KOMPAS.com – Kota London kembali bersinar menyambut Ramadhan 1447 Hijriah. Ratusan ribu cahaya lampu LED menghiasi kawasan West End, menghadirkan nuansa hangat di tengah udara musim semi Inggris.
Peresmian dekorasi dilakukan langsung oleh Wali Kota London, Sadiq Khan. Dengan menekan tombol simbolis, Khan menyalakan instalasi cahaya bertuliskan “Happy Ramadan” yang membentang di salah satu pusat keramaian kota tersebut.
Tradisi tahunan ini bukan sekadar hiasan kota. Ia telah menjadi simbol pengakuan terhadap keberagaman serta kontribusi komunitas Muslim di Inggris.
Baca juga: Sambut Ramadhan 1447 H, Raja Salman Doakan Palestina dan Perdamaian Dunia
Mengutip laporan dari Middle East Eye, instalasi tahun ini terdiri dari sekitar 30.000 lampu LED yang membentuk ornamen geometris khas seni Islam.
Pendanaan dekorasi berasal dari Aziz Foundation, lembaga filantropi yang fokus pada pemberdayaan pendidikan dan kepemimpinan Muslim di Inggris.
Program pencahayaan Ramadhan di London pertama kali digelar pada 2023. Saat itu, London tercatat sebagai kota besar pertama di Eropa Barat yang menghadirkan dekorasi lampu khusus Ramadhan di ruang publik utama.
Menurut laporan The New Arab, perayaan ini bertujuan memperkuat kohesi sosial dan merayakan keberagaman budaya di ibu kota Inggris.
Instalasi cahaya dijadwalkan menyala sepanjang bulan suci. Menjelang akhir Ramadhan, tulisan akan berubah menjadi “Happy Eid” untuk menandai Idul Fitri.
Baca juga: 30.000 Lampu Ramadhan Terangi West End London, Wali Kota Sadiq Khan Serukan Persatuan
Dalam sambutannya, Sadiq Khan mengajak seluruh warga—Muslim maupun non-Muslim—untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum mempererat persatuan.
Ia menekankan pentingnya solidaritas di tengah meningkatnya ketegangan global dan kasus Islamofobia di berbagai negara.
London, menurutnya, dapat menjadi contoh kota yang menjunjung nilai inklusivitas dan kebersamaan.
Sebagai kota dengan populasi Muslim yang signifikan, London mencerminkan wajah Islam yang hidup berdampingan dengan berbagai komunitas agama lain, mulai dari Kristen, Yahudi, Hindu, hingga masyarakat tanpa afiliasi agama.
Dalam buku Islam in Britain: Religion, Politics and Identity karya Sophie Gilliat-Ray dijelaskan bahwa identitas Muslim di Inggris berkembang seiring proses integrasi sosial dan partisipasi publik yang semakin luas. Perayaan Ramadhan di ruang kota menjadi bagian dari ekspresi identitas tersebut.
Ramadhan sendiri memiliki makna spiritual yang mendalam. Allah SWT berfirman:
Syahru Ramadhānal ladzī unzila fīhil-Qur’ān hudal linnāsi wa bayyinātim minal hudā wal furqān
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang ibadah individual, tetapi juga momentum menghadirkan nilai rahmat bagi seluruh manusia.
Dalam konteks masyarakat modern, simbol cahaya sering dimaknai sebagai harapan dan pencerahan.
Hal ini sejalan dengan tradisi lampu Ramadhan di berbagai negara, seperti fanous di Mesir atau mahya di Turki.
Dalam buku The Venture of Islam karya Marshall G.S. Hodgson disebutkan bahwa ekspresi budaya dalam Islam kerap berkembang mengikuti dinamika sosial tanpa kehilangan esensi spiritualnya.
Baca juga: Malaysia Tetapkan Awal Puasa Ramadhan 1447 H pada 19 Februari 2026
Dekorasi Ramadhan di London menunjukkan bagaimana kota global dapat merangkul identitas religius sebagai bagian dari ruang publik.
Fenomena ini juga mencerminkan perubahan lanskap Eropa dalam memandang keberagaman agama.
Jika dahulu ekspresi keagamaan cenderung bersifat privat, kini ia tampil terbuka sebagai bagian dari wajah kota.
Khan bahkan mengajak umat Muslim untuk menjadikan bulan suci ini sebagai kesempatan mendoakan masyarakat terdampak konflik di berbagai belahan dunia, termasuk Sudan, Gaza, dan Ukraina.
Pesan tersebut menegaskan dimensi universal Ramadhan sebagai bulan kepedulian, empati, dan solidaritas lintas batas.
Lampu-lampu LED yang menggantung di West End mungkin hanya menyala selama satu bulan. Namun maknanya melampaui sekadar instalasi visual. Ia adalah simbol pengakuan, dialog, dan harapan.
Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan, cahaya Ramadhan di London menjadi pengingat bahwa nilai-nilai spiritual dapat menemukan tempatnya di ruang publik modern.
Ramadhan 1447 Hijriah pun hadir, tidak hanya di masjid dan rumah-rumah, tetapi juga di jantung kota global menerangi jalan, sekaligus menghangatkan hati.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang