Penulis
KOMPAS.com-Sejumlah negara di kawasan Timur Tengah menutup ruang udara menyusul meningkatnya situasi keamanan regional.
Penutupan ini berdampak pada kedatangan dan keberangkatan penerbangan internasional, termasuk rute yang berkaitan dengan perjalanan jemaah umrah.
Pemerintah Indonesia memastikan kondisi di Arab Saudi tetap aman dan terkendali. Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah langsung melakukan langkah mitigasi untuk mengantisipasi potensi keterlambatan maupun pembatalan penerbangan.
Baca juga: Eskalasi Keamanan Timur Tengah Ganggu Penerbangan Umrah, 58.873 Jamaah Indonesia Terpantau
Negara yang menutup ruang udara meliputi Qatar, Uni Emirat Arab (UAE), Bahrain, Kuwait, Irak, dan Suriah. Kebijakan ini diberlakukan untuk penerbangan masuk maupun keluar wilayah masing-masing negara.
Arab Saudi bersama Oman, Yordania, dan Lebanon masih mengoperasikan penerbangan secara terbatas dengan status waspada. Operasional dilakukan dengan penyesuaian mengikuti perkembangan situasi keamanan kawasan.
Pemerintah memastikan situasi dan kondisi di wilayah Arab Saudi hingga saat ini tetap aman dan terkendali. Aktivitas umum masyarakat berjalan normal dengan peningkatan kewaspadaan sesuai standar keamanan yang berlaku.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas serta memastikan kegiatan ibadah, termasuk umrah, tetap berjalan sesuai ketentuan.
Baca juga: Situasi Timur Tengah Memanas, KBRI Riyadh Imbau WNI di Arab Saudi Tingkatkan Kewaspadaan
Potensi keterlambatan atau pembatalan penerbangan akibat penutupan ruang udara dikhawatirkan menyebabkan jemaah umrah tertahan (stranded) di bandara. KUH Jeddah bergerak cepat menyiapkan langkah mitigasi guna meminimalkan dampak bagi jemaah Indonesia.
Staf Teknis Urusan Haji KUH Jeddah, Muhammad Ilham Effendy, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah antisipatif secara intensif.
“KUH telah membentuk tiga tim yang bekerja dalam tiga shift dan disebar di tiga titik bandara, yakni Terminal 1, Terminal 2 (eks Saudia), dan Terminal Haji. Langkah ini untuk memastikan pendampingan dan koordinasi berjalan optimal bagi jemaah yang terdampak perubahan jadwal penerbangan,” ujar Muhammad Ilham Effendy di Jeddah, Sabtu (28/2/2026), dalam rilis yang diterima KOMPAS.com.
Tim tersebut bertugas melakukan pendampingan langsung, membantu koordinasi dengan maskapai, serta memastikan kebutuhan jemaah yang terdampak tetap terpenuhi.
KUH Jeddah juga membuka komunikasi intensif dengan maskapai penerbangan, travel penyelenggara, serta syarikah atau mitra travel di Arab Saudi.
Koordinasi dilakukan untuk mencari solusi terbaik bagi jemaah yang tertunda kepulangannya akibat pembatalan atau penyesuaian jadwal penerbangan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya mitigasi dampak penutupan ruang udara di sejumlah negara Timur Tengah terhadap perjalanan umrah.
Baca juga: Ribuan Jemaah Umrah Tertahan di Bandara, Serangan AS-Israel ke Iran Picu Pembatalan Penerbangan
KBRI Riyadh mengeluarkan imbauan kepada seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) di Arab Saudi agar tetap tenang dan tidak panik menghadapi dinamika situasi keamanan kawasan.
WNI diminta untuk terus memantau perkembangan informasi resmi dari otoritas setempat dan perwakilan Republik Indonesia.
Pemerintah Indonesia melalui perwakilan di Arab Saudi terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan otoritas terkait guna memastikan keamanan, keselamatan, dan kenyamanan jemaah umrah Indonesia tetap terjaga.
Masyarakat juga diimbau tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan selalu merujuk pada sumber resmi pemerintah terkait situasi keamanan serta kebijakan penerbangan di kawasan Timur Tengah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang