KOMPAS.com – Setiap kali gema takbir berkumandang menyambut Idul Fitri, tidak sedikit umat Islam yang merasakan getaran emosi yang sulit dijelaskan.
Sebagian orang bahkan meneteskan air mata saat mendengar lantunan takbir yang menggema dari masjid, televisi atau lingkungan sekitar.
Rasa haru itu muncul secara alami. Setelah menjalani ibadah selama sebulan penuh di bulan Ramadan, umat Muslim seakan sampai pada sebuah titik refleksi, antara rasa syukur, kerinduan, dan harapan agar dapat kembali dipertemukan dengan Ramadan pada tahun berikutnya.
Fenomena emosional ini bukan sekadar kebiasaan atau tradisi tahunan. Dalam perspektif spiritual dan psikologi Islam, perasaan haru saat Lebaran memiliki makna yang jauh lebih dalam, berkaitan dengan proses penyucian jiwa, pengalaman spiritual, serta hubungan sosial yang terbangun selama Ramadhan.
Baca juga: Mudik Lebaran Aman: 8 Obat yang Wajib Dibawa dan Bacaan Doa Safar
Idul Fitri secara harfiah berarti kembali kepada fitrah atau kesucian. Hari raya ini menandai berakhirnya perjalanan spiritual selama Ramadan, ketika umat Islam berusaha menahan diri dari hawa nafsu sekaligus memperbanyak ibadah.
Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa tujuan puasa adalah agar manusia mencapai derajat takwa, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 185.
Menurut ulama dan pemikir Muslim klasik Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, emosi manusia tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga bagian dari perjalanan jiwa menuju penyucian diri (tazkiyatun nafs).
Al-Ghazali menjelaskan bahwa ibadah yang dilakukan dengan kesadaran spiritual dapat membersihkan hati dari sifat-sifat negatif seperti kesombongan, iri hati, dan kemarahan.
Ketika Ramadan berakhir, seseorang yang telah berusaha menjalani proses tersebut sering merasakan kelegaan sekaligus haru.
Ada rasa syukur karena mampu melewati bulan suci, tetapi juga ada kerinduan karena momen spiritual yang intens itu akan berakhir.
Baca juga: Hukum Penukaran Uang Baru Pinggir Jalan Jelang Lebaran, Bolehkah dalam Islam?
Malam menjelang Idul Fitri dikenal dengan tradisi takbiran, yaitu melantunkan kalimat Allahu Akbar sebagai ungkapan kebesaran Allah. Tradisi ini memiliki dimensi spiritual yang kuat.
Takbir bukan hanya seruan kemenangan setelah berpuasa, tetapi juga ekspresi syukur kepada Allah yang telah memberikan kekuatan untuk menahan diri selama Ramadan.
Dalam kajian psikologi agama, pengalaman seperti ini sering disebut sebagai peak experience, yaitu pengalaman emosional yang sangat mendalam ketika seseorang merasa dekat dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Konsep ini dipopulerkan oleh psikolog humanistik Abraham Maslow.
Beberapa sarjana Muslim kemudian mengaitkan teori tersebut dengan pengalaman religius dalam Islam.
Psikolog Muslim Malik Badri, misalnya, menjelaskan dalam bukunya Contemplation: An Islamic Psychospiritual Study bahwa pengalaman spiritual dalam ibadah dapat menimbulkan perasaan damai, haru, dan kedekatan dengan Tuhan.
Dalam konteks Lebaran, lantunan takbir sering memicu pengalaman emosional yang mendalam karena menjadi simbol berakhirnya perjalanan spiritual selama Ramadan.
Selain dimensi spiritual, Lebaran juga memiliki makna sosial yang kuat. Hari raya ini identik dengan berkumpul bersama keluarga, bersilaturahmi, serta saling memaafkan.
Bagi banyak orang, momen ini membawa kenangan masa kecil, suasana rumah yang ramai, hidangan khas Lebaran atau kebersamaan dengan orang tua dan kerabat.
Dalam psikologi, kenangan positif seperti ini dapat memicu emosi nostalgia yang membuat seseorang merasa hangat sekaligus haru. Nostalgia sering kali menghadirkan campuran perasaan bahagia dan rindu terhadap masa lalu.
Namun, Lebaran juga bisa menghadirkan rasa kehilangan. Tidak sedikit orang yang merasakan kesedihan karena anggota keluarga yang dulu selalu hadir kini telah tiada.
Dalam tradisi Islam, kerinduan tersebut biasanya diungkapkan dengan berziarah ke makam keluarga serta mendoakan mereka.
Aktivitas ini menjadi bagian dari proses spiritual untuk menerima kehilangan sekaligus menjaga hubungan emosional dengan orang-orang tercinta.
Baca juga: 30 Ucapan Lebaran 2026 untuk Pacar yang Romantis dan Menyentuh Hati
Salah satu ciri khas Lebaran di Indonesia adalah tradisi saling memaafkan. Kalimat “mohon maaf lahir dan batin” menjadi ungkapan yang hampir selalu terdengar pada hari raya.
Tradisi ini memiliki dampak psikologis yang signifikan. Dalam perspektif psikologi Islam, memaafkan bukan hanya tindakan moral, tetapi juga cara untuk membersihkan hati dari beban emosi negatif.
Dalam buku Fiqh Sunnah, ulama Mesir Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Hubungan sosial yang harmonis akan membawa ketenangan bagi individu maupun masyarakat.
Ketika seseorang meminta maaf atau memaafkan orang lain, ia melepaskan beban emosional yang mungkin selama ini tersimpan.
Proses ini sering memunculkan perasaan lega, haru, bahkan tangis yang muncul tanpa disadari.
Rasa haru saat Lebaran juga muncul karena kesadaran bahwa Ramadan adalah kesempatan istimewa yang belum tentu dapat dirasakan kembali.
Bulan suci ini hanya datang sekali dalam setahun, dan setiap Muslim tidak pernah tahu apakah ia akan dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya.
Karena itu, Idul Fitri sering dipandang sebagai momen refleksi, apakah ibadah yang dilakukan selama Ramadan sudah cukup baik dan apakah seseorang mampu mempertahankan kebaikan tersebut setelah bulan suci berakhir.
Dalam buku Membumikan Al-Qur’an, ulama tafsir Indonesia Muhammad Quraish Shihab menulis bahwa Idul Fitri adalah saat manusia kembali kepada kesucian.
Momentum ini seharusnya menjadi titik awal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah Ramadan.
Baca juga: Bingung Menulis Ucapan Lebaran? Ini Cara Membuat Kartu Idul Fitri Menarik dalam Hitungan Menit
Pada akhirnya, perasaan haru yang muncul saat Lebaran bukanlah tanda kelemahan. Justru sebaliknya, itu menunjukkan bahwa hati manusia masih terhubung dengan fitrah dan spiritualitasnya.
Gema takbir, kenangan keluarga, tradisi saling memaafkan, hingga refleksi setelah Ramadan berpadu menjadi pengalaman emosional yang mendalam.
Lebaran bukan hanya perayaan kemenangan setelah berpuasa. Ia adalah perjalanan batin yang mengingatkan manusia untuk kembali kepada Tuhan, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta mensyukuri setiap kesempatan yang diberikan dalam hidup.
Tidak heran jika setiap kali takbir berkumandang, hati terasa lembut dan penuh harapan. Sebab pada momen itulah manusia diingatkan untuk kembali kepada fitrah, menjadi pribadi yang lebih bersih, lebih damai, dan lebih dekat kepada Allah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang