Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BBPOM DKI Ungkap Ciri-ciri Takjil Mengandung Bahan Berbahaya, Simak Cara Mengenalinya

Kompas.com, 27 Februari 2026, 12:33 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Selama Ramadhan, masyarakat kerap membeli aneka takjil untuk berbuka puasa.

Tidak hanya membuat takjil sendiri di rumah, beberapa memilih untuk membeli agar lebih praktis.

Namun, keamanan pangan takjil perlu menjadi perhatian agar terhindar dari bahan berbahaya. Dalam hal ini, pengawasan rutin pun terus dilakukan oleh otoritas terkait.

Baca juga: DPR Desak BPOM Razia Kurma yang Mengandung Sirup Glukosa dan Pengawet Tanpa Label

Ciri-ciri Takjil Mengandung Bahan Berbahaya

Dilansir dari Antara, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan DKI Jakarta (BBPOM DKI) mengingatkan masyarakat untuk mengenali ciri-ciri makanan takjil yang mengandung bahan berbahaya, seperti pewarna tekstil dan formalin.

Ciri Takjil Mengandung Pewarna Tekstil

Kepala BBPOM DKI Jakarta, Sofiyani Chandrawati, menjelaskan bahwa makanan yang menggunakan pewarna tekstil umumnya memiliki warna sangat cerah atau mencolok.

"Karena kalau pewarna makanan, biasanya kalau kena panas itu pudar," kata Sofiyani di Jakarta Pusat, Jumat.

Menurutnya, pewarna makanan yang aman cenderung memudar saat terkena panas. Sebaliknya, pewarna tekstil biasanya tetap tajam dan tidak berubah meski dipanaskan.

Sebelumnya, pada Kamis (26/2), BBPOM DKI menemukan satu dari 27 sampel makanan takjil di Sentra Takjil Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, yang diduga mengandung pewarna tekstil.

"Dari total 27 sampel, ada satu kue bolu kukus diduga menggunakan pewarna tekstil," ungkap Sofiyani.

Kue bolu tersebut langsung diamankan, dan pedagang diberikan edukasi agar dapat mengenali serta memilih bahan pangan yang bebas dari zat berbahaya seperti rhodamin b dan methanyl yellow.

Rhodamin b merupakan pewarna sintetis berbentuk serbuk merah keunguan yang jika dilarutkan akan berwarna merah terang dan lazim digunakan dalam industri tekstil dan kertas.

Sementara methanyl yellow adalah pewarna sintetis berwarna kuning kecokelatan berbentuk padat atau serbuk yang biasa digunakan untuk mewarnai kain atau cat.

Kedua zat tersebut berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan iritasi saluran pencernaan, gangguan fungsi hati, gangguan kandung kemih, hingga kanker.

Ciri Takjil Mengandung Formalin

Selain pewarna tekstil, BBPOM DKI juga mengingatkan bahaya penggunaan formalin pada produk pangan seperti tahu.

"Kalau tahu, ditekan lembek, biasanya tidak menggunakan formalin. Kalau yang menggunakan formalin itu, dari baunya saja sudah tercium, bahkan bisa perih matanya, mual juga," ujar Sofiyani.

Ia menjelaskan, tahu yang mengandung formalin biasanya terasa keras saat ditekan dan memiliki bau menyengat yang dapat menyebabkan mata perih atau mual.

Imbauan Agar Konsumen Teliti Cek Kemasan dan Izin Edar

BBPOM DKI mengedukasi masyarakat agar lebih teliti dalam memilih makanan berbuka puasa. Konsumen diimbau memperhatikan kondisi kemasan, label, izin edar, dan masa kedaluwarsa produk sebelum membeli.

"Ingat cek kemasan, label, izin edar dan masa kedaluwarsa," tutur Sofiyani.

Sofiyani menegaskan, BBPOM DKI terus melakukan pengawasan pangan takjil selama Ramadhan untuk memastikan kelayakan konsumsi saat berbuka puasa.

Berdasarkan data pengawasan sentra takjil dan ritel modern pada 2025, BBPOM DKI menguji 147 sampel. Hasilnya, enam sampel atau 4,1 persen tidak memenuhi syarat, sedangkan 141 sampel atau 95,9 persen dinyatakan memenuhi syarat dan layak konsumsi.

Masyarakat diimbau tetap waspada dan selektif memilih pangan takjil agar ibadah Ramadhan tetap aman dan sehat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com