Editor
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِي أَكْرَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْيَقِيْنِ، وَرَزَقَنَا صِيَامَ رَمَضَانَ وَقِيَامَهُ، وَبَلَّغَنَا يَوْمَ الْعِيْدِ وَإِتْمَامَهُ، نَحْمَدُهُ عَلَى الْفَضْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى جَزِيْلِ الْعَطَاءِ وَالْاِمْتِنَانِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ، وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Alhamdulillah, pada pagi yang penuh keberkahan ini kita dipertemukan dengan hari kemenangan, Idul Fitri 1447 Hijriah. Hari di mana kita kembali kepada fitrah, setelah ditempa selama sebulan penuh di Madrasah Ramadan.
Namun, jamaah sekalian, kemenangan sejati bukanlah sekadar berakhirnya lapar dan dahaga. Kemenangan hakiki adalah keberhasilan kita menyerap pelajaran Ramadan untuk membentuk diri menjadi manusia unggul—manusia yang memiliki iman kuat, akhlak mulia, dan kapasitas membangun peradaban.
Baca juga: 3 Contoh Khutbah Idul Fitri NU Menyentuh Hati dan Penuh Makna
Allah SWT memberikan gambaran tentang manusia unggul dalam Al-Qur’an:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا
“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.”
Ramadan adalah proses menanam akar itu—akar iman, ketakwaan, dan kedisiplinan. Jika akar ini kuat, maka cabang kehidupan kita—ilmu, karya, dan kontribusi—akan menjulang tinggi.
Secara ilmiah, Ramadan juga melatih self-regulation, kemampuan mengendalikan diri. Dalam studi psikologi modern seperti Marshmallow Test, kemampuan menahan diri terbukti lebih menentukan kesuksesan dibanding kecerdasan semata.
Artinya, umat yang dilatih Ramadan sejatinya adalah umat yang dipersiapkan untuk unggul.
Selama 30 hari, kita belajar menahan lapar, emosi, dan hawa nafsu. Maka setelah Ramadan, seharusnya kita menjadi pribadi yang:
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.
Namun, jamaah yang dimuliakan Allah,
Di tengah kebahagiaan ini, kita tidak boleh menutup mata terhadap realitas dunia. Kita menyaksikan ketidakadilan global, penderitaan di Gaza, dan konflik yang merusak nilai kemanusiaan.
Allah SWT telah mengingatkan:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
“Ketika dikatakan kepada mereka: jangan membuat kerusakan di bumi, mereka berkata: kami justru melakukan perbaikan.”
Inilah gambaran kemunafikan global hari ini.
Namun, jamaah sekalian, kita juga harus jujur melihat diri kita. Umat Islam yang besar ini masih terpecah, kehilangan persatuan, dan lemah dalam penguasaan ilmu serta teknologi.
Padahal, kebangkitan peradaban tidak ditentukan oleh jumlah, tetapi oleh kualitas manusia.
Oleh karena itu, solusi kita bukan sekadar emosi atau retorika, tetapi membangun manusia unggul:
Inilah generasi yang mampu mengubah sejarah.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Idul Fitri bukan garis akhir, melainkan garis awal.
Jika Ramadan adalah madrasah, maka kehidupan setelahnya adalah ujian sesungguhnya.
Kita harus membawa nilai Ramadan ke dalam:
Masyarakat unggul dibangun dari:
1. Budaya ilmu – mencintai belajar dan riset
2. Kemandirian ekonomi – disiplin dan produktif
3. Integritas sosial – bebas dari korupsi dan ketidakadilan
Sejarah membuktikan, peradaban besar lahir dari manusia yang unggul, bukan dari kekayaan semata.
Maka mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai momentum:
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.
اللهم اغفر لنا ذنوبنا، وتقبل صيامنا وقيامنا، واجعلنا من عبادك المتقين.
Ya Allah, terimalah amal ibadah kami di bulan Ramadan. Jadikan kami manusia yang memiliki iman kuat dan akhlak mulia.
Ya Allah, kuatkan saudara-saudara kami di Palestina. Berikan mereka keselamatan, kemerdekaan, dan kemenangan.
Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Tanda Puasa Diterima, Apakah Kita Masih Istiqamah Setelah Ramadhan?
Ya Allah, satukan umat Islam, hilangkan perpecahan di antara kami, dan jadikan kami umat yang kuat dan berperadaban.
Ya Allah, jadikan generasi kami generasi yang berilmu, berintegritas, dan mampu membawa perubahan.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Selamat Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin.
Artikel ini disadur dari Khutbah Idul Fitri berjudul "Ramadan, Keunggulan Manusia Muslim, dan Masa Depan Peradaban Islam" yang ditulis oleh Muhamad Rofiq Muzakkir (Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang