Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH Imam Jazuli Lc MA
Akademisi dan Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Dakwah NU di Abad Kedua: Menavigasi di Tengah Badai Kesenjangan Digital

Kompas.com, 19 Februari 2026, 22:39 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

NAHDLATUL Ulama (NU) telah menapakkan kakinya di abad kedua. Sebuah pencapaian sejarah yang luar biasa, di mana fondasi tradisi Aswaja An-Nahdliyah berhasil dirawat melintasi zaman.

Namun, memasuki milenium kedua, tantangan yang dihadapi tidak lagi sekadar fisik-kultural, melainkan teknologis-ideologis.

Salah satu tantangan paling mendesak dan krusial bagi NU saat ini adalah kesenjangan digital. Dunia dakwah kini tidak hanya berada di atas mimbar masjid atau surau pesantren.

Kiblat audiens telah beralih ke layar kaca digital: smartphone, media sosial, dan platform konten instan.

Baca juga: Pesantren di Abad Kedua NU: Berani Berubah atau Tetap di Pinggiran Kekuasaan?

Tragisnya, dalam kecepatan siber, konten-konten moderat yang mengusung Islam wasathiyah (moderat) seringkali kalah cepat dibanding narasi ekstrem dan radikal.

Narasi ekstrem seringkali disajikan dalam kemasan visual yang bombastis dan menarik, menyasar generasi muda yang membutuhkan jawaban agama secara cepat, instan, namun mendalam.

Kebutuhan umat, khususnya Nahdlin akan bimbingan agama yang solutif di era digital ini belum sepenuhnya terpenuhi oleh gerakan dakwah konvensional yang cenderung lambat dan kurang adaptif.

Strategi Kebudayaan Cyber

Kesenjangan digital bukan hanya soal siapa yang punya akses internet dan siapa yang tidak. Dalam konteks NU, ini adalah gap kemampuan antara narasi moderasi yang berakar pada khazanah kitab kuning dengan kecepatan narasi ekstrimisme di ruang siber.

Jika narasi moderat kalah cepat, maka ruang publik maya akan didominasi oleh pemahaman yang kaku, eksklusif, dan mudah menyalahkan, yang pada akhirnya mengancam keharmonisan beragama.

Solusi ke depan adalah jihad literasi digital. NU perlu membangun ekosistem di mana setiap Nahdliyin adalah agen moderasi.

Jika narasi ekstremisme adalah virus di ruang siber, maka konten moderasi yang estetis dan mendalam adalah vaksinnya.

Penguatan literasi digital bukan lagi sekadar pelatihan teknis, melainkan bagian dari "riyadhah" masa kini. Konten-konten kreatif yang menarik harus menjadi garda terdepan untuk merebut kembali narasi yang sempat tercuri.

NU harus membuktikan bahwa bimbingan agama yang mendalam tidak harus kaku, dan yang instan tidak harus dangkal.

Maka NU perlu terus proaktif dan berkelanjutan. Teknologi digital harus dimanfaatkan secara masif untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi dan Aswaja An-Nahdliyah.

Penguatan literasi digital di kalangan nahdliyin tidak bisa ditawar lagi. Lebih jauh, NU harus melahirkan "Ulama Digital".

Sosok tersebut bukan hanya sekadar santri yang mahir bahtsul masail secara tekstual-konvensional, tetapi mereka yang juga cakap dalam bahtsul masa'il kontemporer di dunia maya.

Ulama Digital adalah mereka yang mampu menerjemahkan rumitnya fiqih, ushul fiqih, dan tasawuf ke dalam bahasa konten digital yang ringan, menarik, namun tetap berakar pada sanad keilmuan yang valid.

Abad kedua NU adalah era di mana himmah (semangat) harus bertemu dengan hikmah digital. Keberhasilan NU menjaga umat (Nahdliyin) bergantung pada seberapa proaktif kita menghuni ruang siber.

Saatnya mentransformasi tradisi menjadi konten yang menginspirasi, memastikan bahwa di setiap sudut internet yang bising, suara moderasi yang menyejukkan tetap terdengar nyaring.

Baca juga: PBNU Pulihkan Gus Yahya sebagai Ketua Umum, Tegaskan Islah Tuntas

Sudah saatnnya NU untuk menunjukkan bahwa merawat tradisi (al-muhafazhah 'ala al-qadimi al-shalih) dan mengambil hal baru yang lebih baik (al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah) dapat dilakukan secara simultan melalui layar-layar digital.

Jadi siapapun nakhoda PBNU, melawan narasi ekstrem di ruang siber adalah bentuk jihad modern, di mana konten moderat yang menarik adalah senjatanya. Wallahu'alam bishawab.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com