Editor
KOMPAS.com - Menjelang penentuan awal Ramadhan 1447 H, perhatian publik kembali tertuju pada proses pemantauan hilal.
Di balik keputusan resmi pemerintah melalui Sidang Isbat, ada kerja ilmiah yang semakin modern—termasuk penggunaan teleskop otomatis yang terintegrasi dengan perangkat lunak astronomi.
Salah satu inovasi tersebut dikembangkan tim peneliti dari Jurusan Fisika Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Mereka memanfaatkan sistem teleskop otomatis untuk membantu proses rukyat agar lebih presisi, cepat, dan akurat.
Lalu, bagaimana sebenarnya cara kerja teleskop dalam memantau hilal penentuan awal Ramadhan?
Teleskop yang digunakan, seperti tipe Sky-Watcher BK909 NEQ2, dilengkapi sistem mounting atau dudukan mekanis yang dapat bergerak otomatis.
Baca juga: Daftar Negara-negara yang Sudah Menetapkan Awal Ramadhan 2026, Mayoritas Mulai 19 Februari
Jika dulu pengamat harus mengarahkan teleskop secara manual dengan perkiraan visual, kini sistem penggerak ini memungkinkan teleskop bergerak sendiri mengikuti koordinat langit yang sudah dihitung sebelumnya.
Mounting tipe ekuatorial seperti NEQ2 bekerja dengan menyesuaikan rotasi bumi. Artinya, setelah objek terkunci, teleskop dapat mengikuti pergerakan bulan secara stabil tanpa perlu disesuaikan terus-menerus.
Teknologi ini menjadi kunci penting dalam pengamatan hilal yang hanya muncul dalam waktu singkat setelah matahari terbenam.
Teleskop tersebut dihubungkan ke komputer yang menjalankan perangkat lunak astronomi bernama SkyPlanetarium.
Di sinilah integrasi antara sains komputasi dan observasi langit terjadi.
Cara kerjanya:
1. Pengamat memasukkan koordinat astronomis hilal berdasarkan data hisab.
2. Perangkat lunak menghitung posisi presisi bulan sabit muda.
3. Sistem otomatis menggerakkan teleskop ke titik koordinat tersebut.
4. Teleskop kemudian membidik dan mengunci posisi hilal secara akurat.
Dengan sistem ini, kemungkinan salah arah atau kehilangan objek bisa diminimalkan.
Dalam konteks Indonesia, penentuan awal Ramadhan tidak hanya bergantung pada satu metode.
Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menggunakan kombinasi hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung).
Agar tidak terjadi perbedaan yang tajam, digunakan standar visibilitas hilal yang dikenal sebagai Kriteria MABIMS—kesepakatan Menteri Agama dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Berdasarkan standar terbaru:
Kriteria ini menjadi jembatan antara data ilmiah dan kesaksian visual di lapangan. Jika ada laporan melihat hilal namun posisinya masih di bawah standar tersebut, maka kesaksiannya dapat diuji ulang secara ilmiah.
Menurut analisis astronomi yang disampaikan Guru Besar Fisika Unsoed, Prof Ir Jamrud Aminuddin, pada 18 Februari 2026 posisi hilal diperkirakan cukup tinggi:
Angka ini jauh melampaui kriteria minimal MABIMS. Artinya, secara teoritis, hilal berpotensi mudah terlihat—bahkan tanpa alat optik canggih.
Namun di sinilah peran teleskop otomatis tetap penting: memastikan dokumentasi visual yang lebih kuat dan objektif untuk mendukung keputusan Sidang Isbat.
Salah satu keunggulan sistem teleskop otomatis ini adalah kemudahan penggunaan.
Pengamat tidak harus memiliki keahlian fotografi langit atau pengalaman astronomi tingkat tinggi. Selama data koordinat benar dan perangkat lunak terkalibrasi dengan baik, sistem dapat bekerja secara presisi.
Ini menjadi langkah maju dalam literasi sains di Indonesia. Pengamatan hilal kini tidak lagi dipandang sebagai proses mistis atau sekadar tradisi, melainkan bagian dari penerapan astronomi modern.
Penentuan awal Ramadhan tetap akan diputuskan melalui Sidang Isbat oleh pemerintah. Namun dukungan teknologi seperti teleskop otomatis dan integrasi perangkat lunak membantu:
Dengan standar MABIMS sebagai parameter kontrol, laporan rukyat dapat diuji berdasarkan data objektif.
Cara kerja teleskop dalam memantau hilal penentuan awal Ramadhan menunjukkan bagaimana sains dan agama berjalan berdampingan.
Di satu sisi, ada perhitungan matematis dan koordinat langit yang presisi. Di sisi lain, ada tradisi rukyat yang telah dilakukan selama berabad-abad.
Kini, keduanya bertemu dalam teknologi otomatis yang membuat proses lebih akurat, efisien, dan transparan.
Baca juga: Muhammadiyah Awal Puasa 18 Februari 2026, Ini Alasan Ilmiahnya dan Potensi Beda dengan Pemerintah
Menjelang Ramadhan 2026, publik tak hanya menunggu pengumuman tanggal puasa, tetapi juga menyaksikan bagaimana inovasi sains membantu menjaga keseragaman ibadah.
Dan mungkin, di balik senja 18 Februari 2026 nanti, teleskop-teleskop otomatis itu akan kembali mengarah ke ufuk barat—mencari lengkung tipis cahaya yang menandai datangnya bulan suci.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang