Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH. Imam Jazuli, Lc. MA
Akademisi dan Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Merevitalisasi Dakwah NU: Menuju Substansi, Meninggalkan Gebyar Seremonial

Kompas.com, 1 Maret 2026, 12:07 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SATU abad Nahdlatul Ulama (NU) telah berlalu. Selama kurun waktu tersebut, dakwah NU, yang bercirikan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), berhasil merawat tradisi dan menjaga keindonesiaan. Namun, memasuki abad kedua, kita perlu melakukan jeda sejenak untuk berefleksi kritis.

Ada sebuah pemandangan yang tak jarang kita temui: maraknya dakwah panggung, gebyar seremonial dan pengajian akbar, dengan persiapan yang amat melelahkan, namun seringkali minim manfaat substansial bagi peningkatan kualitas hidup umat.

Dakwah di era milenium pertama NU banyak bertumpu pada pendekatan kultural-tradisional, di mana peringatan kematian (tahlilan), haul, dan tradisi serupa menjadi sarana utama. Tidak ada yang salah dengan merawat tradisi. Namun, saat format ini dominan, dakwah cenderung hanya menjadi tontonan, bukan tuntunan.

Baca juga: Dakwah NU di Abad Kedua: Menavigasi di Tengah Badai Kesenjangan Digital

Panggung megah dengan sound system yang canggih dan aneka konsumsi seringkali tidak sebanding dengan output edukasi yang dihasilkan. Umat berkumpul, berzikir, mendengarkan ceramah, lalu pulang tanpa membawa solusi konkrit atas permasalahan sehari-hari: kemiskinan, pendidikan rendah, atau ketidakmampuan beradaptasi dengan teknologi. Dakwah semacam ini terancam menjadi ritual hampa yang terpisah dari realitas kontemporer.

Pemberdayaan dan Edukasi

Tradisi ritual—seperti peringatan kematian (tahlilan), haul, dan perayaan hari besar—adalah jangkar spiritual yang menjaga akar kultural NU.

Kita tidak sedang menafikan pentingnya ritual tersebut. Namun, kita harus kritis melihat kecenderungan dakwah yang berhenti pada aspek konsumtif-seremonial.

Seringkali, sumber daya ekonomi umat yang besar terserap habis untuk menyewa panggung dan konsumsi satu malam, sementara di sudut desa yang sama, kemiskinan ekstrem, stunting, dan putus sekolah masih menghantui.

Dakwah panggung cenderung bersifat searah dan efemeral (sementara); jemaah pulang membawa berkah batin, namun tetap tidak berdaya secara sosial-ekonomi.

NU abad kedua harus bertransformasi. Dakwah tidak lagi cukup hanya berfokus pada pelestarian tradisi (maintenance), tetapi harus beralih ke pemberdayaan (empowerment). Dakwah harus mencerahkan dan memberikan solusi praktis.

NU perlu menggeser anggaran seremonial menjadi program pemberdayaan umat. Dakwah harus masuk ke kantong-kantong kemiskinan, memberikan pelatihan keterampilan, dan solusi ekonomi.

Fokus dakwah diantaranya juga perlu diarahkan pada peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. Menjawab persoalan kontemporer seperti keadilan ekologis, kesehatan mental, dan literasi digital.

Sebab, generasi muda tidak lagi berkumpul di panggung-panggung tradisional. Pemanfaatan platform digital untuk menyebarkan konten yang relevan, singkat, dan mudah dipahami menjadi sebuah keharusan, bukan lagi pilihan.

Sekali lagi, substansi dakwah di era modern tidak lagi cukup hanya menyentuh aspek ritual dan akidah secara teoritis, melainkan harus mampu menjawab tantangan riil yang dihadapi umat dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan-pesan agama perlu dikontekstualisasikan ke dalam ranah yang lebih luas, mulai dari ketahanan keluarga melalui pola parenting yang tepat, hingga kemandirian ekonomi lewat semangat entrepreneurship.

Ketika materi dakwah mencakup aspek-aspek krusial ini, agama akan dirasakan kehadirannya sebagai solusi konkret bagi problematika sosial dan kemanusiaan, bukan sekadar pelipur lara di atas mimbar.

Untuk mewujudkan transformasi tersebut, diperlukan standarisasi kompetensi bagi para penggeraknya melalui program training dan sertifikasi pendakwah yang komprehensif. Langkah ini bukan bertujuan untuk membatasi ruang syiar, melainkan untuk memastikan bahwa setiap pendakwah memiliki bekal keilmuan yang multidisiplin dan pemahaman kebangsaan yang utuh.

Dengan kurikulum yang mencakup isu-isu kontemporer, pendakwah tidak hanya akan menjadi figur yang diikuti ucapannya, tetapi juga menjadi agen perubahan yang profesional dan mumpuni dalam membimbing masyarakat menuju tatanan kehidupan yang lebih sejahtera, inklusif, dan berkelanjutan.

Kurikulum Dakwah yang Terstruktur

Masalah dakwah saat ini sering kali berakar pada pendekatan konvensional yang membosankan dan kurangnya penguasaan substansi ilmu, sehingga dibutuhkan transformasi kurikulum dakwah yang terstruktur, jelas capaian kompetensinya, dan mengintegrasikan ilmu fiqih, tasawuf, serta filsafat secara komprehensif.

Solusi substansial ini diwujudkan melalui metode pembelajaran interaktif, seperti studi kasus berbasis role-playing fiqih muamalah, diskusi filsafat Islam kontemporer, dan meditasi tasawuf, yang dikemas dalam bentuk gamification atau narasi visual yang menyenangkan. Dengan perombakan kurikulum yang menarik namun berbobot ini,

Maka SDM dai akan meningkat drastis dalam wawasan intelektual dan spiritual, mengubah dakwah dari rutinitas seremonial menjadi gerakan edukatif yang mencerahkan dan relevan dengan tantangan zaman.

Dalam konteks efektivitas, NU barangkali perlu "bercermin" pada pola dakwah kelompok lain, seperti Salafi, yang seringkali memiliki keunggulan dalam hal keterprograman. Dakwah mereka cenderung terstruktur, memiliki kurikulum, dan target yang jelas, bahkan sampai pendampingan ke arah kehidupan ideal berkeluarga dan ekonominya.

Baca juga: Ketum Anwar Iskandar: MUI Wajib Isi Ruang Digital dengan Dakwah

Jika NU ingin mendigdayakan dakwah di abad kedua, kita tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan holistik berbasis panggung. Diperlukan kurikulum dakwah yang terstandar, pengaderan dai-dai yang melek teknologi, dan target pencapaian kualitas umat yang terukur.

Revitalisasi dakwah NU bukan untuk meninggalkan tradisi, melainkan menjiwainya dengan substansi. NU abad kedua siapapun nahkodanya harus berani melangkah dari sekadar "dakwah gebyar" menuju "dakwah pemberdayaan dan subtantif." Yaitu dakwah yang membuat umat tidak hanya paham akhirat, tetapi juga mulia hidupnya di dunia. Sebab bagaimanapun kemulian akhirat tergantung hidup di dunianya. Wallahu'alam bishawab.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com