Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

130 Ukiran Unta 12.000 Tahun Ungkap Kehidupan Arab Setelah Zaman Es

Kompas.com, 24 Februari 2026, 21:39 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Sekitar 12.000 tahun lalu, kelompok pemburu-peramu pemberani menembus kerasnya gurun Arabia.

Mereka bertahan hidup berkat oasis musiman—genangan air sementara yang juga didatangi hewan liar. Namun mereka tidak sekadar bertahan.

Di tebing-tebing batu, mereka meninggalkan jejak monumental: lebih dari 130 ukiran hewan berukuran asli yang kini ditemukan para arkeolog di Gurun Nafud, Arab Saudi bagian utara.

Penemuan ini membuka bab penting yang lama terlupakan. Selama puncak Zaman Es terakhir (sekitar 20.000 tahun lalu), wilayah pedalaman Arabia dikenal sangat kering dan nyaris tak berpenghuni.

Baca juga: Jejak Kekeringan dan Lahirnya Islam: Studi Baru Ungkap Peran Iklim dalam Sejarah Arab

Tetapi ketika iklim mulai menghangat, danau-danau dangkal musiman (playa) muncul antara 16.000–13.000 tahun lalu. Genangan ini menciptakan “koridor air tawar” yang memungkinkan manusia bergerak, berburu, bahkan menetap sementara di tengah lanskap tandus.

Di tiga lokasi utama—Jebel Arnaan, Jebel Mleiha, dan Jebel Misma—arkeolog mendokumentasikan 176 ukiran pada 62 panel. Sekitar 72 persen figur yang dapat diidentifikasi adalah unta liar, disusul ibex, kuda dan keledai liar, serta gazel.

Hewan-hewan ini adalah fauna khas yang ditemui penghuni gurun saat itu, jauh sebelum domestikasi ternak dikenal.

Salah satu panel paling spektakuler berada di Jebel Misma: 23 ukiran unta dan equid berukuran asli membentang sepanjang 23 meter di tebing setinggi 39 meter.

Untuk mendokumentasikannya, peneliti harus menggunakan drone karena tepian batu tempat seniman purba berdiri—hanya selebar 30–50 sentimeter—kini terlalu rapuh dan berbahaya. Kondisi ekstrem ini menunjukkan bahwa karya tersebut bukan coretan biasa, melainkan tindakan simbolik yang sarat makna dan perencanaan.

Temuan artefak memperkaya kisahnya. Para peneliti menemukan mata panah tipe El Khiam dan bilah Helwan—“sidik jari budaya” khas komunitas Natufian dan Neolitik awal di Levant (kini mencakup Yordania, Israel, dan Suriah).

Bukti ini menandakan adanya kontak lintas wilayah ratusan kilometer jauhnya. Bahkan ditemukan manik-manik batu hijau dan dua manik dari cangkang Dentalium—moluska laut—yang menunjukkan jaringan pertukaran jarak jauh.

Semua ini menggambarkan komunitas pemburu-peramu yang sangat mobile, bergerak mengikuti musim dan ketersediaan air. Mereka mungkin adalah generasi pertama yang kembali menghuni pedalaman Arabia pasca-Zaman Es.

Baca juga: Salju Turun di Arab Saudi, Jabal Al Lawz Berubah Jadi Negeri Musim Dingin

Berbeda dengan komunitas Neolitik Levant yang memahat figur manusia dan membangun struktur komunal, para perintis Arabia ini mengekspresikan identitasnya lewat seni hewan monumental—terutama unta, simbol ketahanan dan kelangsungan hidup di gurun.

Selama lebih dari 12.000 tahun, para “penjaga batu” ini diam menyimpan rahasia. Kini, ukiran-ukiran itu akhirnya mengungkap bahwa gurun yang dulu dianggap tak layak huni pernah menjadi panggung kreativitas dan ketangguhan manusia purba.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar