Editor
KOMPAS.com – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menegaskan bahwa pesantren merupakan kekuatan besar yang berakar di tengah masyarakat dan menjadi fondasi sosial ekonomi masa depan Indonesia.
Menurut Gibran, saat ini terdapat lebih dari 42 ribu pondok pesantren dengan lebih dari 11 juta santri di seluruh Indonesia.
“Ini bukan sekadar angka. Ini adalah kekuatan sosial ekonomi masa depan yang tumbuh dari tradisi dan semangat perjuangan,” ujarnya dalam Instagram Gibran, @gibran_rakabuming.
Ia menekankan bahwa pesantren adalah warisan peradaban tempat ilmu dan akhlak bersatu. Dari pesantren lahir tokoh bangsa, pejuang kemerdekaan, ulama, pemimpin umat, hingga entrepreneur penggerak ekonomi masyarakat.
Contoh konkret, kata Gibran, terlihat dari unit usaha digital printing milik Pondok Pesantren Edy Mancoro di Semarang yang produknya digunakan perusahaan di Belanda. Hal itu membuktikan pesantren mampu menembus pasar internasional.
Baca juga: Menjaga Ruang Kritis di Pondok Pesantren Cipasung lewat Bahtsul Masail
Di era kemajuan teknologi, Gibran berharap pesantren juga melahirkan santri yang menguasai pertanian modern, peternakan modern, robotik, blockchain, dan kecerdasan buatan (AI).
“Santri harus menjadi pencipta peluang dan pelopor inovasi tanpa kehilangan jati diri dan nilai akhlak,” tegasnya.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, lanjut Gibran, berkomitmen menjadikan pesantren bagian dari Agenda Pembangunan Nasional. Salah satu langkah strategis adalah pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren untuk memperkuat tata kelola dan mendorong transformasi pesantren sebagai motor inovasi dan ekonomi lokal.
Menanggapi pernyataan Wapres, Khodimul Majelis Dzikir Ponpes Cipasung, KH Deni Sagara, menyampaikan apresiasi mendalam. Ia melihat pernyataan Gibran sarat dengan pandangan teologis dan spiritual.
“Di pesantren, manusia diajarkan mengenal dirinya. Manusia itu ibarat satu titik. Kalau hanya satu titik, ia sendiri. Tapi ketika ada dua titik, lahirlah garis. Tiga titik menjadi segitiga. Semakin banyak titik, lahirlah ruang dan waktu,” ujar KH Deni kepada Kompas.com, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, kesadaran akan posisi diri adalah inti ajaran pesantren. Manusia, katanya, tidak boleh merasa paling besar.
“Indonesia boleh punya pemimpin besar. Dunia punya negara-negara besar. Tapi siapakah mereka? Dalam ajaran pesantren, tidak ada yang besar. Yang Maha Besar hanyalah Allah, Sang Pencipta semesta alam,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa kekuasaan bersifat sementara. Presiden berganti, pejabat bergilir, zaman berubah.
“Setiap hari tidak akan pernah terulang hari kemarin. Maka yang penting bagaimana kita menata masa depan,” katanya.
KH Deni menilai, jika seseorang mengenal dirinya sebagai manusia yang hidup sementara, maka ia akan memahami perannya.
“Kalau dia pedagang, jadilah pedagang yang baik. Kalau wartawan, jadilah wartawan yang amanah. Kalau teknokrat, jalankan tugasnya dengan benar. Orang yang mengenal dirinya tidak akan memaksakan diri merasa paling pintar, paling besar,” ujarnya.
Ia menambahkan, pesantren sejak dulu mengajarkan ketawadhuan, kesabaran, dan proses bertahap. Di tengah arus digital dan teknologi yang serba instan, nilai-nilai ini justru menjadi penyeimbang.
“Teknologi penting, tapi jangan sampai kita didikte lingkungan. Biarkan Tuhan yang menuntun. Kalau manusia memaksakan diri mengikuti hawa nafsu dan tekanan lingkungan, hidup jadi lelah,” katanya.
Dalam tausiyahnya, KH Deni juga mengutip pepatah Tiongkok untuk menegaskan bahwa tidak ada kesulitan yang abadi:
Rén de yīshēng, méiyǒu yīwèi de kǔ, méiyǒu yǒngyuǎn de tòng, méiyǒu màibùguò de kǎn, méiyǒu chuǎngbùguò de guān.
Artinya, dalam hidup tidak ada kesusahan yang terus-menerus, tidak ada penderitaan yang abadi, tidak ada rintangan yang tak bisa diatasi.
“Pesantren mengajarkan kesabaran, dzikir, sholawat, dan kajian kitab kuning. Dari situlah bangsa ini dulu melawan penjajah dengan senjata iman dan keyakinan,” ujarnya.
Ia pun menilai pernyataan Wapres Gibran sebagai pengingat penting bagi bangsa.
“Mas Gibran sudah mengingatkan seluruh bangsa Indonesia untuk kembali melihat pesantren sebagai masa depan. Kami sangat mengapresiasi,” kata KH Deni.
Di tengah dinamika global yang menekankan kekuatan teknologi dan rasionalitas, KH Deni menegaskan bahwa harmoni antara ilmu, iman, dan inovasi adalah kunci.
“Kalau kita bisa membangun irama yang indah antara kemajuan teknologi dan nilai spiritual pesantren, maka pesantren benar-benar menjadi masa depan Republik Indonesia,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang