Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Kerja Teleskop dalam Memantau Hilal Penentuan Awal Ramadhan, Begini Teknologinya

Kompas.com, 16 Februari 2026, 05:30 WIB
Add on Google
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Menjelang penentuan awal Ramadhan 1447 H, perhatian publik kembali tertuju pada proses pemantauan hilal.

Di balik keputusan resmi pemerintah melalui Sidang Isbat, ada kerja ilmiah yang semakin modern—termasuk penggunaan teleskop otomatis yang terintegrasi dengan perangkat lunak astronomi.

Salah satu inovasi tersebut dikembangkan tim peneliti dari Jurusan Fisika Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Mereka memanfaatkan sistem teleskop otomatis untuk membantu proses rukyat agar lebih presisi, cepat, dan akurat.

Lalu, bagaimana sebenarnya cara kerja teleskop dalam memantau hilal penentuan awal Ramadhan?

Sistem Penggerak Otomatis: Teleskop Tak Lagi Manual

Teleskop yang digunakan, seperti tipe Sky-Watcher BK909 NEQ2, dilengkapi sistem mounting atau dudukan mekanis yang dapat bergerak otomatis.

Baca juga: Daftar Negara-negara yang Sudah Menetapkan Awal Ramadhan 2026, Mayoritas Mulai 19 Februari

Jika dulu pengamat harus mengarahkan teleskop secara manual dengan perkiraan visual, kini sistem penggerak ini memungkinkan teleskop bergerak sendiri mengikuti koordinat langit yang sudah dihitung sebelumnya.

Mounting tipe ekuatorial seperti NEQ2 bekerja dengan menyesuaikan rotasi bumi. Artinya, setelah objek terkunci, teleskop dapat mengikuti pergerakan bulan secara stabil tanpa perlu disesuaikan terus-menerus.

Teknologi ini menjadi kunci penting dalam pengamatan hilal yang hanya muncul dalam waktu singkat setelah matahari terbenam.

Integrasi Perangkat Lunak: Peran SkyPlanetarium

Teleskop tersebut dihubungkan ke komputer yang menjalankan perangkat lunak astronomi bernama SkyPlanetarium.

Di sinilah integrasi antara sains komputasi dan observasi langit terjadi.

Cara kerjanya:

1. Pengamat memasukkan koordinat astronomis hilal berdasarkan data hisab.

2. Perangkat lunak menghitung posisi presisi bulan sabit muda.

3. Sistem otomatis menggerakkan teleskop ke titik koordinat tersebut.

4. Teleskop kemudian membidik dan mengunci posisi hilal secara akurat.

Dengan sistem ini, kemungkinan salah arah atau kehilangan objek bisa diminimalkan.

Presisi yang Membantu Penentuan Awal Ramadhan

Dalam konteks Indonesia, penentuan awal Ramadhan tidak hanya bergantung pada satu metode.

Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menggunakan kombinasi hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung).

Agar tidak terjadi perbedaan yang tajam, digunakan standar visibilitas hilal yang dikenal sebagai Kriteria MABIMS—kesepakatan Menteri Agama dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Berdasarkan standar terbaru:

  • Tinggi hilal minimal 3 derajat
  • Sudut elongasi minimal 6,4 derajat

Kriteria ini menjadi jembatan antara data ilmiah dan kesaksian visual di lapangan. Jika ada laporan melihat hilal namun posisinya masih di bawah standar tersebut, maka kesaksiannya dapat diuji ulang secara ilmiah.

Mengapa Pengamatan 18 Februari 2026 Menarik?

Menurut analisis astronomi yang disampaikan Guru Besar Fisika Unsoed, Prof Ir Jamrud Aminuddin, pada 18 Februari 2026 posisi hilal diperkirakan cukup tinggi:

  • Ketinggian sekitar 9 derajat 31 menit
  • Elongasi sekitar 11 derajat 54 menit

Angka ini jauh melampaui kriteria minimal MABIMS. Artinya, secara teoritis, hilal berpotensi mudah terlihat—bahkan tanpa alat optik canggih.

Namun di sinilah peran teleskop otomatis tetap penting: memastikan dokumentasi visual yang lebih kuat dan objektif untuk mendukung keputusan Sidang Isbat.

Kemudahan Operasional: Tak Perlu Ahli Fotografi

Salah satu keunggulan sistem teleskop otomatis ini adalah kemudahan penggunaan.

Pengamat tidak harus memiliki keahlian fotografi langit atau pengalaman astronomi tingkat tinggi. Selama data koordinat benar dan perangkat lunak terkalibrasi dengan baik, sistem dapat bekerja secara presisi.

Ini menjadi langkah maju dalam literasi sains di Indonesia. Pengamatan hilal kini tidak lagi dipandang sebagai proses mistis atau sekadar tradisi, melainkan bagian dari penerapan astronomi modern.

Titik Temu Sains dan Keputusan Keagamaan

Penentuan awal Ramadhan tetap akan diputuskan melalui Sidang Isbat oleh pemerintah. Namun dukungan teknologi seperti teleskop otomatis dan integrasi perangkat lunak membantu:

  • Mengurangi potensi perbedaan laporan
  • Memberikan bukti visual yang terdokumentasi
  • Memperkuat kepercayaan publik terhadap proses ilmiah

Dengan standar MABIMS sebagai parameter kontrol, laporan rukyat dapat diuji berdasarkan data objektif.

Lebih dari Sekadar Melihat Bulan

Cara kerja teleskop dalam memantau hilal penentuan awal Ramadhan menunjukkan bagaimana sains dan agama berjalan berdampingan.

Di satu sisi, ada perhitungan matematis dan koordinat langit yang presisi. Di sisi lain, ada tradisi rukyat yang telah dilakukan selama berabad-abad.

Kini, keduanya bertemu dalam teknologi otomatis yang membuat proses lebih akurat, efisien, dan transparan.

Baca juga: Muhammadiyah Awal Puasa 18 Februari 2026, Ini Alasan Ilmiahnya dan Potensi Beda dengan Pemerintah

Menjelang Ramadhan 2026, publik tak hanya menunggu pengumuman tanggal puasa, tetapi juga menyaksikan bagaimana inovasi sains membantu menjaga keseragaman ibadah.

Dan mungkin, di balik senja 18 Februari 2026 nanti, teleskop-teleskop otomatis itu akan kembali mengarah ke ufuk barat—mencari lengkung tipis cahaya yang menandai datangnya bulan suci.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Momen Langka, Begini Penampakan Asli Kabah Tanpa Kiswah
Momen Langka, Begini Penampakan Asli Kabah Tanpa Kiswah
Aktual
Masjid Yokohama Jepang Resmi Berdiri, Jusuf Kalla: Simbol Persatuan dan Gotong Royong Umat Dunia
Masjid Yokohama Jepang Resmi Berdiri, Jusuf Kalla: Simbol Persatuan dan Gotong Royong Umat Dunia
Aktual
Misteri “Desert Kites” di Arab Saudi Ungkap Kecerdasan Manusia Purba
Misteri “Desert Kites” di Arab Saudi Ungkap Kecerdasan Manusia Purba
Aktual
Indonesia–Qatar Perkuat Kerja Sama Riset dan Beasiswa, Peluang Studi ke Luar Negeri Makin Terbuka
Indonesia–Qatar Perkuat Kerja Sama Riset dan Beasiswa, Peluang Studi ke Luar Negeri Makin Terbuka
Aktual
Mengapa Madinah Disebut Tanah Haram? Ini Penjelasan Lengkap dengan Sejarahnya
Mengapa Madinah Disebut Tanah Haram? Ini Penjelasan Lengkap dengan Sejarahnya
Aktual
12 Tempat Mustajab untuk Berdoa di Makkah, dari Ka’bah hingga Padang Arafah
12 Tempat Mustajab untuk Berdoa di Makkah, dari Ka’bah hingga Padang Arafah
Aktual
Bacaan Niat Sholat Subuh Lengkap: Sendiri, Imam, dan Makmum
Bacaan Niat Sholat Subuh Lengkap: Sendiri, Imam, dan Makmum
Doa dan Niat
Doa Susah Tidur, Amalan yang Diajarkan Rasulullah SAW untuk Atasi Insomnia
Doa Susah Tidur, Amalan yang Diajarkan Rasulullah SAW untuk Atasi Insomnia
Doa dan Niat
Arab Saudi Terapkan Aturan Baru Haji: Denda Pelanggaran Penyedia Hotel hingga 50.000 Riyal
Arab Saudi Terapkan Aturan Baru Haji: Denda Pelanggaran Penyedia Hotel hingga 50.000 Riyal
Aktual
Kehidupan di Alam Barzah, Simak Penjelasan Ulama tentang Kondisi Manusia di Alam Kubur
Kehidupan di Alam Barzah, Simak Penjelasan Ulama tentang Kondisi Manusia di Alam Kubur
Aktual
Hukum Menanam Tanaman di Atas Makam: Benarkah Bisa Ringankan Siksa Kubur?
Hukum Menanam Tanaman di Atas Makam: Benarkah Bisa Ringankan Siksa Kubur?
Aktual
Hadits Nabi Tegaskan Bahaya Mendoakan Keburukan, Salah Satu Doa yang Dilarang dalam Islam
Hadits Nabi Tegaskan Bahaya Mendoakan Keburukan, Salah Satu Doa yang Dilarang dalam Islam
Doa dan Niat
Berawal dari Surat Nabi, Ini Kisah Tragis 'Robeknya' Kerajaan Persia
Berawal dari Surat Nabi, Ini Kisah Tragis 'Robeknya' Kerajaan Persia
Aktual
Asrama Haji Donohudan Siap Sambut Jemaah Haji 2026, Kloter Pertama Masuk 21 April
Asrama Haji Donohudan Siap Sambut Jemaah Haji 2026, Kloter Pertama Masuk 21 April
Aktual
Raja Persia Robek Surat Nabi, Ini Isi dan Kisah Lengkapnya
Raja Persia Robek Surat Nabi, Ini Isi dan Kisah Lengkapnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com