KOMPAS.com – Setiap memasuki pertengahan bulan Ramadan, umat Islam mengenang sebuah peristiwa agung dalam sejarah Islam, yaitu turunnya Al-Qur’an atau yang dikenal sebagai Nuzulul Quran.
Peristiwa ini diyakini terjadi pada 17 Ramadan, yang pada tahun 1447 Hijriah bertepatan dengan 7 Maret 2026.
Momen tersebut tidak hanya dipahami sebagai catatan sejarah, tetapi juga menjadi pengingat penting tentang fungsi Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia.
Baca juga: 12 Doa dari Alquran untuk Kebaikan Dunia dan Akhirat, Lengkap dengan Arab dan Artinya
Pendakwah Adi Hidayat menjelaskan bahwa Nuzulul Quran merupakan peristiwa luar biasa yang menjadi titik awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW.
Penjelasan itu disampaikan dalam kajian yang diunggah melalui kanal YouTube Adi Hidayat Official, yang menekankan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual, melainkan panduan hidup yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia.
Secara bahasa, Nuzulul Quran berarti “turunnya Al-Qur’an”. Peristiwa ini merujuk pada saat pertama kali wahyu Allah SWT diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril.
Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad adalah Surat Al-Alaq ayat 1–5, yang dimulai dengan perintah membaca.
Peristiwa tersebut terjadi ketika Nabi Muhammad SAW sedang berkhalwat di Gua Hira. Sejak saat itu, wahyu Al-Qur’an turun secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun.
Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya peristiwa tersebut dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, yang menyebutkan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.
Ayat tersebut berbunyi:
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”
Menurut Ustaz Adi Hidayat, penegasan turunnya Al-Qur’an di tengah rangkaian ayat tentang puasa menunjukkan betapa pentingnya peristiwa tersebut dalam kehidupan umat Islam.
Ia menjelaskan bahwa ayat-ayat tentang puasa dalam Surat Al-Baqarah tersusun dari ayat 183 hingga 187, dan di tengah rangkaian itulah Allah menegaskan peristiwa turunnya Al-Qur’an.
Baca juga: Peringatan Nuzulul Qur’an 2026 Digelar di Istana Negara, Arahan Presiden Prabowo
Dalam penjelasannya, Ustaz Adi Hidayat menekankan bahwa fungsi utama Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami dan dijadikan pedoman hidup.
Menurutnya, Al-Qur’an menjelaskan perjalanan hidup manusia secara menyeluruh, mulai dari kelahiran hingga kehidupan setelah kematian.
Ia menggambarkan bahwa Al-Qur’an membimbing manusia dalam berbagai fase kehidupan: bagaimana manusia menjalani hidup di dunia, menentukan pilihan yang benar, hingga menghadapi kematian dan kehidupan setelahnya.
“Tujuan utama Al-Qur’an adalah sebagai pedoman kehidupan bagi seluruh manusia tanpa terkecuali,” ujarnya dalam kajian tersebut.
Penjelasan ini juga sejalan dengan pandangan para sarjana Islam.
Dalam buku “Ulumul Qur’an” karya Manna’ Khalil Al-Qattan, dijelaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai kitab suci, tetapi juga sebagai sumber hukum, petunjuk moral, serta panduan spiritual bagi umat manusia.
Sementara itu, dalam buku “Pengantar Studi Al-Qur’an” karya Al-Kindi, disebutkan bahwa Al-Qur’an hadir untuk membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya kebenaran.
Pada malam Nuzulul Quran, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Salah satu doa yang sering dianjurkan untuk dibaca adalah doa memohon ampunan:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.
Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku.”
Doa lain yang juga sering dibaca pada malam tersebut adalah doa yang berkaitan dengan kemuliaan Al-Qur’an:
Allahumma nawwir quluubanaa bi tilaawatil Qur’an, wa zayyin akhlaaqanaa bijaahil Qur’an, wa hassin a’maalanaa bidzikril Qur’an, wa najjinaa minan naari bi karaamatil Qur’an, wa adkhilnal jannata bi syafaa’atil Qur’an.
Artinya: “Ya Allah, sinari hati kami dengan membaca Al-Qur’an, hiasi akhlak kami dengan kemuliaan Al-Qur’an, perbaiki amal kami dengan dzikir Al-Qur’an, selamatkan kami dari api neraka dengan kemuliaan Al-Qur’an, dan masukkan kami ke surga dengan syafaat Al-Qur’an.”
Baca juga: Kapan Malam 17 Ramadan 2026? Ini Sejarah dan Amalan Nuzulul Qur’an
Selain berdoa, terdapat beberapa amalan yang dianjurkan dilakukan oleh umat Islam pada malam Nuzulul Quran.
Amalan paling utama tentu saja membaca Al-Qur’an. Karena peristiwa yang diperingati adalah turunnya kitab suci tersebut.
Membaca Al-Qur’an di malam Nuzulul Quran menjadi bentuk penghormatan sekaligus upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tidak hanya membaca, umat Islam juga dianjurkan untuk mentadabburi atau memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an.
Dalam buku “Tafsir Al-Misbah” karya M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa tadabbur Al-Qur’an berarti merenungkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya agar dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Shalat malam atau qiyamul lail menjadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada malam Ramadan, termasuk saat Nuzulul Quran.
Ibadah ini diyakini memiliki keutamaan besar karena dilakukan pada waktu yang penuh keberkahan.
Amalan lain yang dianjurkan adalah melakukan i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid untuk beribadah, berdzikir, dan merenungkan hubungan dengan Allah SWT.
I’tikaf membantu seseorang lebih fokus beribadah serta menjauhkan diri dari kesibukan dunia.
Baca juga: Sejarah Singkat Nuzulul Quran: Peristiwa Turunnya Wahyu Pertama kepada Nabi Muhammad SAW
Di berbagai daerah, malam Nuzulul Quran sering diperingati melalui kegiatan seperti pengajian, tabligh akbar, hingga kajian Al-Qur’an di masjid.
Namun, para ulama mengingatkan bahwa inti dari peringatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan upaya menghidupkan kembali hubungan umat Islam dengan Al-Qur’an.
Dalam pandangan banyak ulama, Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang tetap relevan sepanjang zaman.
Karena itu, peringatan Nuzulul Quran seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, baik dengan membacanya, memahami maknanya, maupun mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, malam Nuzulul Quran bukan hanya menjadi pengingat sejarah turunnya wahyu pertama, tetapi juga ajakan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya yang menuntun kehidupan manusia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang