Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ren Muhammad

Pendiri Khatulistiwamuda yang bergerak pada tiga matra kerja: pendidikan, sosial budaya, dan spiritualitas. Selain membidani kelahiran buku-buku, juga turut membesut Yayasan Pendidikan Islam Terpadu al-Amin di Pelabuhan Ratu, sebagai Direktur Eksekutif.

Meruwat Modernitas dengan Ramadan

Kompas.com, 19 Februari 2026, 14:13 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DARI sekian banyak tinjauan para sarjana Islam selama satu setengah milenium, Ramadan telah dibahas dari hampir setiap sudut—mulai dari mistisisme, teologi pahala, sains autofagi, hingga dampak ekonomi pasar kaget.

Namun, ada lapisan yang jarang disentuh: Ramadan sebagai “interupsi sistemik” dalam kehidupan modern. Ia bukan sekadar kalender ibadah, melainkan jeda masif yang membuktikan bahwa manusia masih memiliki tombol kendali atas sistem yang mendiktenya sepanjang tahun.

Selama ini, literatur Ramadan cenderung terbelah antara dua kutub: pahala dan eskatologi di satu sisi, serta manfaat kesehatan di sisi lain. Padahal, ada lapisan ketiga—fenomena sosio-psikologis ketika umat manusia secara kolektif menghentikan “mesin” peradaban industri yang linear dan masuk ke ritme yang lebih organik dan manusiawi.

Baca juga: Cahaya Ramadhan, 30 Ribu Lampu LED Hiasi Jantung Kota London

Bagi para pemikir Tradisionalis seperti Syeikh Abdul Wahid Yahya, Frithjof Schuon, dan Seyyed Hossein Nasr, dunia modern adalah “kerajaan kuantitas” yang kehilangan poros sakralnya.

Ramadan, dalam sudut pandang ini, bukan hanya jeda biologis. Ia adalah rekonsiliasi dengan Yang Transenden di tengah puing-puing desakralisasi dunia.

Manusia modern, kata mereka, hidup dalam “eksil spiritual”—terputus dari akar metafisika dan terjebak dalam rutinitas mekanistik yang profan. Jika dunia modern adalah mesin raksasa yang bergerak linear menuju kelelahan eksistensial, maka Ramadan adalah interupsi vertikal.

Ia bukan sekadar ritus, melainkan momen ketika hegemoni materi runtuh dan manusia kembali kepada fitrah primordialnya.

Estetika Lapar dan Ketajaman Jiwa

Transformasi Ramadan dimulai dari skala mikroskopis: tubuh dan otak manusia.

Saat tubuh beralih dari pembakaran glukosa ke keton, fokus mental sering kali menajam. Gangguan internal dari sistem pencernaan mereda, memberi ruang bagi indra luar untuk beresonansi lebih kuat.

Tak heran, suara tilawah di kejauhan atau dentang piring menjelang berbuka terasa lebih emosional. Kita mengalami apa yang bisa disebut sebagai “estetika rasa lapar”—keindahan yang lahir dari kekosongan, bukan konsumsi.

Dalam bahasa Frithjof Schuon, ini adalah “alkimia pengosongan”. Perut yang kosong membuka ruang batin yang lebih luas. Kita tak lagi sekadar melihat dunia, tetapi mulai menyaksikan ayat-ayat yang sebelumnya tertutup oleh kabut konsumerisme.

Efek individual ini kemudian meledak menjadi fenomena urban yang kolosal.

Jika kota dipandang sebagai organisme hidup, Ramadan adalah fase pembalikan metabolisme. Puncak aktivitas berpindah dari jam kantor ke waktu sahur dan menjelang magrib. Kota “bernapas” paling kencang saat dunia seharusnya tidur.

Seyyed Hossein Nasr menyebut kota modern sebagai ruang yang terdesakralisasi. Ramadan melakukan “re-enchantment”—menghidupkan kembali mantra sakral di ruang beton.

Dalam sebulan, kota membuktikan bahwa ia bisa hidup di luar dikte sembilan-ke-lima. Produktivitas ekonomi bukan lagi satu-satunya poros. Ritme ibadah kolektif mengambil alih.

Pemberontakan terhadap Waktu Linear

Modernitas memenjarakan manusia dalam waktu linear (chronos)—detik yang harus produktif.

Ramadan memperkenalkan kembali waktu kualitatif (kairos). Satu jam menjelang berbuka terasa lebih berat, lebih lambat, lebih bermakna. Kita dipaksa menunggu. Dan dalam menunggu, ada penyerahan diri.

Jutaan orang bangun, makan, dan berhenti makan pada detik yang sama. Isolasi individu runtuh. Kita bergerak dalam satu napas waktu komunal.

Menunggu berbuka bukan sekadar menunggu makanan, melainkan latihan kesabaran metafisika—antisipasi terhadap “pertemuan” yang lebih besar.

Interupsi Ramadan merambat hingga ruang siber.

Sebelas bulan lain, algoritma media sosial memanen kemarahan. Namun selama Ramadan, terjadi semacam gencatan senjata siber. Pengguna cenderung menghindari debat kusir demi menjaga kualitas ibadah.

Fenomena ini bisa disebut sebagai “halalifikasi digital”—sensor mandiri kolektif tanpa komando pusat. Sebuah upaya merebut kembali kedaulatan jiwa dari penjajahan algoritma.

Dalam perspektif Tradisionalis, ini adalah bentuk eksorsisme kolektif: memutus rantai distraksi dan kembali pada keheningan.

Setiap interupsi yang indah meninggalkan luka saat berakhir.

Literatur sering merayakan Idul Fitri, tetapi jarang membahas kekosongan setelahnya. Ketika struktur sahur-buka, kehangatan tarawih, dan ketajaman sensorik tiba-tiba ditarik kembali, banyak orang mengalami disorientasi emosional.

Post-Ramadan Blues bukan sekadar rindu lapar, melainkan nostalgia akan kondisi jiwa yang lebih sakral dan teratur.

Kembali ke rutinitas “normal” terasa seperti kembali ke mesin tak berjiwa. Melankolia itu adalah pengakuan bahwa jiwa merasa lebih hidup saat dunia diinterupsi oleh ritme ilahiah.

Menjadi Manusia Primordial

Ramadan adalah pengingat bahwa manusia bukan sekadar unit produksi dan konsumsi.

Kita adalah makhluk sensorik yang butuh keheningan, makhluk sosial yang butuh ritme bersama, dan makhluk spiritual yang butuh jeda dari kebisingan.

Baca juga: Setelah Arab Saudi, Ini Daftar Negara yang Mulai Ramadhan 19 Februari 2026 Selain Indonesia

Dengan kacamata Tradisionalis, Ramadan adalah proyek restorasi kemanusiaan. Upaya tahunan agar manusia tidak berubah menjadi robot organik.

Ia tidak datang untuk sekadar mengubah jadwal, tetapi untuk mengubah siapa yang memegang kendali atas jadwal tersebut: mesin di tangan kita, atau jiwa di dalam diri kita.

Ramadan mengingatkan bahwa di balik kulit modernitas yang serba cepat dan berisik, masih ada pusat yang diam—tempat manusia kembali menjadi hamba yang bergetar hatinya, khusyuk dalam keheningan, dan merdeka dalam pengabdian kepada Sang Khalik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com