KOMPAS.com – Ramadhan sering disebut sebagai momentum detoks alami. Waktu makan lebih singkat, frekuensi berkurang, dan pola hidup cenderung lebih teratur. Namun faktanya, tidak sedikit orang justru mengalami kenaikan berat badan setelah Lebaran.
Penyebabnya bukan pada puasanya, melainkan pola makan yang kurang terkendali saat berbuka dan sahur.
Minuman tinggi gula, gorengan, serta porsi berlebihan kerap menjadi “jebakan kalori” yang sulit dihindari.
Padahal, jika direncanakan dengan tepat, Ramadhan bisa menjadi waktu ideal untuk menjaga bahkan menurunkan berat badan secara sehat.
Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa? Ini Hukum Puasa Sambil Niat Diet
Dalam buku Gizi dalam Daur Kehidupan karya Holif Fitriyah dkk, dijelaskan bahwa tubuh tetap membutuhkan kombinasi karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serat, vitamin, dan mineral meski dalam kondisi puasa.
Puasa bukan berarti mengurangi nutrisi, tetapi mengatur ulang waktu dan komposisi asupan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 168:
Yā ayyuhan-nāsu kulū mimmā fil-arḍi ḥalālan ṭayyibā.
Artinya: “Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi.”
Ayat ini menjadi landasan penting bahwa kualitas makanan (ṭayyib) sama pentingnya dengan kehalalan.
Dalam konteks diet Ramadhan, makanan yang baik berarti bergizi, seimbang, dan tidak berlebihan.
Baca juga: Ide Menu Sahur Pertama Ramadhan: Praktis, Bergizi, dan Tahan Lapar
Berbuka sebaiknya diawali dengan makanan ringan yang mengembalikan energi tanpa memicu lonjakan gula darah berlebihan.
Ilustrasi kurma.
ilustrasi air kelapa. Apa manfaatnya?
Ilustrasi sayur bayam.
Ilustrasi sup ayam kuah bening.
Ada banyak tren menikmati salad, mulai dari salad bar hingga terbaru yaitu living salad bar.Dalam buku The Science of Nutrition karya Janice Thompson dijelaskan bahwa protein meningkatkan rasa kenyang lebih lama dibanding karbohidrat sederhana.
Baca juga: Ide Menu Takjil Kekinian dan Paling Dicari Cocok untuk Buka Puasa
Ilustrasi pepes ikan kembung untuk menu lauk makan saat sahur.
Ilustrasi omelette sayuran.
Ilustrasi smoothies alpukat.
Ilustrasi makan kacang almond.
Ilustrasi bubur kacang hijau. Allah SWT juga mengingatkan dalam Surah Al-A’raf ayat 31:
Wa kulū wasyrabū walā tusrifū.
Artinya: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”
Pesan ini relevan dalam menjaga porsi makan saat berbuka.
Baca juga: 7 Ide Menu Sahur Paling Nikmat dan Bergizi untuk 7 Hari ke Depan, Biar Puasa Tahan Lama!
Sahur berperan penting menjaga energi sepanjang hari. Fokus utamanya adalah karbohidrat kompleks dan protein.
Penyakit akibat makan oatmeal setiap hari
Ilustrasi oatmeal. Ahli gizi mengungkapkan bahwa tidak semua karbo perlu dihindari saat diet, bahkan ada jenis yang justru membantu menurunkan berat badan.
Ilustrasi roti gandum
Ilustrasi quinoa.
Ilustrasi ayam panggang khas Filiphino.
Ilustrasi capcay atau capcai. Dalam buku Rahasia Sehat Rasulullah karya dr. Zaidul Akbar disebutkan bahwa pola makan sederhana, minim gula berlebihan, dan memperbanyak makanan alami adalah kunci menjaga stamina selama puasa.
Beberapa strategi penting selama Ramadhan:
Puasa sendiri pada dasarnya memberi manfaat metabolik. Dalam jurnal New England Journal of Medicine (2019) disebutkan bahwa pembatasan waktu makan dapat membantu sensitivitas insulin dan manajemen berat badan bila dilakukan dengan pola makan yang tepat.
Ramadhan bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga kesempatan memperbaiki gaya hidup. Puasa melatih disiplin, termasuk dalam urusan makan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Takwa bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga mengendalikan diri dari berlebihan.
Dengan perencanaan menu yang tepat seimbang, bergizi, dan terkontrol, Ramadhan bisa menjadi titik awal perubahan pola makan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Pertanyaannya kini bukan lagi “apakah bisa diet saat puasa?”, melainkan sudahkah kita memilih menu yang tepat untuk mendukungnya?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang