KOMPAS.com – Bulan Ramadhan identik dengan suasana teduh dan ibadah yang meningkat. Namun di balik nuansa spiritual tersebut, tidak sedikit orang mengaku lebih mudah tersinggung atau cepat marah saat berpuasa. Apakah kondisi ini sekadar sugesti, atau ada penjelasan ilmiah di baliknya?
Dalam perspektif kesehatan dan psikologi, perubahan emosi saat puasa memang memiliki dasar biologis.
Sementara dalam ajaran Islam, puasa justru menjadi sarana melatih kesabaran dan pengendalian diri. Berikut penjelasan lengkapnya dari beberapa sumber.
Selama kurang lebih 12–14 jam, tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman. Perubahan ini memengaruhi sistem metabolisme, hormon, hingga fungsi otak.
Dalam buku Why Zebras Don’t Get Ulcers karya Robert M. Sapolsky, dijelaskan bahwa perubahan asupan energi dapat memengaruhi stabilitas hormon stres dalam tubuh. Ketika energi menurun, tubuh cenderung lebih sensitif terhadap tekanan.
Kondisi ini menjelaskan mengapa sebagian orang merasa emosinya lebih fluktuatif selama berpuasa.
Baca juga: Hal-hal yang Membatalkan Puasa Ramadhan, Jangan Sampai Ibadah Jadi Sia-sia
Saat tidak makan dalam waktu lama, kadar gula darah (glukosa) menurun. Padahal, glukosa adalah sumber energi utama otak.
Penurunan kadar gula darah atau hipoglikemia ringan dapat memicu gejala seperti lelah, pusing, sulit konsentrasi, dan iritabilitas.
Dalam literatur medis dikenal istilah hypoglycemia-induced irritability, yaitu kondisi mudah marah akibat rendahnya gula darah.
Otak yang kekurangan energi bekerja kurang optimal dalam mengatur emosi. Akibatnya, respons terhadap situasi tertentu menjadi lebih reaktif.
Selain gula darah, hormon kortisol juga berperan dalam perubahan emosi. Kortisol adalah hormon stres yang meningkat ketika tubuh berada dalam kondisi tekanan atau kekurangan energi.
Dalam buku The Endocrine System at a Glance karya Ben Greenstein dan Diana Wood, dijelaskan bahwa kortisol berfungsi menjaga keseimbangan energi saat tubuh mengalami stres metabolik, termasuk saat berpuasa.
Namun, jika kadar kortisol meningkat berlebihan, seseorang dapat menjadi lebih sensitif, cemas, bahkan mudah tersinggung.
Selama Ramadhan, pola tidur sering berubah karena sahur dan ibadah malam seperti tarawih. Kurang tidur berdampak langsung pada otak, terutama bagian amigdala yang mengatur respons emosional.
Penelitian dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa kurang tidur meningkatkan aktivitas amigdala hingga 60 persen lebih tinggi dibanding kondisi cukup tidur. Artinya, reaksi emosional menjadi lebih cepat dan intens.
Inilah sebabnya seseorang bisa merasa lebih mudah kesal ketika tubuh kurang istirahat.
Baca juga: Bolehkah Niat Puasa Ramadhan 1 Bulan Sekaligus? Ini Penjelasan Mazhab Syafi’i dan Imam Malik
Bagi yang terbiasa minum kopi setiap pagi, puasa dapat memicu caffeine withdrawal. Gejalanya meliputi sakit kepala, kelelahan, sulit fokus, dan perubahan suasana hati.
Dalam buku Caffeine Blues karya Stephen Cherniske, dijelaskan bahwa penghentian mendadak konsumsi kafein dapat memengaruhi neurotransmitter di otak, terutama dopamin yang berkaitan dengan perasaan nyaman.
Kondisi ini membuat seseorang lebih rentan terhadap stres kecil yang biasanya tidak terlalu mengganggu.
Kurangnya cairan selama berpuasa juga berdampak pada fungsi kognitif. Dehidrasi ringan saja sudah cukup memengaruhi konsentrasi dan suasana hati.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition, dehidrasi ringan dapat meningkatkan rasa lelah dan menurunkan stabilitas emosi, terutama pada suhu lingkungan yang panas.
Otak yang kekurangan cairan bekerja kurang efisien, sehingga kontrol emosi menjadi lebih lemah.
Meski secara ilmiah terdapat faktor biologis yang memengaruhi emosi, Islam justru menjadikan puasa sebagai sarana pengendalian diri.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.”
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Tujuan puasa adalah mencapai ketakwaan, salah satunya melalui pengendalian emosi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan pula berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya, hendaklah ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan amarah.
Baca juga: Bacaan Niat Puasa Ramadhan 1447 H, Ini Waktu dan Tata Caranya
Agar puasa tetap berkualitas, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Pertama, memilih menu sahur yang seimbang. Karbohidrat kompleks, protein, serat, dan lemak sehat membantu menjaga kestabilan gula darah.
Kedua, menjaga kualitas tidur. Jika waktu malam terbatas, tidur siang singkat dapat membantu memulihkan energi.
Ketiga, memperbanyak zikir dan doa. Dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 disebutkan:
“Alā bidzikrillāhi tathma’innul-qulūb.”
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
Keempat, mencukupi cairan saat berbuka hingga sahur untuk mencegah dehidrasi.
Merasa lebih mudah marah saat puasa bukanlah tanda kegagalan spiritual. Ada faktor biologis yang memang memengaruhi kondisi tersebut.
Namun, justru di sinilah letak ujian dan nilai ibadah puasa. Ia melatih kesabaran di tengah kondisi tubuh yang berubah.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga membentuk karakter. Ketika seseorang mampu menahan amarah dalam kondisi fisik yang menantang, di situlah makna pengendalian diri menemukan bentuknya.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya soal perut yang kosong, tetapi hati yang penuh ketenangan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang