dua sesi, yakni Pawai Budaya Dugder dari Balai Kota menuju Alun-Alun Kauman, lalu rombongan wali kota melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Jawa Tengah tanpa iringan parade.

Tak hanya itu, Kirab Dugder Anak yang melibatkan pelajar turut meramaikan suasana. Pemerintah Kota Semarang berharap tradisi ini menjadi magnet wisata budaya sekaligus mempertegas identitas kota yang inklusif dan toleran.

Lomba Belarak di Singkawang Libatkan 598 Siswa

Sebanyak 598 siswa dari 23 SMP dan MTs se-Kota Singkawang mengikuti lomba Belarak dan Khataman Al Quran di Masjid Raya dan Rumah Adat Melayu Singkawang.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama DPD Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) dan Kementerian Agama setempat.

Kepala Disdikbud Singkawang Asmadi menyebut kegiatan ini sebagai upaya membina generasi Qurani sekaligus memperkaya agenda budaya di kota pariwisata tersebut.

Selain lomba, dalam waktu dekat puak-puak Melayu juga akan menggelar pawai obor menyambut Ramadhan, mempertegas nuansa religius yang berpadu dengan kearifan lokal.

Tradisi 3.000 Culok di Mentok

Di Kampung Dayabaru, Mentok, Bangka Barat, warga kembali melestarikan Tradisi 3.000 Culok.

Culok adalah lentera tradisional dari bambu, kaleng, atau botol bekas yang dipasang di depan rumah sebagai penerang jalan menjelang Ramadhan.

Kini, tradisi itu berkembang dengan pemasangan ribuan culok di sepanjang jalan kampung serta pawai obor beberapa hari sebelum puasa.

Baca juga: Kemenag Jelaskan Alasan Penggunaan 2 Metode Penentuan 1 Ramadhan 1447 H dalam Sidang Isbat

Pemerintah Kabupaten Bangka Barat telah memasukkan tradisi ini dalam agenda tahunan kebudayaan daerah sebagai bentuk komitmen pelestarian adat.

Ragam pawai, kirab, dan tradisi lokal tersebut menjadi bukti bahwa menyambut Ramadhan bukan sekadar seremoni, tetapi juga momentum memperkuat nilai religius, gotong royong, serta toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com